5 Penyebab Berat Badan Bayi Susah Naik

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Kenaikan berat badan bayi agar sesuai growth chart semacam susah-susah gampang bagi saya. Makanya, penting bagi ibu mengetahui penyebab berat badan bayi susah naik.

5 Penyebab Berat Badan Bayi Susah Naik - Mommies Daily

Meskipun Giavana (10 bulan) termasuk bayi dengan berat badan normal, namun memperjuangkan agar berat badan Gia terus berada di dalam growth chart yang benar, ya, susah-susah gampang. Apalagi bagi saya, working mother, yang harus kejar-kejaran dengan deadline ASIP dan deadline artikel (eeehhhh…curhat) hahahaha.

Kenaikan berat badan memang menjadi salah satu indikator untuk melihat kesehatan dan tumbuh kembang bayi secara menyeluruh. Saat bayi berusia 0-6 bulan, penambahan berat badan umumnya sangat pesat. Kemudian memasuki usia 6 bulan, banyak bayi yang kenaikan berat badannya sangat irit, atau bahkan tidak meningkat. Selain deg-degan saat ditanya dokter ketika jadwal imunisasi, hal lain yang membuat frustasi adalah pertanyaan dari tetangga, “Kok, bayinya sekarang kurusan.

Untuk melihat kenaikan berat badan sebetulnya harus dilihat dari berat badan bayi saat lahir. Selanjutnya, dilihat juga kecenderungan kenaikan berat badan bayi setiap bulannya. Selama penurunan berat badan tidak signifikan (turun drastis dari satu titik ke titik lainnya dalam growth chart) dan tidak berada di zona merah (berat badan lebih rendah dari berat badan rata-rata anak seusianya), maka bayi masih dianggap sehat.

Beberapa hal yang bisa menyebabkan berat badan bayi anteng di angka yang sama antara lain:

1. Bayi lebih aktif

Bayi yang berusia di atas 6 bulan biasanya akan lebih aktif. Ia sudah mulai belajar duduk dan merangkak. Aktivitas ini membutuhkan energi yang tak sedikit. Sehingga, bila asupan makan bayi hanya sedikit, maka energi yang ia peroleh dari makanan lebih banyak digunakan untuk beraktivitas daripada untuk tumbuh kembang. Bila dilihat dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) tahun 2013, bayi usia 6 bulan memang memerlukan energi 175 kilo kalori lebih banyak dibandingkan bayi di bawah 6 bulan. Untuk memenuhinya, bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI atau makanan padat yang lebih tinggi kandungan kalorinya.

Baca juga:

MIlestone Bayi Usia 0 – 12 Bulan

2. Tumbuh ke atas

Tumbuh kembang tidak melulu bertambah berat badannya. Bayi juga mengalami pertumbuhan pada panjang badan dan lingkar kepalanya (yang menandakan adanya pertumbuhan otak). Ada kalanya, dalam satu waktu tertentu, pertumbuhan lebih mengarah pada penambahan panjang badan. Sehingga saat melihat berat badan penambahannya hanya sedikit, namun panjang badannya bertambah banyak. Sehingga, cermati juga penambahan tinggi badan bayi saat melakukan pengukuran.

Baca juga:

Milestone Bayi Usia 12 – 24 Bulan

3. Makan dalam jumlah sedikit

MPASI memang salah satu fase belajar makan yang penuh tantangan. Hampir semua bayi pernah menolak MPASI yang sudah disediakan. Tak sedikit juga yang menolak MPASI dalam jangka waktu lama. Seharusnya bayi makan lebih banyak seiring bertambahnya usia, namun karena berbagai alasan banyak bayi yang justru makan lebih sedikit. Inilah sebabnya, mengenalkan makanan padat secara bertahap dan mematuhinya menjadi salah satu kunci keberhasilan pemberian MPASI. Selain bayi belajar untuk mengunyah, tekstur makanan yang lebih padat juga mengandung kalori lebih besar yang dibutuhkan anak. Jadi, jangan ragu untuk terus meningkatkan tekstur MPASI seiring dengan bertambahnya usia anak.

Baca juga:

Sumber Protein, Karbohidrat, Serat Untuk MPASI Perdana

4. Gastroesophageal reflux (GER)

Ini merupakan salah satu gangguan otot di antara saluran esofagus (menghubungkan kerongkongan dan lambung) dan perut yang masih longgar. Akibatnya anak sering mengalami muntah, baik saat minum ASI maupun saat makan pure. Seharusnya gangguan ini membaik dengan bertambahnya usia anak. Namun, bila tak kunjung membaik sebaiknya Anda segera berkonsultasi pada dokter.

Baca juga:

Surviving Baby Reflux Drama

5. Ada penyakit lain

Penyakit infeksi seperti TBC atau diare juga menjadi pemicu sulitnya penambahan berat badan. Satu-satunya cara mengatasi kondisi ini adalah menyembuhkan penyakitnya lebih dulu, baru kemudian bayi mendapatkan terapi untuk membantu meningkatkan berat badan.

Sampai saat ini berat badan Gia masih berada di garis normal. Namun, jangan salah, masalah makan tetap ada. Hihihi. Gonta-ganti menu dan memvariasikan bahan purenya menjadi salah satu siasat saya agar saya tidak ditolak. :D


Post Comment