Bisakah Epilepsi Dicegah Sejak Masa Kehamilan?

Epilepsi bisa menyerang siapa saja, dan kapan saja. Pertanyaannya, bisakah penyakit neurologis ini dicegah sejak masa kehamilan? Berikut penjelasan Irawati Hawari, dokter sekaligus Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia.

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, salah satu teman perempuan saya ada yang mengalami epilepsi. Saat kami sedang asik-asiknya bercanda atau ngobrol, teman saya ini tiba-tiba kejang. Namanya anak kecil, pertama kali melilahatnya jelas bikin saya panik dan kaget. Syukurnya, guru kelas dan orangtua saya cukup bisa menginformasikan kalau nggak ada yang perlu ditakutkan dari penyakit yang diderita teman saya ini. Saya pun jadi tahu bahwa penyakit tersebut adalah epilepsi.

bisakah epilepsi dicegah sejak masa kehamilan

Nggak bisa dipungriri, kalau sampai saat ini masih banyak mitos yang beredar mengenai epilepsi. Misalnya epilepsi merupakan penyakit menular bahkan ada yang menganggap penyakit kutukan. Kurangnya pengetahuan masyarkatlah yang akhirnya menyebabkan timbulnya stigma atau persepsi yang salah mengenai epilepsi.

Beberapa hari lalu saya berkesempatan untuk mengikuti media edukasi mengenai epilepsi yang dilangsungkan di Hotel Le Meridein. Waktu itu Irawati Hawari, dokter sekaligus Ketua Umum Yayasan Epilepsi Indonesia menjelaskan bahwa epilepsi merupakan penyakit neurologi atau terjadinya gangguan pada otak. Kejang dan serangan epilepsi lainnya terjadi akibat adanya aktivitas atau cetusan listrik abnormal di otak.

Menurut dokter Ira, ada berbagai pencetus terjadinya epilepsi. Biasanya terjadi karena adanya gangguan listrik di otak bisa terjadi karena adanya tumor otak, cedera kepala, atau infeksi otak, pembentukan otak tak sempurna karena kehamilan yang kurang terjaga dengan baik, gangguan pembuluh darah di otak, hingga kelainan genetika. Akan tetapi, sebanyak 30 persen penyakitnya tidak diketahui.

Bentuk serangan epilepsi ini juga tidak hanya kejang-kejang saja, tapi bisa berupa serangan dalam bentuk lain seperti kurangnya kesadaran, pendangan kosong, perubahan tingkah laku. Bentuk bangkitan (kekambuhan) tergantung bagian otak mana yang terkena.Yang pasti, epilepsi juga bukan penyakit menular dan siapa pun bisa terkena tanpa memandang jenis kelamin, usia, ras dan status sosial.

Walaupun nggak ada cara jitu untuk mencegah terjadinya epilepsi, namun  dokter Ira menjelaskan bahwa tetap bisa diupayakan untuk mencegah epilepsi terjadi yang dimulai sejak masa kehamilan. “Upaya pencegahannya itu dengan menjaga asupan gizi yang tepat sehingga janin bisa sehat. Tapi sering kali di awal kehamilan, ibu hamil juga nggak sadar apakah diri hamil atau tidak sehingga tidak tahu apakah ada virus atau semacamnya. Oleh karena itulah pemeriksaan awal kehamilan sangat penting,” ungkapnya.

Dengan begitu, dr. Irawati Hawari, Sp.S, juga semakin menegaskan bahwa bagi orang dengan epilepsi atau ODE tidak perlu khawatir untuk berkeluarga dan mempunyai keturunan. Pasalnya epilepsi tidak menghalangi perempuan untuk hamil bahwa menyusui.

Yang terpenting katanya, diskusikan lenih dulu dengan dokter. Biar bagaimana pun ODE harus tetep minum obat. “Kalau untuk ibu hamil biasanya pemberian obatnya akan berbeda. ODE yang hamil juga akan nomal seperti perempuan hamil kebanyakan. Yang paling penting, saat awal kehamilan, mereka melakukan pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh.

Karena pada dasarnya, ODE bisa hidup selayaknya orang sehat pada umumnya, mereka pun bisa berhasil maraih mimpi dan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Hal ini tentu saja perlu kedisplinan mengonsumsi obat anti-epilepsi sehingga bisa mencegah bangkitan atau kejang terjadi kembali.

Nara sumber lain yang datang waktu itu adalah  Aska Primardi, praktisi psikologi sekaligus orang dengan epilepsi (ODE). Ia mengatakan bahwa penting bagi lingkungan masyarakat agar sadar dan paham mengenai epilepsi, sehingga bisa memberikan tindakan yang tepat untuk para ODE. Dengan demikian, ODE bisa melakukan aktivitas layaknya orang sehat. Di Indonesia, ODE sendiri tercatat mencapai 1,1 sampai 8,8 juta orang. ODE tersebar dalam berbagai usia, mulai dari bayi hingga orang lanjut. Prevalensi tertinggi terjadi pada bayi dan anak-anak dan orang lanjut usia.

 

 


Post Comment