Anakku Meninggal karena Sepsis

Nayra (15 bulan) akhirnya berpulang setelah 11 hari berjuang melawan sepsis. Ibunda Neyra (Anggi), melalui Mommies Daily, ingin berbagi informasi seputar sepsis. Agar para orang tua lebih waspada dengan penyakit yang menurut Anggi masih tergolong langka.

Semacam baru bernapas, ketika saya harus menulis mengenai virus zika dan kawasaki sindrom, kini saya kembali menahan napas saat membahas jenis penyakit yang tergolong langka dan patut diwaspadai.

Seperti sempat saya singgung, adalah Anggia Rahmadianti (35), ibu dari Alm Neyra (15 bulan) yang menjadi saksi hidup bagaimana perjuangan Neyra melawan sepsis. Penyakit yang satu ini tergolong langka, dan menjalar cukup cepat sehingga Neyra hanya bertahan selama 11 hari hingga akhirnya harus berpulang pada 18 April 2016 lalu. Ibunda Neyra yang akrab disapa Anggi menuturkan, apa yang ia sampaikan ini mudah-mudahan bisa dijadikan pelajaran bagi para Mommies. Dan kelak ada lebih banyak informasi mengenai Sepsis, agar para orangtua dan tenaga medis bisa lebih waspada dan sigap dalam penanganan Sepsis.

Anakku Meninggal karena Sepsis

Alm Neyra sedang digendong oleh sang Ibu

Hari pertama:  

Ada sedikit ruam di wajah Neyra, semacam bintik merah disertai demam dan batuk pilek. Ruam yang keluar masih sedikit. Saat ke dokter. Kesimpulan sementaranya adalah virus. Jadi, dikasih antivirus dan obat demam, dua macam, sementara obat batpil masih pakai yang dari rumah.

Hari ke-2 & ke-3:

Demam masih berlanjut, dan batuk pilek tambah parah. Karena lendirnya banyak, dan akhirnya menyumbat lubang hidung untuk bernapas. Selain itu ada kotoran mata yang sudah menghijau dan membuat mata Neyra susah dibuka ketika bangun tidur. Mata Neyra seperti bengap, kelopak matanya merah seperti meradang dan disertai bengkak. Batuknya juga lebih sering, namun batuk kering.

Di hari ketiga Neyra kelihatan susah bernapas. Dilakukan cek darah, dan hasilnya bagus, leukosit dan trombositnya normal. Menurut Anggi, Neyra baru test darah yang umum. Di hari ketiga ini, dokter menyimpulkan Neyra kena campak yang tergolong berat. Karena dilihat dari matanya yang bengkak dan ruamnya juga bertambah banyak, namun belum sampai ke seluruh tubuh. Hanya di bagian dada dan tangan. Menurut dokter yang menangani Neyra, kalau ruam itu belum sampai ke kaki, nanti si kecil akan terus demam. Kalau bintiknya sudah menjalar ke kaki, biasanya demam akan berkurang.

Di hari ke-3 itu Anggi sempat menyampaikan ke dokter kalau Neyra mengalami sesak napas. “Saya juga bilang, napas anak saya kok nggak nyaman atau tidak enak. Ya dok. Seperti ada sesak napas. Terus dokter hanya memeriksa lewat stetoskopnya, lalu dia bilang “Nggak kok bu, ini nggak sesak napas”. Jadi saya memutuskan melanjutkan pengobatan, dan tidak menaruh curiga apa-apa.

Hari ke-5:

Hari 1-4 Neyra masih rewel, walapun napsu makannya sudah menurun. Menginjak hari ke-5 demam Neyra terus naik, menyentuh 41°, dan Neyra sudah tergolek lemas sehingga hanya bisa tidur. Anggi menyelidiki kenapa anaknya tidur terus, ternyata Neyra diberikan obat tambahan untuk pilek dan alerginya. Anggi pikir rasa kantuk datang dari dua obat itu tadi. Tapi Anggi curiga karena napas Neyra kian cepat dan lemas. “ Karena saya pikir ngantuknya dari obat, saya tunggu sampai hari ke-7, sampai bintiknya itu sampai ke kaki. Dan memang itu bintiknya menjalar terus. Dengan harapan anak saya membaik.  Ternyata tidak. Demam hari ke-5 sampai 7 turun naik 38-40,” tutur Anggi.

