Resolusi Awal Tahun, Jadi Pribadi yang (Lebih) Positif

Tahun 2015 sudah jadi lembaran masa lalu, dan kini berganti dengan harapan baru di tahun 2016. Kami Tim Editorial Mommies Daily ingin berbagi semangat berpikir positif untuk Mommies semua.

Melakukan sebuah perubahan tentu saja bisa dimulai dengan langkah sederhana. Iya, sering kali kita orang dewasa suka lupa bagaimana harus berpikir sederhana. Padahal, dari sini kita bisa membuat perubahan bisa berdampak besar untuk orang lain. Oleh karena itulah, seperti yang sudah Fia tulis dalam artikel Pentingnya Berpikir Positif, kami Editor Mommies Daily, Adis dan Thatha ingin menuliskan beberapa harapan atau langkah yang bisa dilakukan di tahun 2016 ini.

Adisty, Editor Mommies Daily

Tahun baru sering saya jadikan momen untuk merefkasikan diri. Apa saja, sih, yang sudah saya lakukan selama setahun ke belakang? Kemudian saya pun mencoba untuk kembali bertanya ke diri sendiri, “Sebenarnya apa saja tujuan hidup dalam waktu setahun ke depan?”. Ternyata apa yang ingin saya capai dan raih sebenarnya nggak terlepas dari kemampuan saya berpikir positif karena tanpa disadari emosi mampu mengubah apa yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Dan 3 list inilah yang ingin selalu saya  terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Bersyukur secara aktif

Suatu kali Mama saya pernah bilang, “Bersyukur bukan sekedar perasaan tapi sebuah tindakan. Oleh karena itu bersyukurlah secara aktif.” Ya, salah satu pesan orangtua yang selalu saya ingat sampai detik ini adalah mengenai bagaimana saya harus tumbuh menjadi pribadi yang penuh syukur. Bersyukur atas nikmat yang tidak ada habis-habisnya saya peroleh.  Biasanya, sih, ketika saya merasa sulit atau down dengan situasti yang saya hadapi saya akan melihat sekililing. Dari sini saya saya pun akhirnya bisa sadar, bahwa banyak orang di luar yang punya cobaan hidup yang jauh lebih berat. Malu rasanya kalau saya masih saja sering mengeluh. Untuk menjadi pribadi yang lebih positif dan pandai bersyukur saya pun memutuskan untuk membuat sebuah jurnal yang saya tulis setiap minggu. Di mana dalam jurnal tersebut saya harus menulis daftar semua hal yang patut syukuri. Dengan menantang diri sendiri untuk menuliskan hal-hal yang Anda syukuri akan membuat saya bisa lebih menghargai hal-hal tersebut. Selain itu tentu saja tidak lupa untuk terus berbagi kebahagiaan pada orang- orang di sekeliling.

  • Jangan memandang rendah diri sendiri

pribadi yang positif

Namanya  juga manusia, pasti ada kalanya saya merasa pesimis. Nggak percaya diri untuk melakukan suatu hal, untuk memulai langkah baru. Intinya, sih, saya sering bertanya-tanya, “Apa iya, gue mampu mengerjakannya? bagaimana kalau akhirnya nanti gagal?”.  Hal ini pun termasuk dalam ranah parenting. Meskipun rasa khawatir ini bisa dibilang wajar dan bisa datang secara alami sebagai respon diri kita sendiri, tapi rasa ini memang nggak bisa ‘dipelihara’ karena akan menjadi batu sandungan. Bahkan, kondisi ganguan kecemasan tidak ditangani dengan baik, bisa memengaruhi tingkat kualitas hidup. Nggak heran kalau perasaan ini nggak bisa dibiarkan tumbuh subur. Ketika sudah mulai merasa khawatir, saya pun segera menumbuhkan mindset, “Saya harus lebih baik dari orang lain.” Biar bagaimana pun, apa yang saya jalankan dan rasakan akan tergantung pada sudut pandang yang kita pilih.

  • Mulai Hari dengan Senyum

Saya percaya kalau manusia sangat rentan terhadap ‘penularan emosi’ dan ini berarti bahwa perasaan di sekeliling kita akan memengaruhi perasaan kita. Saya jadi ingat dengan ucapan psikolog anak dan keluarga yang sering saya sapa Mbak Nina Teguh, ia bilang kalau kecerdasaan emosi itu menular. Bukan tidak mungkin kalau dikelilingi oleh orang yang berperilaku buruk dan negatif, sifat tersebut akan menulari kita. Meskipun menjadi pribadi yang punya EQ baik prosesnya nggak gampang, tapi paling tidak saya bisa belajar untuk menjadi pribadi yang ramah dan banyak senyum. Setidaknya,  dengan senyum bisa merangsang mood kita sendiri untuk jadi lebih baik. Senyum adalah resep penting dan punya efek domino positif untuk menjalani hari-hari.

