Sejauh Mana Kecerdasan Ibu Dapat ‘Menular’ Pada Anaknya?

Katanya, kecerdasan anak ‘diwariskan’ dari ibunya. Kalau si ibu dinilai kurang pintar, gimana? Masa iya anaknya jadi nggak pintar juga? Lalu, bagaimana peran si ayah? Kan ‘bikinnya’ berdua… masa iya ayah nggak punya andil dalam kecerdasan anak?

Suatu hari, dengan bangganya, Bumi memperlihatkan hasil ulangan yang sudah dia dapatkan. Dalam lembaran kertas ulangan tertulis beberapa penilaian dari wali kelasnya, ada yang dapat nilai ‘good’ dan ada juga yang  ‘excellent’. Di sekolahnya Bumi, sistem penilaiannya memang nggak pakai angka.

Begitu melihatnya, saya pun langsung memberikan apresiasi dengan memberikan sedikit pujian. Jadi waktu itu saya bilang, “Wah… anak ibu hebat. Pintar kaya ibu”.

Hahahahaa… nggak mau rugi dan ke-PD-an banget, ya, saya? Untung saja waktu itu suami lagi nggak ada. Kalau ada, bukan tidak mungkin saya diprotes habis-habisan :D

kecerdasan anak

Tapi benar, lho, menurut beberapa artikel yang sudah pernah saya baca, katanya kecerdasan anak memang diwariskan dari ibunya. Saya jadi ingat pernah mendengar petuah orang tua yang menyarankan agar anak laki-lakinya mencari istri yang cerdas supaya bisa punya anak yang cerdas.

Apa iya, begitu?

Penelitian yang dilakukan The Medical Research Council Social and Public Health Sciences Unit di Amerika Serikat menyatakan demikian. Penelitian ini melibatkan 12.686 anak berusia 14 sampai 22 tahun. Setelah proses wawancara, di mana pertanyaan terfokus pada IQ, ras, pendidikan dan status ekonomi, ternyata membuktikan faktor kecerdasan anak bergantung pada IQ ibunya.

Penelitian lainnya adalah openelitian Psychology Spot yang menerangkan tiap gen dalam tubuh manusia memiliki sumber yang berbeda. Gen kecerdasan berasal dari kromosom X, sementara ibu itu kan  memiliki dua kromosom X. Jadi kecerdasan anak-anak. dua kali lebih mungkin didapatkan dari ibunya.

Sayangnya, penelitian ini belum dilakukan di Indonesia, ya. Seperti yang diungkapkan Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi, kecerdasan seorang ibu memang bisa saja ‘ditularkan’ pada anak-anaknya.

“Hasil penelitian memang ada yang menyatakan demikian. Tapi untuk benar-benar membuktikannya, sebenarnya masih perlu proses penelitian  lain yang berkesinambungan. Tapi pada dasarnya, orang tua memang menularkan kecerdasan pada anak-anaknya”.

Kalaupun sang ibu punya peran yang begitu besar dalam kecerdasan anak, Mbak Vera memiliki pandangannya sendiri. “Ya mungkin, anak kan sudah lebih dulu bersama-sama ibunya saat ada di dalam kandungan. Selama hamil 9 bulan, tentu sang ibu yang punya peran begitu besar dalam memberikan berbagai stimulasi,” ujarnya.

Dalam hal ini, Mbak Vera mengingatkan kembali bahwa pada dasarnya perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh dua hal, sifat bawaan anak sejak sejak lahir atau dalam istilah psikologinya dikenal sebagai nature. Sementara  perkembangan anak juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar atau yang kenal sebagai Nurture. “Kedua hal inilah yang berpengaruh pada perkembangan anak, termasuk kecerdasan emosi seorang anak,” tegasnya.

Mbak Vera memberikan contoh, “Misalnya sang Ibu pintar, sekolah sampai S3, maka anak memang sudah ada gen untuk bisa menjadi pintar seperti ibunya. Tapi untuk menjadi pintar tentu saja perlu stimulasi dari lingkungan luar juga. Bagaimana anak bisa pintar kalau tidak ada stimulasi, tidak dilatih dengan baik? Gen kepintaran yangi diwariskan ibu tentu saja jadi tidak optimal.

Peran ayah di sini juga sangat berpengaruh, lho. Jadi, Mommies juga nggak perlu terlalu GR, nih. Jangan sampai berpikir kalau anak pintar hanya dikarenakan mendapatkan gen pintar dari Mommies saja. “Peran ayah juga tentu saja sangat besar. Dari di dalam kandungan, ayah itu kan sudah selalu memberikan support-nya. Membuat emosi ibu agar lebih stabil. Setelah itu, tentu saja seorang ayah punya peran besar dalam memberikan stimulasi berbagai kecerdasan pada anaknya”.

Kalau bisa saya simpulkan, sejalan dengan pertumbuhan anak maka kecerdasanya juga  secara berangsur akan mendapatkan beragam pengaruh. Jadi, kalaupun ada penelitian yang mengatakan kalau kecerdasan diwariskan oleh ibu, sifat tersebut bukan berarti jadi nggak bisa berubah. Karena pada dasarnya kecerdasan bawaan dan pengaruh lingkungan di mana anak dibesarkan nggak bisa disepelekan.


One Comment - Write a Comment

  1. Pendapat aku pribadi, walau kalau science sudah membuktikan ya sudah percaya saja deh, tapi tentu ada faktor dari pandangan hidup dan pola asuh ibunya juga. Kenapa ibu? karena umumnya anak memang lebih dekat kapada ibu. Kalau single father ya pasti faktor bapaknya yang sangat berpengaruh.

    Aku pernah baca juga supaya anak jadi cerdas dia harus terus dikasih stimulasi, setiap hari diajar hal baru, diajak ke tempat baru, ketemu orang baru, mencoba kegiatan baru. Mungkin, kalau ibunya cerdas mereka juga cenderung memberikan stimulasi ini lebih banyak, karena katanya lagi orang cerdas biasanya juga suka hal-hal baru.

    Kalau mengenai pendidikan, aku rasa ortu pasti pengen anaknya sekolah setinggi mungkin, bener nggak? Tapi kalau seperti contoh ibunya S3, pasti dia pola hidupnya berorientasi pada pendidikan, otomatis dia akan menularkan pola hidup itu pada anaknya. Sama juga dengan ibu pekerja, biasanya anaknya bekerja. Ibu wiraswasta, anaknya ikutan wiraswasta. Ibu dokter, anaknya seringkali juga jadi dokter.

Post Comment