Hari ke-7  sampai ke-11:

“Tapi kok pas bintiknya sampai ke kaki belum ada tanda- tanda membaik. Akhirnya hari ke-7 pagi saya ke dokter lagi. Itu napasnya sudah cepat banget, tapi dokter bilang napasnya bersih. Terus akhirnya dokter bilang, kalau ibu bersedia tes darah lagi saja,” lanjut Anggi.

Dilakukan tes darah tambahan, yaitu test CRP (C-Reactive Protein). Hasilnya kadar RP Neyra sangat tinggi, yaitu 280 dari ambang batas normal di angka 5. Dokter bilang Neyra sudah harus dirawat karena harus ada pemberian antibiotik via infus. “Ketika saya tanya arti CRP ini ke dokter, dia bilang artinya ada infeksi bakteri di dalam tubuh anak ibu. Dan kalau tinggi begini ada infeksi dan peradangan di badan anak ibu – jadi harus pakai antibiotik yang lewat infus,” papar Anggi mengenai penjelasan dokter tentang kadar CRP Neyra.

Selain CRP Neyra yang tinggi, trombositnya juga tinggi. Namun dokter belum membuat kesimpulan Neyra sakit apa – tindakan baru sebatas menangani anak yang CRP-nya tinggi. Malam itu juga Neyra dirawat dan diberikan antibiotik lewat infus.

Akhirnya dokter mencari diagnosa lain, dan menaruh curiga kalau Neyra terkena Kawasaki. Tapi Anggi ragu karena anak dari kenalannya juga terkena Kawasaki, tapi gejalanya sangat berbeda. “Oh kawasaki itu, gejalanya nggak harus lengkap. Ada anak yang kawasaki gejalanya hanya sebagian,” tutur dokternya. Neyra pun diperiksa oleh dokter jantung,mau dicari tahu, ada peradangan nggak di pembuluh darah jantungnya.

Di sela-sela menunggu Neyra diperiksa oleh dokter jantung, Anggi menyempatkan untuk browsing. Dari dua hasil CRP dan trombosit yang tinggi, menurut hasil pencarian Google, Neyra terkena Sepsis. “Tapi sepsis yang saya temui di internet ini hanya satu, yaitu anak 10 tahun, dia CRP-nya tinggi, tapi nggak setinggi anak saya. Dia hanya 100-an. Didiagnosa sepsis dan harus dirawat 5 hari,” pungkas Anggi menjelaskan hasil temuannya di internet.

Di hari Sabtu, CRP Neyra melesat ke angka 600, dan sebelumnya saya sudah sempat konsultasi ke dokter lainnya yang ahli Kawasaki, dan dia bilang Neyra bukan mengidap Kawasaki, karena Kawasaki tidak diawali dengan gejala napas yang cepat. Sabtu malam demam Neyra sempat turun, dan Neyra disarankan untuk test darah Procalsotinin, yaitu test spesifik untuk mengetahui seseorang mengidap Sepsis atau tidak.

Hari berikutnya yaitu hari ke-8 urin Neyra diperiksa, karena dokter yang ahli Kawasaki itu curiga Neyra terkena Sepsis.  Ternyata benar urin Neyra sudah sedikit. “Mungkin karena sudah menjalar ke saluran kencing. Jadi dalam semalam itu anak saya naik 1 kg, karena cairan infus masuk tapi tidak bisa dikeluarkan lewat berkemih. Alhasil anak saya dalam semalam, kelihatan gemuk. Minggu pagi ditimbang naik 1 kg,” jelas Anggi.

Di minggu pagi itu juga napas Neyra semakin cepat, kurang lebih 80 tarikan permenit. Karena Anggi tidak tega melihat kondisi anaknya seperti itu, ia pun meminta obat yang bisa meringankan sesak napas Neyra kepada dokter. Tidak berapa lama Neyra kena sepsis shocked, suhu tubuhnya menurun drastis hingga 34°, seperti orang lingkung dan gelisah. Neyra pun harus segera dibawa ke ICU.

Perburuan NICU dimulai, dan akhirnya berhasil mendapatkan NICU di RS di bilangan Cibitung. Ketika masuk NICU kondisi Neyra sudah mengalami sepsis berat. Kesempatan Neyra untuk sembuh pun sempat diragukan dokter UGD di RS tersebut. Neyra ditangani dokter anak, jantung dan syaraf. Napas Neyra sempat membaik, baik dari tarikan napasnya dan kondisi jantungnya. Kabar baik sempat memperpanjang harapan Anggi, dokter syaraf bilang “Bakterinya belum sampai ke otak.”

