Teuku Zacky, “Orangtua Perlu Memosisikan Dirinya Sejajar dengan Anaknya”

Lama tidak terdengar namanya, kini Teuku Zacky tengah sibuk membangun kerajaan bisnisnya. Selain itu, tentu saja tengah menikmati peran ayah dari dua orang anak.

Beberapa waktu lalu, saya sempat datang ke sebuah peluncuran acara kampanye lingkungan. Salah satu narasumbernya adalah Teuku Zacky.

 

teuku zacky

Cukup familiar dong, dengan sosok pria berkulit putih ini? Nah, kemarin saya tertarik untuk mengajaknya ngobrol seputar parenting. Ternyata banyak insight menarik yang saya dapatkan dari suami Ilmira Usmanova ini. Salah satunya adalah bagaimana ia dan istri, concern mengajarkan soal pentingnya menjaga lingkungan pada kedua buah hatinya, Teuku Zio Zafiero Adam dan Aishakyra Zara. Hai ini terbukti dari pemilihan konsep green house di tempat tinggalnya.

Anda tertarik ikut kampanye lingkungan hidup. Sebagai ayah, ceritain dong bagaimana Anda mengajarkan anak-anak untuk mencintai lingkungannya?

Tentu dimulai dengan lingkungan terkecil dulu, sih,  yang ada di rumah dulu. Karena kan mengajarkan anak harus dimulai dari rumah.  bagaimana anak-anak saya bisa mengenal, peduli dan mencintai mahluk hidup, bagaimana caranya kita harus men-treat pohon dan binatang. Di rumah saya juga banyak tamanana, di sana mereka saya ajarkan nggak boleh metik bunga sembarangan, saya juga mengajarkan anak borcocok tanam. Karena di rumah saya itu konsepnya green house, jadi banyak pohon termasuk tanaman organik. Jadi anak-anak memang selalu saya libatkan untuk bercocok tanam dulu. Ajak mereka menggemburkan tanah dan kasih pupuk, metik tomat. Jadi mereka juga punya pengalaman bagaimana rasanya panen tanaman organik di rumah. Mereka sih seneng banget, ya. Mereka juga melihat bagaimana tanaman tumbuh dan berkembang. Termasuk mengajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Kok, kepikiran untuk bikin green house?

Karena saya dan istri memang senang dan suka, jadi dari awal sudah kepikiran untuk membuat rumah dengan konsep green house ini. Jadi memang sudah jadi hobi keluarga saja, sih.

Biasanya saat luang dihabiskan untuk apa saja?

Saat week end kami sering bercocok tanam di rumah. Buat kami tempat paling enak untuk liburan itu sebenarnya di rumah karena kita bisa eksplorasi segalanya di rumah. Saya bisa mengajak anak meakukan kegiatan bersama di rumah.

Ngomong-ngomong, dalam pengasuhan sejauh mana keterlibatan Anda?

Sangat terlibat, otomatis saya dan istri memang berbagi tugas. Istri saya melakukan tugasnya sebagai ibu sementara saya, porsi tugasnya ya sebagai ayah. Biasanya  sih saya menemani anak-anak untuk bermain, ya.

Sebagai Ayah, hal apa yang paling Anda khawatirkan?

Uuumh… Apa ya?

Pengaruh gadget misalnya?

Saya ini sebenarnya salah satu orangtua yang tidak memperkenalkan gadget pada anak. Anak-anak tentu saja kenal, tapi mereka saya tidak biasakan menggunakan gadget dari kecil. Sebenarnya saya suka sedih kaau melihat ada keluarga yang sedang kumpul sama temen temennya tapi mereka malah asik sendiri dengan gadgetnya. Termasuk saat bersama keuarga, lagi makan malah sibuk sendiri dengan gadgetnya. Saya nggak suka benget melihat kondisi seperti ini.

Anak-anak boleh saja tahu, tapi bukan jadi addict. Saya tidak pernah memperkenalkan games di gadget  pada anak- anak. Saya malah lebih senang mengajak anak-anak bermain permainan tradisional.

Contohnya?

Apa saja, mulai dari congklak, mainan yang bisa membuat anak-anak berinteraksi langsung dengan orang lain, dengan adiknya, orangtua dan teman-temannya. Di rumah itu juga ada giant ular tangga, mainan tradisional seperti ini komplet di rumah saya.  Termasuk mainan tembak-tembakan yang dibuat dari pelepah daun pisang, dan kayu. Tapi mainan seperti lego juga ada, tapi dibandingkan dengan games di gadget, saya lebih senang mengenalkan anak-anak dengan permainan tradisional seperti ini.

Barometer orangtua yang sukses menurut Anda seperti apa, sih?

Orangtua yang bisa mencontohkan hal yang positif dan baik, tentunya bisa menjadikan anak-anak mandiri dan disiplin dengan cara mereka sendiri.

Sebenarnya Anda tipe ayah yang seperti apa, sih?

Hahahaha…. Seperti apa, ya? Mungkin orang lain yang seharusnya menilai, tapi saya selalu memposisikan diri kalau saya ini ayah, teman, sekaligus partner untuk anak-anak. Makanya saya berusaha mendidik dengan cara yang menyenangkan dan berusaha selalu memberikan kasih sayang. Dan selalu berusaha terbuka dengan segala hal yang mereka hadapi.

Banyak yang bilang menjadi partner anak tidak mudah. Menurut Anda?

Sebenarnya, sih, susah susah gampang. Tapi kalau saya selalu mencoba untuk memposisikan diri sebagai anak juga. Jadi kalau mau jadi sahabat anak, ya, harus bisa memposisikan diri sejajar dengan mereka. Kalau kita selalu memposisikan diri jadi ayah, nanti anak akan merasa ada jarak. Jadi cara ngobrol, cara bermain, dan cara berpikir saat ingin menyampaikan sesuatu, ya, harus seperti anak. Tentunya ada halhal tertentu yang membuat saya perlu berbicara sebagai ayah.

 


Post Comment