Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level kehidupan kita”

Ina Balasong (45) adalah sosok mompreneur berkarakter kuat, di balik bisnis retail beauty, BEAUTY BOX. Kemauannya yang gigih untuk mengubah nasib sejak SMA, menggiring Ina pada pencapaiannya sekarang, sebagai Managing Director Beauty Box Indonesia.

Hampir sejam tak terasa saya ngobrol dengan Mbak Ina, ibu dari Kaia (11). Pembawaannya yang ceria dan gemar ngobrol, membuat saya tak kesulitan menggali lebih dalam, bagaimana Mbak Ina bisa berjodoh dengan Sita Krings Noor, membangun usaha BEAUTY BOX.

Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita” - Mommies Daily

Salah satu hal menarik dan menjadi ciri khas dari perempuan penyuka warna merah ini adalah, dia sangat kenal dengan dirinya sendiri. Dari SMA, sudah tahu mau berapa lama kuliah, dan ketika usia berapa dia harus keluar dari zona aman. Hijrah dari Makassar kota kelahirannya, ke Jakarta.

Percaya atau tidak, Ina sempat mencicipi kerja di dunia perbankan selama 7 tahun, hingga akhirnya berhasil mengikuti mimpinya untuk mengubah nasib, melakukan sesuatu yang lebih, tidak hanya sekadar menerima gaji bulanan dari Bank tempat ia bekerja. “Saya nggak kepingin tinggal di daerah dan berakhir seperti orang lain yang berakhir bekerja di kantor pemerintahan, menurut saya life should be more interesting than that.”

Bagaimana awalnya bergerak di dunia beauty, sampai akhirnya membuat BEAUTY BOX?

Saya nggak pernah membayangkan kalau jalan hidup saya akan membawa saya pada industri kecantikan. Tapi dunia kecantikan adalah sesuatu yang sudah saya senangi dari dulu. Saya itu datang dari Makassar. Waktu saya pindah ke Jakarta tahun 2000, buat saya usia penentuan, ketika saya berusia 27 tahun. Artinya saya harus membuat perubahan dalam hidup. Perubahan itu sudah saya inginkan sejak lama, yaitu keluar dari Makassar. Alasannya sederhana, yaitu kepingin, melakukan sesuatu yang lebih. Saya nggak kepingin tinggal di daerah dan stuck bekerja di kantor pemerintahan, menurut saya life should be more interesting than that.

Bagi saya, Jakarta adalah tanah yang penuh dengan harapan dan kesempatan. Makanya saya sering berpikir, orang-orang yang masih muda harusnya bisa  melihat dan menghargai, bahwa di depan mereka itu, ada kesempatan yang besar, dan sayang sekali jika dilewatkan.

Terlibatnya saya di dalam dunia kecantikan, semacam serendipity. Saya ketemu dengan Ibu Sita Krings Noor yang sudah punya lisensi usaha Make Up For Ever dan Linea. Saat itu bahkan saya belum tahu ada brand Make Up For Ever. Dan tidak membayangkan ada  bisnis yang namanya retail industri. Saya kuliahnya di bidang hospitality. Saya lulusan BPLP Bali.

Waktu saya lulus SMA, saya putuskan untuk pergi ke Bali, dan sekolah dua tahun saja. Saya nggak mau sekolah terlalu lama, karena saya mulai produktif ketika usia 20-an. Jadi saya ambil kuliah D2. Waktu usia 20 dan akhirnya bekerja di hotel, saya sadar, tidak bisa lama bekerja di dunia perhotelan. Lalu saya sempat bekerja 7 tahun d Bank, karena saya pikir Bank itu industri yang terus berkembang sehingga saya aman di sini. Tapi begitu mendekati usia 27, saya pikir, saya nggak bisa jadi kasir terus-menerus di Bank. Saya harus melakukan sesuatu yang lebih dari sebelumnya.

Awalnya, saya pikir bekerja di industri retail, sangat menghabiskan waktu dan tak jarang bisa stress. Karena hitungannya menit. Namun di sisi lain, Tuhan sangat baik karena mempertemukan saya dengan partner kerja, dan orang-orang itu tidak bisa saya lupakan. Kalau untuk saya pribadi itu adalah Ibu Sita.