Anakku Meninggal karena Sepsis

Aaah lucunya Neyra :)

Senin malam tiba-tiba Neyra terbangun, terlihat lebih aktif, ia menoleh ke berbagai sudut ruangan. Seakan ingin menyapa sekaligus “pamit” kepada orang yang hadir di ruangan itu, lalu Neyra pergi untuk selamanya. Setelah kejadian itu, Anggie berusaha menggali lebih dalam lagi seputar Sepsis, rasa haus informasi mengenai Sepsis seperti tak pernah usai. Dan berharap ada organisasi atau mungkin saja komunitas yang terbentuk untuk memberikan edukasi seputar Sepsis.

Cari tahu lebih banyak mengenai Sepsis, di halaman berikutnya


14 Comments - Write a Comment

  1. Baca cerita ini seperti membuka lama buat saya. Tapi saya rasa perlu berbagi supaya mommies yang lain boleh lebih waspada.
    Anak saya waktu usia 1 minggu juga terkena sepsis. Sampai sekarang masih belum diketahui asal bakteri dari mana.
    Waktu itu badannya panas dan merintih, dibawa kedokter dikasih obat, tp dokter sdh pesan kalau sampai besok tidak membaik harus segera opname. Saya lihat sampai siang, sepertinya tidak ada perbaikan. Walaupun sudah minum paracetamol 2x. Akhirnya suster nya (suster rumah sakit yang saya minta tolong ke rumah untuk mandiin anak saya. anaknya dulu juga terkena sepsis) bilang sama saya lebih baik langsung saja dibawa ke rs. Saya nurut aja.
    Anak saya diopname di rs tempat saya lahiran kurang lebih 7hari, kemudian harus dipindah karena ternyata kalo sepsis itu yang pertama penting harus pasang c-pap untuk bantuan nafas nya. Sedang di rs itu tdk punya alatnya. Jadi setelah 7hari saya pindahkan dia ke rs lain yang punya c-pap. Kondisi anak saya sudah semakin ga baik. Dia sampai sklerema (badannya kaku kayak lilin) dan ada hemorrhage (pendarahan otak). Tapi untungnya setelah pindah rs, di pasang c-pap selama kurang lebih 1 minggu, antibiotik infus selama 21 hari, transfusi darah 3-4 kantong, dan tindakan medis lainnya anak saya dinyatakan membaik dan boleh pulang. Tapi belom sampai situ karena ternyata pengobatannya berimbas ke lever. Jadi anak saya sempat kuning sampai kurang lebih 4minggu tapi diobat jalan saja.
    Sekarang syukurlah anak saya sudah sehat. Umurnya 6,5 bulan, beratnya sudah 8 kg.

    Jadi memang, diagnosa dan penanganan yang cepat dan tepat penting banget buat melawan penyakit ini.

    1. Dear Mommies Vlezya,

      Pesan penting yang saya kutip dari komentar Anda adalah “diagnosa dan penanganan yang cepat dan tepat penting banget buat melawan penyakit ini”, mudah2an tenaga medis kita bisa tanggap dengan Sepsis ini, atau penyakit lainnya yang juga membutuhkan diagnosa dan penanganan yang tepat dan tanggap, ya. Terima kasih sudah berbagi sekelumit kisah Anda, ya. Semoga buah hati Anda tercinta selalu dalam keadaan sehat. Salam.

  2. saya sebenarnya akan merasa kembali muncul sakit hati kita, cuman saya harus menshare cerita semoga bisa membantu orang lain. saya salah satu korban dari pernyataan sepsis, tapi apa yg ibu kemukakan disini cuman ada sedikit persamaan yaitu sesak napas dan badan sedikit panas. selain itu beda. kami curiga ada salah dianognis, bahkan sampai salah pemberian obat, karena sewaktu pemberian obat yg membuat parah sehingga badan membiru… dan akhirnya pergi meninggalkan kami. kami sangat curiga mereka memvonis sepsis krn masalah susah dipastikan, tapi saya yang menyaksikan sangat yakin karena kesalahan pemberian antibiotik.
    hati hati dalam berobat, 2nd opinion sangat disarankan, jangan langsung percaya ama dokter, carilah beberapa dokter.
    banyak dokter yang tidak bertanggung jawab.
    selamatkan buah hati anda.

