6 Gejala Anak Mengalami Sensory Processing Disorder

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Bagaimana sebenarnya gejala anak mengalami Sensory Processing Disorder?

Baiklah, saya sudah menceritakan dampak Sensory Processing Disorder terhadap anak saya. Begitu juga terapi untuk Sensory Processing Disorder. Lalu, bagaiman dengan gejala-gejalanya?

Banyak yang bilang, saya cukup jeli melihat gangguan tersebut. Namun nyatanya nggak begitu, sih. Walau saya sudah curiga saat dia berusia 3,5 tahun, saya bisa dikatakan terlambat karena baru berkonsultasi ke psikolog hampir setahun kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa, kita sebagai orangtua harus aware dengan adanya gangguan yang ditunjukkan anak. Tapi juga jangan jadi parno, sedikit-sedikit khawatir.

gejala anak mengalami sensory processing disorder

*Image dari assets.addgz4.com

Setelah berkonsultasi dengan Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi., inilah beberapa gejala yang ditunjukkan oleh anak dengan Sensory Processing Disorder untuk diwaspadai:

1. Anak menjadi sangat sensitif, atau bahkan tidak sensitif terhadap stimulasi yang diberikan. Kalau Rimba, menunjukkan gejala yang kedua.
2. Sebagian anak memiliki energi aktivitas sangat tinggi, nyaris tidak bisa diam. Sebagian lainnya malah justru sangat pasif, cenderung diam saja.
3. Mengalami keterlambatan dalam keterampilan motorik, atau bahasa. Keduanya terjadi pada anak saya.
4. Memiliki masalah dalam mengoordinasi motorik kasar dan halusnya.
5. Umumnya anak-anak dengan gangguan sensori ini minim prestasi. Karena apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan kemampuan yang seharusnya sudah ia miliki, di usia tertentu.
6. Anak dengan SPD biasanya memiliki kepercayaan diri yang rendah, serta sulit mengarahkan dirinya sendiri.

Jangan lantas buru-buru mengklaim bahwa anak mengalami Sensory Processing Disorder. Karena untuk diagnosa pasti harus dilakukan oleh ahli.

Anak SPD biasanya disarankan untuk diterapi okupasi, yaitu terapi khusus bagi anak yang mengalami gangguan fisik dan atau mental, menggunakan latihan, atau aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi(okupasi), demi meningkatkan kemandirian si anak. Terapi okupasi pun difokuskan pada pendekatan sensori integrasi. Periode terapi tergantung dari berat atau tidaknya gangguan ini. Selain itu aktivitas di rumah pun, ikut membantu proses terapi.

Menurut Vera, anak dengan gangguan sensori ini, sangat bisa hidup normal dan berkembang optimal. Karenanya peran orangtua amat dibutuhkan, agar anak yang memiliki Sensory Processing Disorder ini bisa belajar dan mandiri.

Ini yang bisa dilakukan orang tua dengan anak SPD:

1. Terima kondisi anak apa adanya. Lihatlah ini sebagai keunikan anak, bukan penyakit.
2. Jalin kerjasama yang baik dengan guru di sekolah dan terapis. Biasakan untuk mengadakan pertemuan berkala dengan semua lini support system Anda.
3. Cari kelebihan anak, lalu kembangkan agar jadi kemampuan yang bisa ia banggakan, dan menjadi bekal di masa depan.

Anjuran dari Vera, anak sebaiknya berada di lingkungan yang dapat memahaminya, dan pembimbingnya memiliki pengalaman dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus seperti ini. Sekolah inklusi dengan kelas kecil (15 – 25 anak dibimbing dua guru) merupakan pilihan baik. Yang artinya, TK atau SD nanti, Rimba kemungkinan besar harus mencari sekolah inklusi yang konon kabarnya biaya masuknya bikin dompet makin kering. Mari kita nyangkul lagi!

Dewi Warsito. Mantan ibu bekerja kantoran yang sedang mencoba peruntungannya di dunia freelancer demi lebih dekat dengan anak-anak, dan lebih menikmati hidup. www.therusamsis.wordpress.com/


Post Comment