Working Mothers Lebih Mudah Stress Dibanding Working Dads

Pernah merasa nggak, kalau di rumah kita jadi lebih sering marah-marah daripada saat kita berada di luar rumah? Hmmm, jangan-jangan kita nggak sadar kalau kadar stress lagi melambung tinggi.

Saat urusan pekerjaan dan urusan rumah lagi berbenturan, saya pernah merasa ingin berteriak saking kesal dan bingung nggak tau mana duluan yang mau saya kerjakan. Kesal  sama diri sendiri karena “gini aja kok nggak bisa”, kesal sama orang sekitar yang saya anggap berperan dalam membuat saya berada di situasi nggak nyaman, kesal sama pasangan yang saya anggap nggak mengerti kesibukan saya dan kesal sama anak-anak yang kayaknya susah banget dibilangin.

Nyetir mobil-14 (1)

Paling enak emang kalau bisa me time. Masalahnya, seringnya, rasa stress ini datangnya nggak berbarengan dengan waktu luang untuk me time, hehehe. Yang udah-udah, saya mencoba untuk mengajak diri berpikir positif dan bilang kalau saya aja yang lagi lebay. Terus saya coba untuk melupakan rasa stress ini. Iya melupakan, bukannya mencari jalan keluarnya biar besok-besok nggak muncul lagi. Padahal, sama seperti per yang ditekan kemudian saat dilepas maka dia akan melambung tinggi, begitu juga dengan stress yang selalu kita sembunyikan, nanti lama kelamaan malah bisa berbahaya untuk –nggak hanya diri sendiri- tapi juga merembet ke banyak hal.

Stress. Now there’s a condition we are all too familiar with. Dan menurut American Psychological Association, para working mother memang memiliki tingkat stress yang lebih tinggi, bahkan dibanding para working dad, hahaha. Dan tahukah mommies seberapa besar kerugian yang terjadi kalau mommies,sebagai pusat emosi di rumah sering merasa stress?

Biaya kesehatan yang mahal

Menurut ahli management stress, Cynthia Ackrill, MD, stress merupakan alasan utama banyak ibu bekerja berkunjung ke dokter. Penyakit yang mereka rasakan, hampir 90% disebabkan oleh stress. Kok bisa begitu? Karena stess menurunkan imunitas tubuh.

De-stressors: Extreme self care adalah kuncinya. Yang paling utama adalah jangan sampai kita kurang waktu istirahatnya (ngomong sendiri di depan cermin, hehehe). Selalu sediakan healthy snacks di meja kerja dan jangan sampai telat makan. Olahraga rutin dan luangkan waktu untuk bersosialisasi. Nah, penting kan memang bersosialisasi itu setelah memiliki anak.

Menciptakan emosi negatif di rumah

Your stress is not just yours. Biasanya secara otomatis, apa yang kita rasakan akan berdampak pada orang-orang di sekitar kita. If momma ain’t happy, ain’t nobody happy.

De-stressors: Take time to transition to home after work. Kalau memang kita tahu bahwa beban kerja kita saat di kantor tadi sukses membuat mood kita berantakan, nggak ada salahnya mencoba menenangkan pikiran dalam perjalanan pulang menuju rumah. Bisa dengan mendengarkan lagu-lagu yang tenang atau bahkan sebaliknya lagu beat cepat yang membuat kita ingin berteriak, tapi kemudian sudah. Sampai rumah, at least bete kita sudah tersalurkan. Daaaaaan, turunkan ekspektasi ke diri sendiri. Saat dapat kabar dari sekolah anak saya bahwa saya harus membawa makanan bikinan sendiri untuk potluck, dan saya paham banget atas kemampuan saya memasak, jadi saya memilih membeli pempek belum digoreng, saya goreng di rumah dan saya bawa ke sekolah. Yah, seenggaknya sebelum sampai ke tangan saya itu pempek kan juga bikinan orang :p.

Kurangnya produktivitas kerja

Working mother, meskipun hadir secara fisik di kantor, namun saat anak sakit, biasanya pikirannya akan kemana-mana dan tidak maksimal dalam bekerja. Stress could eventually affect your job performance review and potential pay raise.

De-stressor: Coba minta pengertian manajemen kantor untuk memberikan kebijakan bekerja dari rumah (seperti kantor saya sekarang —- nyombong dikit boleh dong — hehehe). Atau coba cek kembali load kerja Anda. Jangan-jangan memang load kerja Anda sangat tinggi. Selalu buka kesempatan untuk berdiskusi agar ditemukan win-win solution.

At the end, jangan biarkan stress-stress kecil menumpuk menjadi besar dan semakin berat kada stress-nya. Selalu cari akar masalah dari stress yang Anda hadapi agar jiwa kita juga tetap terjaga kesehatannya. Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, mommies J.