    1. Dear Mommies XiangXin,

      Pertama, kami keluarga besar Mommies Daily mengucapkan turut berduka cita atas kepergian anak Anda. Dan betul sekali Mommies, tidak ada salahnya mencari second opinion, dan mencari tahu lebih banyak mengenai obat yang diberikan kepada buah hati tersayang. Semoga banyak hikmah dan pelajaran dari kejadian ini, ya. Salam.

  3. Kami turut berduka sedalam2nya ya Bunda Neyra.. kami pun punya pengalaman luar biasa atas putri kami Shehan.. di hari lahirnya dokter anak memberitahu kami bahwa dia down syndrome, physically sehat hanya bilirubin 10 tp di hari ke-4 dia boleh dibawa pulang, dengan kondisi saya masih shock berat mendengar info bahwa putri kami down syndrome, Di hari ke-12 kami bawa dia ke dokter anak di RS lain krn melihat tubuh Shehan seperti makin kurus dan merah kebiruan, diagnosa awal dia dehidrasi dan langsung harus dirawat di Nicu. Setelah test kultur darah dan serangkaian test lainnya disimpulkanlah dia terkena sepsis neonatorum (katanya infeksi darah yg didapat sesaat setelah kelahiran). Begitu kami tanya apa penyebab nya dikatakan kemungkinan dikarenakan sesuatu yg bersinggungan langsung dengan darah bayi pada saat bbrp jam setelah kelahiran bisa jadi selang pembersih lendir bisa jadi jarum suntik yg sulit utk dicari tahu apa tepatnya. Yg pada akhirnya kami hanya bisa menerima kenyataan dengan terus melakukan upaya penyembuhan utk anak kami. CRP nya awalnya hanya 8,tp berjalan waktu semasa di nicu makin tinggi sampai 64. Trombosit makin hari makin turun sampai hanya 4000, infus sudah sana sini menancap di tubuh putri kecil kami. Pernah suatu hari dalam perawatan tubuh anak kami mendadak terlihat seperti gendut tiba2, ternyata cairan sudah terlalu banyak didalam tubuhnya.. pernafasan cenderung normal. Demam turun naik tapi tidak terlalu tinggi. Anak kami masih aktif bergerak di sebagian besar waktunya selama di nicu. Sampai semua obat sakti, bbrp kali tranfusi trombosit dan pemberian serum plasma immunoglobulin pun tak ada yg mampu memperbaiki kondisi putri kami.
    Sudah 2,5bulan dirawat di Nicu akhirnya terkondisikanlah kami untuk mengambil keputusan mencoba melepas semua infus yg terpasang di tubuh Shehan dengan hanya meninggalkan alat monitor jantung, peredaran darah dan pernafasan saja yg tersisa dengan perjanjian perawat dan dokter jaga di Nicu akan memantau lebih intensif terhadap putri kami selama 2x24jam kedepan. Subhanallah, kondisiShehan malah jadi membaik, CRP perlahan tapi pasti berkurang terus, trombosit terus naik menuju normal, warna tubuh tidak lagi kuning kebiruan, sampai 1minggu kemudian Shehan tidak menggunakan infus apapun hanya sonde yg tersisa karena didiagnosa otot menghisap dan menelannya lemah sekaligus dilatih minum dari dot ataupun pipet.
    hampir genap 3bulan dirawat akhirnya kami memutuskan membawa pulang Shehan.
    dan selama di rumah kami berlakukan tindakan super steril untuk Shehan, tapi memang tidak mudah untuk langsung mencopot sonde dari Shehan krn kemampuan minumnya yg masih jauh dari normal pada saat itu. Dengan jadwal 4hari sekali ke RS atau klinik untuk bongkar pasang sonde dari hidung Shehan kami jalani dengan tetap melatih dia minum tanpa sonde.
    sampai dia berusia 8bulan kami percaya diri untuk totally melepas sonde dan berganti cara dengan pipet untuk dia bisa meminum susu.
    Berat memang di awalnya krn belum bisa banyak sesuai target seharusnya sehingga dia harus turun berat badan lagi, tetapi bbrp minggu kemudian dia sudah bisa minum sesuai porsinya Berikut sudah bisa menelan bubur susu.
    sampai di usia 13bulan Shehan akhirnya bisa ngedot dari botol, perlahan tapi terus meningkat jumlah yg dihisapnya..
    skrg usia putri kami 16bulan dan Alhamdulillah merupakan karunia yg super super besar melihat dia tumbuh bersama kami meskipun masih takut kami atas pengalaman yg lalu, semoga bisa seterusnya sehat meskipun iya putri kami tersayang ini menyandang predikat down syndrome..
    semoga share ini bisa membantu yang lain tentang penyakit sepsis khususnya dan tetap bisa membuat kita semua bersyukur atas ketentuan yang di atas terhadap hidup kita..karena kami yakin semua yg kitajalani hasilnya tak lepas dari kehendakNya..