 Anita Desyanti (ThaTha), Editor Mommies Daily

Saya termasuk pribadi yang lebih memilih kata “doa” ketimbang “resolusi” – nggak ada alasan khusus, hanya seperti beban hidup saja kalau menggunakan kata kedua itu :D Sebelum masuk ke doa-doa di 2016 saya mau berbagi dulu, pelajaran apa saja yang saya peroleh di 2015.

  • Belajar memaafkan dan mengikhlaskan

Terdengar klise? Iya! Tapi kedua magic words itu terbukti ampuh berbekas di kepala dan hati saya. Pasalnya di awal 2015 lalu saya dikondisikan pada situasi yang mengharuskan saya untuk memaafkan seseorang yang menyakiti hati orangtua saya dan saya sendiri. Selanjutnya berusaha mengikhlaskan sekuat tenaga atas segala perbuatan tidak menyenangkan yang pernah saya dan orangtua saya terima. Semulus itukah jalan saya? Wohooo, tentu saja saya manusia yang jauh dari kata sempurna, tapi kekuatan doa dari orangtua dan terus mengingat Tuhan – menjadi kekuatan tersendiri untuk bangkit dan selangkah lebih maju dari pihak yang menyakiti saya untuk bilang “Saya memaafkan kamu, dan saya sudah mengikhlaskan semuanya!”. Langkah ini terwujud tak lepas dari pesan Mama yang berbunyi “Tetaplah berbuat baik, meski pada musuhmu sendiri!” *jleb jleb jleb

Apa jejak baik yang ditinggalkan? Migrain yang berminggu-minggu hinggap di kepala saya hilang begitu saja. Konsentrasi yang awalnya cepat buyar perlahan tapi pasti mulai kembali normal. Dan yang bikin saya tercengang, rezeki mengalir tak kunjung henti. Bukan hanya dari segi materi namun saya merasa segala niat saya dimudahkan oleh Tuhan. Dan terhindari dari musibah-musibah kecil.

  • Sabar, sabar dan sabar

Menurut saya pernikahan adalah media paling ampuh untuk menguji kesabaran seseorang (mana yang seiya sekata dengan saya? Hahaha cari teman :D). Urusan anak, suami, karier dan domestik numplek plek jadi satu ke dalam daftar panjang bernama to do list.  Hal ini berkaitan erat dengan multi peran seorang perempuan, walau suami bukan tipe pasangan yang menuntut saya harus menjadi ibu dan isteri seperti A, B, C dan seterusnya. Saya tetap mencambuk diri saya sendiri untuk terus menjadi pribadi yang sabar dalam menjalankan peran sebagai ibu, isteri dan pribadi Anita Desyanti yang seutuhnya. Ya termasuk lebih sabar menghadapi ruwetnya lalu lintas Jakarta, hahaha.

  • Silaturahmi

Percaya, deh, saat kita menjaga hubungan baik dengan banyak pihak. Secara bersamaan diri kita seperti sedang mengumpulkan energi positif. Efek ke diri sendiri juga jadi semangat menjalankan kegiatan sehari-hari. Kemana-mana pasti saja ada yang menyapa, ya di lingkungan rumah, kantor maupun lingkup sosial lainnya. Walau dengan pihak lawan? Yep! Saya tetap berusaha menyambung tali silaturahmi, kalau yang bersangkutan tetap cuek yang penting saya sudah memanusiakan manusia – as simple as that :)

Dari ketiga poin di atas, benang merah yang membuat saya tetap waras mengatasi cobaan demi cobaan hidup adalah selalu berusaha berpikir positif. Karena semua yang terjadi selalu meninggalkan hikmah.

Seiring hikmah 2015 yang sudah saya dapatkan, saya pun punya doa-doa sederhana yang harapannya bisa membuat 2016 penuh dengan prestasi. Tidak harus prestasi yang bombatis kok, sesederhana mengalahkan lezatnya donat kentang buatan Mama :D ,ingin belajar berbisnis, mewarnai 2016 dengan family trip dan terus mengasah empati saya kepada mereka yang membutuhkan bantuan, supaya kehadiran saya di dunia juga punya manfaat untuk orang lain. Semua itu lebih mudah terwujud jika saya menyadari pentingnya berpikir positif, seperti tema MD bulan ini.

“In order to carry a positive action we must develop here a positive vision.” -Dalai Lama


Post Comment