Hipertensi pada Anak, Bagaimana Mengenalinya?

What! Anak juga bisa terkena hipertensi? Yep betul, mari cari tahu selengkapnya dari penjelasan dr. Meta Hanindita SpA berikut ini.

Zaman sekarang kok penyakit macam-macam ya? Ada-ada aja gitu penyakit (yang tergolong baru) atau sudah lama didengar. Sedihnya, kali ini menyerang anak-anak, contohnya hipertensi, yang awalnya penyakit yang kerap diderita orang dewasa. Ngeri  kan dengarnya? Saya yang notabene ibu baru jadi bertanya-tanya, duuuh apa kabar kesehatan anak saya ya? Soalnya hipertensi pada anak yang jenis primer merupakan hipertensi yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Namun ada beberapa faktor yang diperkirakan berperan memacu hipertensi, seperti keturunan, berat badan, respons anak terhadap stress (fisik atau psikis), faktor lingkungan, dan lain-lain.

Hipertensi pada Anak, Bagaimana Mengenalinya?

Image: www.healthination.com

Selain itu, menurut dr. Meta Hanindita, SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, ada pula jenis hipertenis sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain. 60-80% hipertensi sekunder pada anak berkaitan dengan penyakit ginjal. Selain itu bisa disebabkan karena penyakit kardiovaskular atau endokrin.

Kasus hipertensi pada anak di Indonesia diketahui terjadi pada anak dan remaja di angka 3-4%. Dan mungkin saja terjadi pada bayi sampai remaja. Namun, kata dr. Meta yang paling sering terjadi adalah hipertensi primer yang dialami anak yang sudah puber, sedangkan untuk jenis yang sekunder biasanya di bawah 10 tahun.

Dari segi definisinya, hipertensi pada anak adalah suatu keadaan di mana tekanan darah sistolik dan atau diastolik rata-rata berada pada persentil lebih besar sama dengan 95 menurut umur dan jenis kelamin, yang dilakukan paling sedikit tiga kali pengukuran.

Namun mommies tidak perlu lantas menjadi parno, kok. Karena tak semua anak berpotensi terkena hipertensi. Dokter Meta menyebutkan,  untuk anak dengan obesitas ras (kulit hitam), anak laki-laki, ada keluarga yang mempunyai riwayat hipertensi, dan tidak mendapatkan ASI berpotensi terkena hipertensi jenis primer. Sementara itu, untuk yang sekunder, tergantung penyakit yang sebelumnya diderita oleh si anak.

Gejala hipertensi pada anak & pencegahannya

Menurut sebuah penelitian yang mengatakan, mayoritas anak yang hipertensi ringan atau sedang mengalami gejala-gejala berikut ini:

  • Nyeri kepala
  • Insomnia
  • Lelah
  • Nyerti perut atau dada

Lain hal dengan hipertensi berat, atau disebut dengan krisis hipertensi, manifestasinya sangat bervariasi, tapi komplikasi utamanya melibatkan sistem saraf pusat, mata, jantung dan ginjal. Bisa sakit kepala berat, nyeri perut, muntah atau gangguan penglihatan.

Untuk pencegahan yang bisa dilakukan sebetulnya sangat sederhana, dimulai dari perubahan gaya hidup. Misalnya rutin membiasakan anak bergerak aktif 60 menit sehari, caranya bisa memanfaatkan arena bermain di luar ruang. Karena nyatanya aktif bermain di luar ruang bisa melindungi anak dari obesitas. Dimana obesitas ini, salah satu faktor pencetus hipertensi kan? Lalu dilanjutkan dengan pengendalian berat badan, olahraga teratur, dan jangan lupa diet rendah lemak dan garam. Yang terakhir ini, saya akui jadi tantangan tersendiri untuk para ibu, secara sekarang makanan kaya dengan dua kandungan itu. Harus lebih kreatif mengolah dan memilih menu harian sehat untuk si kecil. Paling ideal, ya masak di rumah dan membawakan mereka bekal makan tadi ke sekolah.

Kalau mommies punya anak sudah di atas 3 tahun, dr. Meta juga mengingatkan, sebaiknya menjalani pemeriksaan tekanan darah satu tahun sekali, sama halnya seperti halnya pengukuran berat dan tinggi badan yang perlu dilakukan pada setiap anak secara regular. Tak hanya itu, anak yang lahir dengan riwayat prematur, berat lahir kurang dari 2500 gram,atau dirawat di ruang perawatan intensif atau ICU diperlukan pemeriksaan tekanan arah lebih dini. Dan setiap anak yang memberikan gejala seperti disebutkan di atas pun perlu diperiksa tekanan darah dengan rutin.

Ayo, lakukan apapun untuk jaga kesehatan keluarga, karena sehat itu investasi yang tak ternilai harganya.


Post Comment