    1. Dear mommy Shella….terima kasih atas perhatiannya. Memang pengalaman empat bulan lalu, saat kehilangan puteri bungsu saya karena sepsis sangat berat. Sampai saat ini saya pun masih bertanya tanya bagaimana Neyra bisa terkena sepsis. Setelah saya membaca beberapa ulasan tentang sepsis via internet, ternyata Rumah Sakit dan perlengkapannya bisa memicu infeksi nosokomial yg bisa berefek buruk pada bayi dan anak anak. Anggapan sementara saya mungkin Neyra mendapatkan sepsis pasca pemeriksaan darah hari ketiga di Rumah sakit. Karena sepulangnya kondisi Neyra makin memburuk, dan napasnya mulai cepat. Tetapi itu hanya analisa subyektif saya. Hanya Allah SWT yg tahu kepastiannya. Yang saya harapkan adalah kesadaran adanya bahaya sepsis yang bisa membahayakan, selain bayi baru lahir,juga anak anak . Saya juga berharap praktisi kesehatan mulai intensif menyuarakan tentang sepsis, bagaimana gejalanya, pencegahannya, dan juga langkah langkah pengobatannya sebagai pengetahuan untuk para orang tua. Semoga kita dan anak anak kita senantiasa diberikan kesehatan dan terhindar dari penyakit berbahaya seperti sepsis ini…Terima kasih ya mommy Shella atas sharingnya…saya pun belajar banyak.

  4. T_T sedih banget baca artikelnya, terlebih saya punya pengalaman yg sama mengenai sepsis, late sepsis khususnya. Waktu itu baby baru usia 11 hari, tiba tiba demam 38-39 dercel, untuk bayi di bawah 3 bulan trmasuk tinggi, disertai nafas cepat, dan ada semacam rintihan. Hari 1 demam saja, hari 2 udah turun, hari 3 demam lagi + nafas cepat + rintihan + malas nyusu, langsung deh konsul ke SpA, dan direkomendasikan ke SpA khusus neonatal. Malam itu juga cuss disuruh opname, untuk observasi dll. Langsung ketok palu kena late sepsis krn bakteri entah dr mana. Hari ke-3 udah turun demamnya tp krn pk antibiotik jd hrs habisin selama 6 hari via threeway. Hari ke-6 udah boleh pulang, tp hrs trs dipantau kesehatan dan tumbuh kembangnya. Skrg baby udah 10 bulan, pertumbuhan normal dan sehat. Pengalaman baby kena sepsis ini terkenang sepanjang masa. Gmn enggak, lagi seneng2nya punya bayi ehh hrs masuk RS. Sedih bgt. Beruntung saya tinggal di kota besar yg fasilitas dan tenaga kesehatannya memadai, jd bs langsung tertangani oleh ahlinya. Saran saya, kl anak sakit langsung serahkan ke ahlinya. Takut salah/ terlambat diagnosa bikin kecewa seumur hidup. Semoga kita sekeluarga selalu sehat ya. Btw, saya senang kl ada artikel sharing begini. Membuka wawasan untuk ibu ibu lain yg blm tau. Bikin kita belajar dan belajar trs. GBU all…

