Berhenti Bertanya Kapan Hamil?

Ditulis oleh: Monik Wulandari

Karena saya paham betul betapa tidak nyamannya ditanya mengenai kapan saya hamil, maka saya juga tidak pernah bertanya hal serupa ke perempuan lain.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman saya pribadi, yang saya rasa juga banyak dialami oleh perempuan lain di sini. Ditanya oleh orang-orang kenapa saya belum hamil. Mungkin ini pertanyaan menyebalkan tahap dua setelah ditanya mengenai kapan menikah, ya?

jangan bertanya kapan hamil

*Image dari myaccount.early-pregnancy-tests.com

Flash back sedikit, saya menikah pada usia yang cukup matang, 28 tahun. Sebelum menikah, saya pernah bertanya pada calon suami,”Sayang, menurut kamu, memiliki anak itu penting nggak, sih?” Jawabannya, penting. Tapi ia juga berkata bahwa anak adalah rejeki. Entah dipercaya akan memilikinya atau tidak, hal itu tidak akan pernah menjadi masalah di dalam pernikahan kami kelak. Pertanyaan ini terlontar hanya semata-mata untuk mengetahui kesiapan suami jika problem yang saya sering saya dengar menjadi masalah besar bagi beberapa pasangan terjadi pada kami. Jawabannya membuat saya berlega hati dan semakin mantap meneruskan rencana pernikahan, karena merasa suami memilih menikah dengan alasan ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama saya.

Setelah menikah, suami yang datang dari keluarga besar, selalu memiliki acara yang harus kami hadiri, entah pesta penikahan, halal bihalal atau acara lainnya. Tentunya Anda bisa menebak, saat-saat inilah, saat saya ditanya (sambil dipegang perutnya),”Sudah isi belum?” Awal-awalnya, sih, saya menjawabnya dengan santai, “Belum, nih.” Sampai ketika sepupu yang menikah setelah kami, ternyata telah hamil, tiba-tiba saya merasa ada tekanan. Bukan dari orangtua kami, tapi lebih dari orang sekeliling yang cukup sering melontarkan pertanyaan tersebut, sambil diiringi,”Si A sudah hamil, lho..” Teruuusss?? Jawab saya dalam hati, agak sedikit dongkol.

Butuh waktu nyaris lima tahun untuk saya bertahan mendengar pertanyaan-pertanyaan semacam ini, karena memasuki tahun ke lima akhirnya saya hamil. Meski kini saya bisa menjawab pertanyaan mengenai kehamilan, ini tak mengubah prinsip saya untuk tidak menanyakan mengenai kehamilan pada perempuan yang belum hamil. Kenapa begitu?

1. Itu menyakitkan
Bayangkan saja, saat Anda ingiiiiin sekali sesuatu tapi belum bisa-bisa sedangkan orang-orang lain di sekitar Anda sudah mendapatkannya. Bagaimana perasaan Anda? Dan, bukannya dihibur, tapi orang malah berlomba untuk memamerkan apa yang mereka miliki. Mungkin maksud Anda memberi semangat, tapi percayalah itu bukan pemberi semangat yang kami inginkan.

2. Itu bukan urusan Anda
Kata siapa saat perempuan menikah, secara otomatis berarti ia mau memiliki anak? Tidak semua perempuan terlahir dengan rasa ingin menjadi ibu. Jadi, jangan sibuk bertanya dan memaksa agar orang lain memiliki anak seperti Anda.

3. Kita tidak pernah tahu usaha yang sudah dilakukan
Kita tidak pernah tahu usaha apa yang sudah dilakukan oleh perempuan yang ingin hamil. Saya ingat sebelum hamil saya sudah melakukan berbagai macam cara agar bisa mendapatkan dua garis merah di test pack. Mulai dari makan sehat, olahraga, makan otak kelinci (maaf, ya, kelinci yang lucu), minum obat Cina, akupuntur, totok, kaki diinjak oleh bumil, mencuri popok, tidur beralaskan baju bayi, meminta daster bumil, meminta bedak bayi yang baru lahir untuk ditaburkan tiap malam ke perut, hingga inseminasi, dan sederet daftar percobaan lainnya. Jadi dengan usaha seperti itu kemudian orang lain sibuk bertanya, hanya membuat saya semakin tertekan dan KESAL.

Jadi daripada sibuk dengan hidup orang lain lebih baik kita menikmati hidup kita sendiri, kan? Just enjoy your time!


10 Comments - Write a Comment

  1. Setuju banget. Sampai sekarang juga saya belum hamil.
    itu karena mindset dari jaman dulu, punya anak itu membanggakan, ga punya anak pasti spekulasinya negatif : mandul, atau suamimu amatiran, enggak jreng, atau apalah. atau saya yang dikatain “kok belum juga sih? kalah sama si anu dong kamu” . O my God, apa kehamilan itu semacam kompetisi ya? sampe harus ada istilah kalah menang.

  2. I have been dealing with those questions for last 7 years since 2007. Respon saya? Mulai ekspresi saya yang masih bisa cengar-cengir, lalu berubah jadi cuek, berubah mulai BT, lalu jadi BT beneran, dan jadi BT banget, sampai malas ketemuan, dan akhirnya berubah jadi netral dan santai lagi. Jujur, bukan hal mudah untuk mengendalikan perasaan saya, butuh proses yang panjang untuk bisa berdamai dengan hati saya sendiri.

    Akhirnya saya tuliskan di blog saya di sini http://www.devieriana.com/2014/06/14/about-the-kapan-things/

Post Comment