9 Hal yang Baru Saya Tahu Setelah Menjadi Ayah

Oleh  : Doni Wahyudi

Kehidupan seorang pria berubah selamanya setelah menjadi orangtua. Saya pikir saya sudah menyiapkan segalanya dengan baik sebelum ‘mengemban’ status itu, tapi tetap saja menjadi orang tua memberi banyak sekali kejutan-kejutan.

Sebelum Bumi (6,5 tahun) lahir, satu hal yang saya tahu soal menjadi orang tua itu merupakan tugas yang maha penting. Itu saja. Ketika itu saya bukan termasuk tipe orang tua yang gemar membaca buku-buku parenting atau sibuk browsing tentang new baby born.

Dari pengalaman pribadi tersebut, dan juga testimoni teman-teman seperjuangan sebagai ayah, saya tahu kalau seberapapun banyak buku dibaca, forum diskusi diikuti, puluhan situs parenting dikunjungi, tidak ada yang benar-benar bisa menyiapkan kita menjadi seorang ayah. Banyak kejutan-kejutan dalam proses itu.

Ini daftar 9 hal yang baru saya tahu setelah menjadi seorang ayah:

9 hal yang baru saya tahu setelah jadi ayah_mommiesdaily

  1. Siapa Bilang Begadang Tak Ada Gunanya?

Saat masih kuliah saya bisa digolongkan sebagai makhluk nocturnal sejati. Begadang adalah hal lumrah ketika itu, dengan beragam aktivitas yang kalau dipikir-pikir sekarang membuat saya geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Tapi siapa bilang itu tidak ada manfaatnya? Kalau boleh saya klaim, itu merupakan proses adaptasi yang cukup baik sebelum menjadi ayah.

Ini adalah salah satu pelajaran pertama menjadi ayah. Begadang mungkin bukan perkara yang terlalu sulit buat banyak laki-laki. Tapi begadang sebenarnya baru tahap awal saja karena tantangan terbesarnya adalah ‘apakah kita masih berfungsi dengan baik di pagi hari setelah begadang?’ Satu (atau beberapa) cangkir kopi, kadang teh, membantu saya melewati malam yang panjang dan siang yang sibuk di kantor.

  1. Rasaya Saya Cukup Oke Jadi Guru

Tentu saja ada banyak hal yang saya banggakan dari Bumi. Berada di posisi paling atas daftar itu adalah kegemaran dia terhadap buku dan cepatnya kemampuan dia membaca. Saya dan istri tidak pernah memaksakan Bumi belajar membaca atau menyiapkan waktu khusus untuk itu. Kami punya beberapa trik yang mungkin layak dicoba. Pertama, membiasakan membacakan buku sebelum tidur. Kedua, membaca dengan suara keras beberapa teks singkat yang ada di rumah.

Setelah Bumi masuk SD sekitar empat bulan lalu, dia mulai mendapat pelajaran lebih banyak. Sejauh ini, sih, semuanya masih sangat dia kuasai. Karena sekolahnya tidak memberikan home work, cara belajar terbaik adalah dengan bermain-main. Itu yang saya dan istri lakukan sejauh ini.

  1. Saya Adalah Master Lego

Salah satu skill yang bertambah setelah menjadi ayah adalah kemampuan menyusun Lego. Setiap orang bisa menyusun apa saja mengikuti instruksi. Tapi saya dan Bumi menyimpan baik-baik instruksi itu di dalam kotaknya. Kami berkreasi dengan sepenuh-penuhnya dan membuat apa saja yang terlintas di kepala. Saya jamin hasilnya bisa membuat banyak orang terkesima. Ada motor masa depan yang tak memiliki roda namun punya sayap, lalu mobil patroli polisi dengan ban traktor, atau buldozer dengan senapan laser untuk membantu menghancurkan bangunan. Semua adalah masterpice kami berdua.

  1. I do not have endless patience

Sebelumnya saya berpikir kalau saya punya luar biasa banyak persediaan kesabaran. Tidak mudah buat saya kehilangan kendali emosi. Sampai kemudian saya menjadi ayah dari seorang anak laki-laki paling tampan sedunia. Dengan segala kepolosannya dia menggiring saya ke level kejengkelan yang saya pikir tidak pernah ada.

Pertanyaan yang tidak terputus dan satu hal ke hal lain, kesalahan yang diulang-ulang, keributan yang luar biasa, sampai Drag Me Down-nya One Direction yang diulang puluhan kali di handphone saya. I am working on this one. Salah satu solusi terbaik yang sudah ditemukan adalah mencari waktu tenang untuk menurunkan tensi sehingga saya bisa kembali jadi ayah dan suami yang baik lagi.

  1. Ketakutan Terbesar

Ketakutan terbesar bukan terhadap hal-hal yang mengancam diri kita sendiri, tapi hal-hal yang mungkin terjadi pada orang yang sangat kita sayangi. Itu saya rasakan sendiri saat Bumi dapat dua cobaan beruntun beberapa bulan lalu. Setelah menjalani operasi usus buntu dan masih dalam perawatan di rumah sakit, kondisinya ternyata terus drop. Kita tahu kemudian kalau dia ternyata juga terjangkit demam berdarah. Saat dirawat di ruang ICU saya dengar Bumi meminta tolong saat ditangani tim dokter. Tak pernah sebelumnya saya setakut itu dalam hidup saya. Saya menangis, memohon, marah tapi tanpa daya. Tapi yang terbesar yang dirasakan saat itu adalah ketakutan yang teramat sangat.

  1. I Love You More, My Parents

Menjadi ayah memberi sudut pandang yang benar-benar baru terhadap hubungan saya dengan orang tua. Saya menjadi sadar kalau orang tua saya tidak sempurna, pun begitu saya yang kini memiliki anak. Tapi saya menjadi memahami perjuangan dan pengorbanan mereka. Pemahaman yang membuat saya makin menyanyangi mereka.

  1. Menyembunyikan Makanan Bukan Dosa

Cara terbaik mendidik anak adalah dengan memberi contoh, termasuk soal healthy food. Maka saat dalam posisi terjepit tidak bisa memberi contoh, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menyembunyikan makanan-makanan tak sehat yang sudah lama jadi favorit itu. Keripik dengan rasa gurih yang luar biasa itu ada baiknya disisipkan di tempat yang tak pernah dijangkau anak-anak.

  1. Waktu Berlalu Lebih Cepat (Kadang)

Tahu-tahu saja Bumi sudah sudah enam tahun dan masuk SD sekarang, tak lama berselang dia sudah akan makin sibuk dengan sekolahnya, lalu mulai asyik bersama teman yang terus bertambah. Semua berlalu dalam sekelebat saja. Saya dan Bumi tidak akan bisa lebih muda lagi dibanding saat ini, jadi yang harus saya lakukan adalah menikmati semua periode kebersamaan.

Masalahnya, kadang waktu justru berjalan sangat lambat. Terutama saat Bumi merengek menagih mainan baru atau berharap jatah main game-nya di akhir pekan ditambah. Percayalah, meski sulit, itu akan jadi momen yang bisa saya rindukan suatu saat nanti.

  1. Video Call Bukan Obat Kangen

Sebelumnya sih saya selalu antusias kalau melakukan perjalanan dinas ke luar kota atau ke luar negeri. Tapi situasinya berubah setelah Bumi lahir. Dalam beberapa kesempatan saya masih sangat menikmatinya, memenuhi hasrat bertualang. Sayangnya video call sering terasa tidak cukup, dan saya jadi lebih sering kangen rumah (anak).

 

 

 


Post Comment