  5. Dear mbak Anggi, saya turut berduka atas meninggalnya Alm. Neyra, semoga ia diberikan tempat terbaik disisi Allah SWT, semoga Mbak sekeluarga diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. Anak saya juga pernah terkena sepsis, demam tinggi selama 2 hari, sampai 40 derajat lebih, pemberian paracetamol nggak mempan, hari pertama saya bawa ke dokter anak A, cuma diperiksa 1 menit langsung diagnosis bronkhitis alerginya kambuh, disuruh nebu n dikasi puyer. Besoknya panas masih tinggi gak turun2, saya bawa ke prof B. Langsung disuruh cek darah periksa DB n CRP, ternyata positif DB n CRP tinggi (80), langsung disuruh opname n diberi antibiotik via infus. Selama 8 hari dirawat, rasanya kayak ngalamin mimpi terburuk. Dokter pun gak tau infeksi berasal dari mana, karna bakteri udah masuk ke darah. Alhamdulillah skrg anak saya sudah kembali sehat, saya berharap semoga artikel ini bisa membantu orang tua lain yang membutuhkan info mengenai sepsis. Saran saya untuk para orang tua jangan anggap remeh infeksi dan demam tinggi yang terus menerus.

  6. Dear mommy elettra dan mama Al….sangat senang mengetahui putra/puteri tercinta bisa selamat menghadapi sepsis. Alhamdulillaah….
    Pada kasus alm Neyra, penangannya sangat lambat, karena diagnosa awal adalah campak,hari ketujuh ketika badannya lemah dan napasnya cepat diagnosa DSA nya adalah kawasaki, hingga anak saya dirawat di kamar biasa dan akhirnya terkena shock dan harus masuk icu di bilangan Cibitung (karena seluruh Nicu di Jakarta dan Bekasi penuh),barulah dokter ugd nya menjelaskan bahwa alm Neyra menderita sepsis berat. Pengalaman ini lah yang memotivasi saya untuk menggali informasi tentang sepsis dan bagaimana mengenali gejalanya, agar pengalaman traumatik sebelumnya tidak terjadi lagi.

      1. Terima kasih mbak Fia….semoga sedikit pengalaman saya bisa bermanfaat bagi para orang tua. Dan apabila ada gejala mirip sepsis jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter anak agar bisa segera diatasi.

  7. Turut berduka Mbak Anggi.. semoga selalu diberi kesabaran & ketabahan. Dan makasih banyak sudah mengedukasi kita2 yg baca kisah Neyra. Kerabat saya ada 2 orang yang kena sepsis, meskipun sebenarnya dokter2 di RS mereka berobat tidak berani menyatakan sepsis. Tapi saya yakin itu sepsis karena penyakitnya tidak bisa dipastikan, apalagi tes darah pada umumnya normal. Usia mereka sudah dewasa. Yang 1 skr masih ada, tapi sudah brain dead (maafkan bahasa saya) sedangkan yang satu lagi sudah berpulang. Kecurigaan kami sebagai sahabat adalah dari selang pernapasan yang tidak steril, mungkin diawali juga dengan infeksi dari luka terbuka atau infeksi penyakit lainnya. Namun karena keterbatasan pengetahuan lingkungan tempat saya tinggal, mereka terima2 saja apa kata dokter. sangat disayangkan.

  8. Mommy turut berdukaaa

    Sy mau berbagi pengalaman tmn baik sy umur 27th meninggal karena sepsis dan gejalanya pun sama demam naik turun dan ada ruam buru menurut sy jika ada bbrp gajala dr penyakit ini baiknya kita hrs mengingatkan dktrnya apa ini sepsis dok?
    Karena kasus pd teman sy pun diduga DBD tp setelah dicek darah pun negatif sampain 3 hari dktr tidak tau tmn sy sakit apa karena sebelumnya dia baik2 saja sehat… sampai akhirnya ganti dokter tp dihari ke4 malam tyt tuhan punya rencana lain.

    Info setelah sy baca2 memang sepsis ini kita harus menanganinya dgn cepat.. karena sepsis ini lsng mengincar dan merusak organ vital seperti hati,jantung dll dan penyakit ini kebanyakan telat diketahuinya.
    Semoga info dr sy bisa membantu kita semua ya ????

    1. Halo missponi, terimakasih ucapannya. Sesuai dengan pengalaman saya, saya rasa sepsis awareness diantara tenaga medis pun belum maksimal. Saya berharap ada komunitas peduli sepsis di Indonesia yg bisa menyuarakan tentang sepsis sehingga kesadaran akan ancaman sepsis bisa lebih baik lagi . Stop sepsis, save lives.

Post Comment