Bolehkah MPASI Diberikan Sebelum 6 Bulan? (Boleh, Tapi…)

Ditulis oleh: dr. Meta Hanindita, SpA

Sempat agak malas menulis ini karena merasa useless. Melihat banyak ibu millennial yang sepertinya lebih percaya selebriti, blogger, selebgram dibanding dokter anak.

Saya sempat patah hati lho, duh sedih sekali melihatnya, lalu jadi baper. Ada gunanya nggak sih saya menulis di sini? #yangnulisgampangbapereaaaa. Namun setelah saya pikir-pikir lagi, walaupun mungkin yang membaca postingan ini hanya segelintir, saya masih bertanggung jawab memberikan edukasi kepada para orangtua dengan benar. Karena, sekali lagi, yang sedang happening dan tren belum tentu yang benar bukan?:D

Beberapa hari terakhir, sosial media sedang diramaikan dengan twit seorang dokter (I assumed he’s a surgeon?), kemudian diikuti pula oleh dokter-dokter lain, yang membahas mengenai seorang artis dan pola pemberian makannya kepada sang anak.

Jadi dokter tersebut mengecam sang seleb karena memberikan MPASI terlalu dini pada anaknya, diikuti oleh banyak ibu-ibu muda, yang berakibat banyak kasus operasi terlipatnya usus bayi karena pemberian MPASI terlalu dini.

Oke, kita bahas satu-satu yaaa.

Bolehkah MPASI Diberikan Sebelum 6 Bulan? (Boleh, Tapi...) - Mommies Daily

Pertama, apa sih yang dimaksud dengan pemberian MPASI terlalu dini?

Pemberian MPASI dikatakan terlalu dini jika diberikan sebelum 4 bulan.

Lho, berarti 4 bulan boleh?

Saya ajak semua yang baca ini flash-back sebentar. Coba tanya ibu atau nenek masing-masin, waktu kita kecil dulu, MPASI diberikan umur berapa? Walaupun saya yakin ada juga yang bilang umur 7 hari atau 40 hari, kebanyakan pasti menjawab 4 bulan. Kenapa? Karena memang beberapa belas tahun yang lalu, IDAI, WHO, AAP merekomendasikan pemberian MPASI sejak umur 4 bulan.

Lalu kenapa kok setelah 2012, diubah menjadi 6 bulan?

Karena ternyata berdasarkan penelitian, manfaat ASI eksklusif selama 6 bulan jauh lebih banyak dan lebih protektif dibandingkan dengan 4 bulan. Jadilah sekarang, baik WHO, IDAI, AAP merekomendasikan pemberian MPASI mulai usia 6 bulan. Tapi, saat ini pun ESPGHAN (European Society of Pediatric Gastrohepatology and Nutrition) merekomendasikan pemberian MPASI sesudah usia 17 minggu (baca: 4 bulan) dan sebelum 26 minggu. Apakah berarti dokter spesialis anak di Eropa “menyesatkan” anak-anak Eropa? Apakah semua anak Eropa pasti dioperasi usus? Kan nggak begitu ya:D

Jadi sekali lagi, bolehkah memberikan MPASI untuk bayi 4 atau 5 bulan?

Sebetulnya, selama ada tanda siap makan, boleh-boleh saja kok. Tanda siap makan itu apa saja?
– Sudah tegak kepala
– Sudah bisa duduk dengan bantuan
– Menunjukkan ketertarikannya dengan makanan. Kalau ada orang makan, ia ikut mengecap, misalnya.

Saat tepat pemberian MPASI sangat relatif untuk setiap anak karena tergantung dari kematangan oromotorik (biasanya baru siap sekitar 4-6 bulan), kematangan saluran cerna dan kematangan sistem imun yang biasanya memang baru siap sekitar 6 bulan.

Tapiiiiiiii, sekali lagi karena efek ASI eksklusif 6 bulan lebih besar dibandingkan dengan yang hanya 4 bulan, sabarlah sebentar. Toh penelitian membuktikan kalau pemberian MPASI umur 4 bulan dengan yang 6 bulan tidak ada perbedaan dalam hal kecukupan nutrisinya.

Makanya jangan heran kalau ada dokter spesialis anak yang meminta pasien anak memulai MPASInya usia 4 atau 5 bulan. Boleh saja selama ada tanda siap makan dan ada indikasi. Apa indikasinya? Misalnya ASI masih banyak, namun berat badan anak tidak naik dengan wajar. Selain ada tanda siap makan juga harus ada indikasi. Konsultasikan dulu kepada dokter spesialis anak sebelumnya.

Oh berarti mbak artis itu benar ya?

Kalau saya sih bukan mengkritisi pemberian MPASI saat 5 bulannya, tapi lebih ke cara pemberiannya yang menganut BLW alias Baby Led Weaning. Saya sempat membahas tuntas BLW ini di postingan sebelumnya.

Selain yang sudah ditulis di postingan tadi, apakah ada dampak BLW lainnya untuk anak?

Pada perkembangan anak, ada periode yang disebut dengan periode kritis untuk menstimulasi kemampuan makan anak, yaitu pada usia 6-9 bulan. Orangtua mungkin lebih aware perkembangan anak yang kasat mata seperti duduk, berdiri, berjalan, bicara, dll. Padahal makan juga perlu dilatih lho, terutama kemampuan oromotorik (otot dan syaraf di mulut). Bagaimana melatihnya? Dengan memberikan MPASI dengan tekstur yang sesuai perkembangannya, dan perlahan-lahan ditingkatkan konsistensi dan kekasarannya.

Apa yang terjadi kalau tidak dilatih?

Penelitian membuktikan, jika anak tidak dilatih dengan benar kemampuan oromotoriknya, pasti akan ada masalah makan di kemudian hari. Sesederhana suka mengemut makanan, melepeh makanan, tidak mau makan makanan kasar, picky eater, dan lain sebagainya. Akibatnya apa? Anak tidak mendapat makronutrien dan mikronutrien yang cukup, sehingga stunting deh! Soal stunting akan saya bahas berikutnya ya.

Pesan saya satu, di era globalisasi dan kecanggihan tekhnologi semacam sekarang, mencari informasi itu semudah mengetukkan jari di atas gadget. Tapi please be aware, not everything on google is true. Cari bagaimana yang benar ke ahlinya, yang memang bidangnya dan informasinya valid secara ilmiah.

Jadi ingat sebuah hadist,

Apabila satu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Wallahu a’lam bish-shawabi.

Meta Herdiana Hanindita adalah seorang dokter spesialis anak, konselor laktasi serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Sampai sekarang, staff divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini sudah menulis 6 buku termasuk Mommyclopedia, dan menulis di berbagai media. Silakan nikmati tulisan-tulisannya di www.metahanindita.com

*Tulisan ini sudah pernah tayang di www.metahanindita.com


Post Comment