Baby Led Weaning VS Responsive Feeding

Ditulis oleh: dr Meta Hanindita

Lagi ramai urusan memberikan makan untuk anak dengan cara BLW. Sebenarnya, boleh nggak sih metode BLW ini?

Saya yakin istilah Baby Led Weaning alias BLW ini tak asing untuk para mommies, apalagi di Indonesia banyak anak selebriti yang menjalani masa MPASI-nya menggunakan BLW :D.

BLW merupakan metode yang membiarkan bayi memimpin seluruh proses, menggunakan naluri, dan kemampuan mereka dalam hal menangani makanan. Sejak awal mendapat MPASI, bayi dibiarkan mengeksplorasi makanannya, termasuk memutuskan sendiri seberapa banyak yang akan ia makan. Tidak ada aktivitas suap-menyuap. Makanan yang diberikan pun tidak berupa bubur/puree tapi langsung dalam bentuk finger food (yang bisa dipegang oleh tangan bayi).

Kalau pemberian MPASI konvensional bayi diperkenalkan dengan makanan lunak kemudian perlahan-lahan teksturnya dinaikkan tingkat kekasarannya. Pada BLW, bayi diberikan potongan makanan lunak dalam bentuk dan ukuran yang dapat ia pegang sendiri (misalnya wortel kukus atau brokoli kukus). Bayi yang menentukan mulai berapa banyak yang ia makan sampai berapa lama waktu makannya.

Ada beberapa alasan mengapa metode ini diperkenalkan di negara maju seperti AS dan Inggris. Pertama, karena di negara-negara tersebut mulai ada tren pemberian MPASI sebelum 6 bulan. Nah, dengan BLW, harapannya sih orangtua dapat menunda pemberian MPASI. Selain itu, angka obesitas mulai meningkat. BLW diharapkan dapat melatih self-control anak untuk menentukan jumlah makanan yang dibutuhkan. Alasan lain BLW dianggap dapat membuat anak lebih dekat dengan keluarga dan membuat proses makan lebih menyenangkan sehingga diharapkan kelak anak jadi tidak sulit makan.

Benarkah ini? Kita bahas satu-satu yaa.

Pertama, soal jenis makanan pada BLW nih. Salah satu syarat MPASI yang baik menurut WHO adalah mencukupi kebutuhan anak, tak hanya makronutrien tapi mikronutrien, termasuk zat besi. Sekarang, pada BLW, makanan yang pertama kali diberikan adalah finger food seperti potongan wortel, kentang, brokoli, dan sejenisnya.

Coba dihitung. Contoh, anak laki-laki 6 bulan dengan berat 7 kg memiliki kebutuhan energi 770 kkal dan zat besi 11 mg/hari. Pada saat BLW diberikan makan 3x/hari berupa potongan kentang, brokoli dan potongan wortel, semua kukus.

Kebutuhan energi anak 770 kkal
Tercukupi dari ASI 539 kkal
—————————————————— -
Yang harus tercukupi dari MPASI 231 kkal

30 gram baby carrot mengandung 10,5 kkal energi dan 0.1 mg zat besi, 30 gram kentang kukus mengandung 14.6 kkal energi dan 0.1 mg zat besi, 30 gram brokoli kukus mengandung 10,5 kkal energi dan 0.2 mg zat besi. Seandainya dalam sehari bayi diberikan 3x MPASI dengan baby carrot (ini bahasa Indonesianya apa sih?:))) kukus, kentang kukus dan brokoli kukus , maka dengan BLW:

Energi yang tercukupi = (3×10,5kkal) + (3×14,6 kkal) + (3×10.5 kkal) = 108.8 kkal
Zat besi yang tercukupi = (3×0.1 mg) + (3×0.1 mg) + (3×0.2 mg) = 1.2 mg

Tidak tercukupi semua ya kebutuhannya? Padahal ini baru ngomongin soal kecukupan energi dan zat besi lho, belum protein, lemak, vitamin dll.

Kedua, mengenai tekstur MPASI. Pasti ada alasan dong MPASI pertama harus diberikan dalam tekstur lunak baru ditingkatkan bertahap?