Selama 12 tahun mengelola brand Make Up For Ever, dan berada di posisi manajer, saya belajar, kalau kita mau kerja keras, kita pasti bisa meraih sesuatu. Tidak mudah memang, pasti ada jatuh bangunnya, tapi dengan passion, dan kemauan yang kuat pasti bisa. Di poin tertentu, kami memutuskan untuk menciptakan “rumah” baru.

Dan kami melihat potensi dunia retail makeup masih luas. Orang berani ke luar negeri hanya untuk belanja makeup dengan budget tiket pesawat murah. Di sini saya dan Ibu Sita melihat belum ada orang yang mengambil kesempatan itu. Dan orang-orang masih mencari brand-brand yang sudah terkenal saja.

Tahun 2012, saya dan Ibu Sita membawa Glamgow ke Indonesia, yang saat itu baru dijual di Jerman. Jadi memang banyak petualangan di dunia bisnis retail makeup. Satu hal yang dapat membuat saya dan Ibu Sita cocok sebagai partner kerja adalah saling percaya.

Apa sih yang harus dimiliki ketika seseorang mau menjadi mompreneur?

Yang pertama kita harus siap gagal, karena suatu saat kita pasti merasakan kegagalan. Dan ketika jatuh, juga harus tahu, langkah apa yang harus diambil. Kedua konsistensi, kita tidak bisa bergerak di dunia bisnis apapun, tanpa memiliki poin ini. Selanjutnya adalah, kesadaran, bahwa setiap pekerjaan butuh kerja keras.

Jadi strong mindset, determination, kesadaran siap gagal dan kemampuan untuk bangkit, itu harus dimiliki entrepreneur.

Tantangan terbesar menjadi mompreneur?

Waktu. Tapi saya juga tidak punya formula untuk mengatasinya, hahaha. Saya menjalaninya saja dari hari ke hari. Tapi saya sudah set, anak saya Kaia adalah prioritas utama, dan apa yang saya lakukan sekarang adalah untuk Kaia dan saya pribadi. Karena saya pikir, nggak bisa juga 100% untuk anak, sebagai perempuan juga harus punya kehidupan personal, ketemu teman, melakukan apapun yang kita suka.

Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita” - Mommies DailyImage: @inabalasong

Di tengah semua kesibukan, bagaimana caranya supaya tetap efisien?

Bagi waktu dengan baik, karena kan kita kerja ceritanya 8 jam. Selama itu, kita harus menggunakannya dengan baik, supaya produktif. Waktu saya nggak 100% di depan komputer, saya lebih banyak diskusi dengan tim, supaya mereka merasa nggak kerja sendiri.

Waktu untuk  melihat email saya batasi, pagi waktu saya datang. Habis itu saya tinggal, urus hal lain. Lalu kembali ngecek email sore. Mengusahakan menjawab email, dalam 1×24 jam. Kalaupun nggak bisa akan saya kabari dulu. Jadi semua bisa selesai dalam satu hari, dan nggak ada yang dibawa ke belakang, karena besok masalahnya akan beda lagi.

Meeting harus di-minimize, dan nggak harus berkumpul di suatu ruangan. Yang penting koordinasi. Yang paling nggak saya suka, sudah terjadi meeting, tapi kerjaannya tidak terjadi, itu bikin frustasi soalnya.

Supaya tetap fokus dalam pekerjaan?

Minum kopi pagi pas saya bangun tidur, dan setelah makan siang. Selain itu, saya tahu apa saja yang harus saya selesaikan dalam sehari. Dan disiplin diri yang tinggi, saya itu orangnya juga self starter, nggak perlu dikasih tahu orang lain. Biasanya saya juga punya to do list yang harus dilakukan keesokan harinya, walau bentuknya masih berantakan.

Sekian belas tahun berada di industri kecantikan, pandangan mbak tentang kesuksesan seperti apa?

Sukses itu menurut saya sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita. Maksudnya, seperti ini, waktu saya masih SMA bisa berhasil sampai Jakarta itu buat saya sudah sukses, waktu saya sudah sampai Jakarta dan mendapatkan pekerjaan, itu kesuksesan kecil. Saya menghargai itu dan bersyukur sama Tuhan.

Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita” - Mommies DailyImage: @inabalasong

Waktu sama menjalani bisnis ini dengan Ibu Sita, dan berhasil ada di titik penghasilan tertentu. Itu adalah sukses-sukses kecil yang menuju sukses besar. Sukses itu menurut saya adalah sebuah perjalanan, yang tergantung dari banyak elemen. Salah satu kesuksesan itu, adalah menyatukan elemen-elemen tersebut. Sudah punya segalanya (dari segi materi), tapi merasa kesepian, tidak punya sahabat dan tidak bisa melakukan apa yang disenangi. Jadi penting sekali bersyukur dengan pencapaian kita saat ini, setiap hari. Karena hidup dan bisnis itu sifatnya rapuh, kita dapat kehilangan segala sesuatunya kapan saja. Tapi menurut saya, perempuan sudah punya bekal yang cukup untuk menjadi pribadi yang kuat menghadapi rintangan.

Sejauh ini bagaimana peran keluarga atau pasangan mendukung karier kamu?

Saya memang bekerja sama dengan suami dan Ibu Sita. Jadi maksud saya, di pekerjaan saya melihat JC suami saja sebagai partner kerja, dan berusaha menjadi profesional. Saya nggak mau, masalah domestik terbawa ke pekerjaan. Kami sama-sama pekerja keras, mungkin karena bintangnya sama, Taurus! Makanya dari zaman pacaran, kalau ada yang melarang saya kerja, saya lebih rela putus daripada kehilangan pekerjaan. Karena untuk saya cinta itu seharusnya mendorong kita menjadi pribadi yang lebih baik, daripada seperti membatasi pasangan nggak bisa kemana-mana. Dan dalam pernikahan, juga seperti itu. Harus saling mendukung. Jadi dukungan keluarga itu 100% sangat berarti.

Bagaimana dengan anak Mbak, Kaia, apa pernah protes ibunya sibuk?

Anak saya juga mengerti bahwa saya bekerja. Jadi dia tidak pernah merasa dicuekin. Saya yakinkan Kaia, bahwa pekerjaan itu bukan momok yang harus ditakuti. Bahwa bekerja itu adalah untuk cari uang. Dan saya ngajarin dia, kalau dia mau menghasilkan, dia harus bekerja. Jadi Kaia itu di rumah, saya akan gaji dia, kalau dia nyuci piringnya sendiri dan membersihkan kamarnya sendiri. Karena Kaia harus mengerti dasarnya, bahwa bekerja bukan hanya bekerja kantoran seperti saya. Dia harus tahu, bekerja menggunakan tangannya. Saya bilang sama Kaia, ART di rumah bekerja untuk saya, bukan untuk dia. Karena gaji pembantu datang dari saya. Saya terapkan ini pelan-pelan dari Kaia usia 8 tahun.

Sekarang ini menurut saya, banyak orangtua yang membuat anak ketergantungan sama ART. Anak kita itu tidak diajari untuk membereskan sesuatu sehabis mereka melakukan sesuatu. Padahal hal-hal semacam itu, adalah kemampuan dasar dalam kehidupan yang harus dimiliki. Karena dalam bekerja, mereka juga harus punya kebiasaan baik itu. Kalau nggak, mereka nggak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Dan itu jadi masalah besar dewasa ini.

Tantangan atau ketakutan menghadapi Kaia yang sudah beranjak remaja?

Internet, pornografi. Tapi cepat atau lambat mereka harus menghadapi hal-hal semacam itu. Yang penting, kita orangtua harus selalu hadir saat mereka membutuhkan kita. Dan saya bilang saya Kaia, dia bisa bicara sama saya kalau mau bertanya apapun. Misalnya dia kan sudah mulai haid, saya bilang ke dia hati-hati, karena sudah bisa hamil. Memang belum detail, tapi dia harus mengerti bahwa ada risiko itu.

Nanti saat Kaia sudah besar, mbak dan pasangan ingin dianggap orangtua yang seperti apa?

Saya hanya kepingin dianggap orang yang baik, dan kepingin Kaia bahagia, karena menurut saya at the end of the day, apa yang sudah kita lakukan adalah untuk mencapai kebahagiaan. Jadi yang terpenting, bukan bagaimana Kaia melihat saya, karena saya tidak bisa mengontrol hal itu, tapi saya ingin memenuhi tanggung jawab saya sebagai ibu dan membuat dia menjadi pribadi yang bahagia.

Mbak Ina dan pasangan berarti kan, berbeda culture, bagaimana menanganinya?

