5 Alasan Mengapa Saya Mencintai Pekerjaan Saya

Walaupun liburan sudah di depan mata, hayooo jangan malas kerjanya… ingat rencana masa depan, ingat CICILAN!!! Ini 5 alasan mengapa saya mencintai pekerjaan saya.

Sebagai seorang ibu yang memilih untuk bekerja, saya nggak bisa pura-pura nggak pernah mengalami masa jenuh dalam bekerja. Jujur sajalah, pasti kadang (walaupun bekerja adalah pilihan kita pribadi dan dilakukan dengan penuh kesadaran tanpa paksaan), kita pernah bosan dan inginnya main sama anak di rumah, traveling atau shopping :D.

Salah satu hal yang paling mudah untuk dilakukan ketika jenuh, saya memilih mengambil cuti singkat. Masalahnya kan nggak mungkin ya cuti terus menerus, yang ada nanti atasan saya menyarankan saya untuk berkunjung aja ke website lowongan kerja, hahaha. Jadi, cara lain yang saya lakukan adalah dengan merapal ‘mantera’ betapa saya mencintai pekerjaan saya dan mengingat alasan di baliknya.

alasan mencintai pekerjaan

1. Bekerja membuat saya bisa membayar cicilan dengan nyaman

Ahahahahahha………..perlu dijelaskan lebih lanjut nggak nih??? Kayaknya nyaris seluruh rumah tangga yang saya kenal memiliki tanggungan yang bernama cicilan. Gimana nggak, secara sekarang, yang bisa dicicil nggak cuma rumah atau mobil, tapi juga logam mulia, tas dan sepatu branded hingga perhiasan, hihihi. Dan dengan bekerja, saya jadi bisa membayar cicilan-cicilan itu dan membuat saya tetap semangat bekerja. Lah, gimana nggak semangat, kalau lagi malas kerja kemudian teringat tagihan yang akan datang di akhir bulan?

2. Bekerja membuat saya memiliki banyak kenalan

Kenalan yang memiliki latar belakang lebih beragam. Mulai dari para public relations hotel, segala macam dokter hingga psikolog. Mulai dari para perempuan bekerja yang berada di level-level penting dalam sebuah perusahaan hingga para mompreneur hebat yang berjuang dari nol untuk membesarkan bisnis mereka. Hubungan baik yang kami miliki memungkinkan banget bagi saya berdiskusi dengan mereka (tanpa biaya…eaaaaa). Misalnya saja, kalau lagi pusing ngadepin drama kakak adik di rumah, saya bisa menghubungi salah satu psikolog anak favorit dan meminta sarannya. Yang mungkin, kalau saya tidak kenal, saya harus datang ke tempat praktiknya, antre dan mengeluarkan biaya.

3. Bekerja membuat saya ‘terpaksa’ belajar

Saya bukan tipe orang yang ingin kuliah hingga S2, S3 dan seterusnya. Mungkin karena masa kuliah saya lebih banyak dihabiskan sambil bermain kartu di Balsem FISIP UI (yang jebolan FISIP UI angkatan tua pasti tahu banget nih istilah Balsem alias balik semak :p). Jadi, saya bersyukur dengan bekerja mau nggak mau otak saya dipaksa untuk belajar banyak hal. Malu aja kalau sampai saya tidak tahu berita terkini tentang apapun itu. Walaupun kadang-kadang saya juga skip dengan satu berita, at least masih lebih banyak yang saya ngeh kalau ada kejadian heboh terbaru.

4. Bekerja membuat saya bebas melakukan me time

Masalahnya, sebagian besar me time saya menuntut saya harus mengeluarkan uang. Mulai dari spa, membaca buku atau menonton film. Dengan bekerja, saya jadi bisa pergi ke spa, membeli buku atau menonton film tanpa harus menunggu jatah bulanan dari suami. As simple as that.

5. Bekerja membuat saya bisa mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk keluarga

Amiiiiiiiin dulu dong untuk yang satu ini. Tidak hanya mewujudkan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak, namun juga masa pensiun yang lebih baik untuk saya dan suami kelak.

Jadi, walaupun liburan sudah di depan mata, hayooo jangan malas kerjanya… ingat rencana masa depan, ingat CICILAN!!!


Post Comment