Perkembangan bayi sehat yang normal, usia 4-7 bulan, baru bisa memutar lidah atas dan bawah untuk “mengambil”makanan dari sendok saat makan, menggerakkan lidah ke atas dan bawah, serta menelan makanan semi-solid alias lunak tanpa tersedak. Pemberian finger food baru dapat dilakukan setelah anak berusia 8 bulan karena pada saat itu rahang anak mulai dapat bergerak ke atas dan ke bawah secara berulang untuk mengunyah.

Kesimpulannya, pemberian finger food sebaiknya dilakukan di usia 8 bulan ke atas. Kemampuan oromotorik anak belum siap. Yaa bisa saja dipaksakan, tapi ada risikonya. Bayi cenderung memakan makanan dalam jumlah yang lebih sedikit, sehingga risiko gagal tumbuh jadi lebih tinggi. Risiko lain adalah adanya bahaya tersedak.

Baby Led Weaning VS Responsive Feeding - Mommies Daily

Metode pemberian makan yang bagaimana yang direkomendasikan?

IDAI merekomendasikan responsive feeding, bukan BLW. Responsive feeding adalah:

a. Memberikan makan pada bayi secara langsung (alias menyuapi) dan membantu anak yang lebih besar saat mereka makan sendiri. Sensitif terhadap tanda lapar dan kenyang anak.
b. Berikan makan perlahan. Dorong anak untuk makan, BUKAN dengan paksaan.
c. Jika anak menolak makanan, bereksperimenlah dengan kombinasi makanan yang berbeda rasa atau tekstur.
d. Minimalisir distraksi saat makan.
e. Waktu makan adalah masa belajar dan menunjukkan kasih sayang, bicara pada anak saat makan dengan kontak mata.

Untuk bayi yang berusia 6 bulan, jenis MPASI dimulai dengan bubur halus lembut yang cukup kental dan ditingkatkan kekasarannya secara bertahap. Setelah bayi berusia 8-9 bulan, maka dapat diberikan makanan yang dicincang halus atau disaring kasar, ditingkatkan kekasarannya sampai makanan bisa dipegang/diambil dengan tangan (finger foods). Lalu saat bayi berusia setahun, makanannya dapat disamakan dengan makanan keluarga.

Jadi sebenarnya boleh nggak sih BLW ini?

Lagi-lagi ini adalah pilihan masing-masing keluarga. Kalau menurut saya pribadi, boleh-boleh saja sih BLW tapi dikombinasi dengan metode konvensional. Jadi mulai 6 bulan ya tetap MPASI bertahap dan disuapi. BLW boleh dicoba saat anak berusia 8-9 bulan pada saat snack time. Misalnya anak 9 bulan kan makanannya berupa nasi tim dengan ayam dan sayur, makanan ini tetap diberikan dengan disuapi. Lalu, pada saat snack, berikan anak finger food dan biarkan ia makan sendiri.

Perlu diingat juga bahwa awalnya BLW ini digunakan di negara maju. Jangan disamakan dengan di Indonesia yang merupakan negara berkembang di mana potensi kematian bayi dan balita akibat malnutrisi masih tinggi, angka stunting tinggi dan angka anemia defisiensi besi pun tinggi.

Saya berharap semoga para orangtua masa kini benar-benar dapat mencari informasi valid (baca: ada evidence based alias bukti ilmiah) sebelum memutuskan sesuatu untuk anaknya. Jangan terpengaruh oleh tren kekinian yang masih belum jelas. Ingat, yang sedang kekinian belum tentu yang terbaik lho!

Semoga tulisan saya mengenai BLW dan metode konvensional ini dapat berguna demi kesehatan generasi penerus bangsa Indonesia. Merdekaaaa!

Meta Herdiana Hanindita adalah seorang dokter spesialis anak, konselor laktasi serta dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Sampai sekarang, staff divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak di RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini sudah menulis 6 buku termasuk Mommyclopedia, dan menulis di berbagai media. Silakan nikmati tulisan-tulisannya di www.metahanindita.com

*Tulisan ini sudah pernah tayang di www.metahanindita.com


Post Comment