Jangan memperlakukan pasangan sebagai hak milik tapi perlakukan sebagai individu. Dan pernikahan itu tidak membuat saya milik kamu, dan kamu milik saya. Karena ketika kita punya harapan itu, kita akan saling menuntut, kamu nggak bisa begini, nggak bisa begitu dan seterusnya. Ada sesuatu yang penting dalam pernikahan, yaitu loyalty. Dan ketika janji saling setia itu, ada yang melanggar. Kedua orang ini bisa memutuskan, mau ke arah mana mereka akan “pergi.” Mereka bisa memutuskan bisa bersama lagi, tapi dengan syarat, harus menerima perselingkuhan itu sudah terjadi. Atau mereka bisa berpisah.

Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita” - Mommies DailyImage: @inabalasong

Saya bukan orang yang bilang bahwa, karena sudah nikah suami saya harus pulang jam sekian, makan malam dengan saya. Saya tidak punya aturan semacam itu, saya nggak masalah kalau JC mau pergi sama temannya. Yang penting tugas utamanya tetap dijalankan. Kita itu pribadi yang dewasa, harus tahu kewajiban-kewajiban dan hak kita apa, dan apa yang harus kita lakukan, dan kapan melakukannya.

Saya sempat ngintip IG mbak Ina, sering juga ya traveling, boleh tahu alasannya?

Karena saya suka keluar dari Jakarta. Dan saya ingin membawa Kaia melihat sesuatu yang berbeda. Supaya Kaian mengerti, bahwa hidup itu nggak selalu dalam ruangan ber-AC, tapi ada dalam rumah kayu, kadang-kadang naik perahu. Dan harus siap terbakar matahari, dan bisa melihat contoh kehidupan dari orang lain, misalnya petani bakau. Yang menghabiskan seharian penuh, hanya untuk mendapatkan uang Rp 50.000. Supaya dia juga tidak terkungkung, seperti menggunakan kacamata kuda. Karena menurut saya traveling is the best teacher.

Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita” - Mommies DailyImage: @inabalasong

Saya membawa Kaia traveling semenjak dari bayi. Saya membawanya kemanapun saya traveling. Saya akan bawa dia, selama saya masih bisa, dan dia masih mau. Karena ada datang waktunya, Kaia nggak mau pergi sama mamanya.

Ina Balasong, “Sukses itu sesuatu yang berubah di setiap level dalam kehidupan kita” - Mommies DailyImage: @inabalasong

Apa travel itu juga ajang me time?

Iya. Me time saya yang lain, pagi dari jam 8-9, ketika saya makeup, ahahaha. Itu waktu paling favorit saya. Diiringi musik dan kopi. Itu 100% me time saya.

Bagaimana, pandangan kamu tentang seorang perempuan yang harus pandai mengapreasiasi diri sendiri, seperti yang sudah kamu lakukan dengan makeup, kopi dan musik kamu di pagi hari?

Sangat penting bisa memberikan apresiasi ke diri sendiri, karena kalau bukan dari diri sendiri, lalu dari siapa lagi? Dan itu semacam bola salju jika tidak dilakukan dari hari ke hari. Takutnya suatu saat kita merasa sudah malas melakukan apapun untuk mempercantik diri. Dan dandan itu tidak perlu berlebih, yang penting bersih.

Punya exercise yang rutin dilakukan?

Saya yoga, dan muay thai.

Kalau sedang merasa stuck dan bosan dengan pekerjaan, biasanya apa yang akan dilakukan?

Yang paling pertama adalah, bicara dengan partner kerja saya. Dan mengatakan apa yang saya rasakan, ke Ibu Sita dan JC. Karena perusahaan ini adalah milik kami bertiga, jadi segala sesuatunya harus disetujui bersama. Waktu kita merasa stuck, sangat penting punya support system, agak sulit ya kalau didapat dari teman-teman, karena mereka tidak tahu bagaimana keseharian kita melewatinya. Nah, yang mengerti adalah partner kerja kita.

Selain itu, ambil waktu liburan. Nggak terlalu lama, sehari atau dua hari saja. Untuk membersihkan pikiran saja. Misalnya ke Sukabumi, atau Bogor sama teman-teman.

Good luck Mbak Ina untuk karier dan kehidupan keluarga kamu. Salam kenal untuk Kaia, ya :)


Post Comment