Jangan Remehkan Obrolan Ibu-ibu, Kalau Sudah Bicara Politik Kelar Hidup Lo!

Self

fiaindriokusumo・19 Jan 2017

detail-thumb

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Percayalah, hari gini, perempuan itu nggak cuma tahu seputar mengurus anak, makeup dan (katanya) gossip. perempuan juga paham politik. Perempuan dan politik, kira-kira apa topik yang mereka bicarakan ya?

Tergelitik oleh pernyataan seorang Menteri bahwa ibu-ibu sebaiknya mengurangi jajan makeup dan gossip supaya bisa menanam cabe, membuat banyak wanita terutama yang aktif di dunia online buka suara.

“Si Bapak kira kerjaan kita 24 jam cuma dandan, sama ngegosip, kali ya?” gerutu ibu A di sebuah Whatsapp Group.

Lain lagi dengan komentar mama B di status media sosialnya, “Kenapa nggak diganti dengan pernyataan seperti ini: Kalau bapak-bapak meluangkan waktu merokoknya 5 menit saja untuk menanam cabe di rumah, masalah cabe selesai! Sexist ini menteri!”

Berjuta komentar, kebanyakan bernada kesal, dilontarkan pada Bapak Menteri melalui media sosial.

Hadirnya beragam media terutama media sosial memang memberikan kesempatan buat semua orang, tak terkecuali ibu-ibu untuk mengekspresikan pendapat tentang berbagai hal, termasuk politik.

10-15 tahun yang lalu, mungkin saja sebenarnya ibu-ibu juga sudah punya pendapat soal politik. Tapi karena keterbatasan media, nggak semua masyarakat (baca: pria) ngeh, kalau kita, wanita, ternyata punya pendapat yang nggak bisa diremehkan. Anggapannya, ya, ibu-ibu cuma tahu soal dapur, makeup, sama ngurus anak. Ish, sempit kali anggapannya, ya?

Jangan Remehkan Obrolan Ibu-ibu, Kalau Sudah Bicara Politik Kelar Hidup Lo! - Mommies Daily

Apa Saja yang Dibahas?

Baik saat jelang pilpres maupun pilkada, atau keluarnya kebijakan baru dari pejabat publik, ketika bicara soal politik, concern ibu-ibu tentu nggak jauh dari pendidikan anak, kebijakan ekonomi yang bisa memengaruhi pendapatan keluarga, dan tentu saja bagaimana pemerintahan bisa mengembangkan sumber daya wanita. Poin terakhir buat saya menarik.

Kebanyakan ibu-ibu kantoran terutama di kota metropolitan (di grup saya, dan sepertinya juga di grup lain) sudah mulai berpikir untuk menjadi pekerja paruh waktu. Dengan demikian waktu untuk anak dan keluarga bisa lebih fleksibel. Caranya? Salah satunya adalah dengan mendirikan usaha rumahan. Nah, ini sebenarnya bisa jadi bahan buat calon pemerintah daerah, atau pusat, untuk dimasukkan ke dalam programnya, ya, kan? Jadi jangan remehkan pendapat dan suara ibu-ibu. Dalam hal ini, kita punya banyak masukan, lho, demi pembangunan negeri.

Tidak dipungkiri, ada ibu-ibu yang tampil sebagai pengamat politik dadakan. Terlepas data yang dipakainya akurat, atau kurang akurat, buat saya ini tetap patut diapresiasi. Artinya, anggapan bahwa ibu-ibu cuma tahu makeup sama gossip bisa dipatahkan. ;)

Politik di Grup Messenger

Di mana saja, sih, ibu-ibu biasanya mengekspresikan pendapatnya soal politik? Selain media sosial, salah satu media lain yang juga jadi ‘korban’ tumpahan isi hati ibu-ibu, tentu saja di layanan messenger. Yang sedang banyak digunakan saat ini adalah Whatsapp Group. Satu ibu bisa punya minimal 5 grup. Grup arisan RT, grup orangtua murid tanpa wali kelas, grup kelas dengan nomor wali kelas di dalamnya, grup sahabat dekat, juga grup keluarga besar. Kalau si ibu bekerja kantoran, grupnya bisa nambah lagi.

Saya punya sebuah grup di WA messenger. Asyiknya, di grup ibu-ibu ini, walau sering ada perbedaan pendapat yang runcing soal politik, terutama jelang Pemilu, baik pilkada ataupun pilpres, kalau sudah menyangkut curhat soal anak, semua anggota grup kemudian urun tangan membantu mencarikan solusi. Atau misalnya berbagi info diskon minyak goreng di supermarket langganan. Tentu saja ini dengan catatan, anggota grup nggak pada baperan.

Karena Screencap Adalah Kunci

Komentar seorang istri Cagub yang kesal karena suaminya “di-bully” di sebuah akun media sosial temannya, menjadi viral, karena pembicaraan tersebut di-screen capture, dan kemudian disebarkan ke mana-mana. Ini, nih, sebagai ibu-ibu yang smart, kita harus hati-hati. Hati-hati yang pertama: pikir lagi 1000 kali, deh, sebelum kita mengungkapkan sesuatu di media sosial. Hati-hati yang ke dua: pikir lagi 10,000 kali sebelum kita meng-capture sesuatu dan kemudian menyebarkannya. Bisa-bisa kita kena sanksi UU ITE tentang informasi dan transaksi media elektronik. Buat saya, tindakan meng-capture dan menyebarkan seperti tindakan di atas sama sekali nggak perlu.

Nah, bagaimana dengan geng mommies?? Topik apa yang dibahas seputar Pilkada kali ini?