Menyiapkan Anak Pindah Rumah

Ditulis Oleh: Lariza Puteri

Menyiapkan anak pindah rumah jauh lebih penting dari menyusun jadwal kapan lemari dan kasur diangkut ke rumah baru.

Minggu lalu kami di-php-in oleh tetangga baru di sebelah rumah. Maklum, setelah setahun lamanya menunggu ‘teman’ di rumah baru, kami terlampau senang dengan kehadiran tetangga baru. Apalagi saat tahu kalau mereka juga keluarga muda dengan 2 orang balita. “Wah, pas ni, bisa jadi teman baru Dhia untuk main,” pikir saya dan suami. Tetapi ternyata, beberapa hari ini mereka datang ke rumah baru yang terletak persis di sebelah rumah saya untuk sekadar berkunjung. Hiks, sedih! Kirain udah mau pindah.

Moving-Happiness-Home-Sketch-NSM

*Gambar dari sini

Setelah ngobrol-ngobrol dan berkenalan, barulah saya tahu alasan mereka tidak buru-buru pindah. Selain harus mengatur strategi kapan barang-barang dipindahkan, mereka juga sangat memikirkan perpindahan ‘hati’ anak-anak mereka ke rumah baru. Yes, memang benar, saya baru ingat, saya pun melakukan hal yang sama pada Dhia saat kami akan pindah rumah.

Menyiapkan mental anak untuk pindah ke lingkungan baru ternyata nggak gampang. Dhia terlanjur merasa nyaman saat kami memilih sebuah rumah kontrakan sebelum akhirnya beli rumah sendiri. Sebab, di lingkungan rumah kontrakan yang merupakan perumahan lama, banyak anak-anak yang seumuran dengannya dan bisa diajak bermain. Salah seorang teman Dhia yang sampai saat ini masih sering disebut adalah Tara.

Jadilah saya menyusun strategi untuk ‘menata’ hati Dhia sebelum pindah rumah ketika itu. Beberapa hal yang saya siapkan,

  1. Sering mengajak main ke rumah baru

Sama seperti tetangga baru kami, dulu kami juga sering mengajak Dhia ke rumah baru. Bahkan saya sudah mengajaknya sejak rumah dibangun. Kami juga menunjukkan beberapa ruangan di dalam rumah, termasuk kamar Dhia. Saya ingat sekali Dhia sangat senang waktu tahu ia akan memiliki kamar sendiri. Berkali-kali ia masuk ke kamar dan melihat lingkungan sekitar dari jendela.

  1. Jalan-jalan di sekitar rumah

Tak hanya ruangan di dalam rumah, lingkungan di sekitar rumah juga saya kenalkan pada Dhia. Seperti balita lainnya, hal pertama yang ia tanyakan adalah taman bermain. Beruntung, di perumahan baru kami disediakan taman bermain yang cukup nyaman. Kami bahkan selalu membawa sepeda mini Dhia agar ia lebih leluasa berkeliling komplek. Syukur-syukur bisa bertemu dengan anak seumurannya, sehingga Dhia bisa semakin semangat saat pindah rumah nanti.

  1. Menjelaskan alasan pindah

Awalnya kami kesulitan untuk menjelaskan alasan kami harus pindah rumah. Sebab, menurut Dhia, di rumah barupun ia harus memiliki teman seperti Tara yang bisa diajak bermain bersama. Sementara, karena perumahan kami tergolong baru, maka belum banyak keluarga yang pindah. Secara perlahan kami menjelaskan pada Dhia (ketika itu baru bersia 3 tahun), bahwa kita harus pindah ke rumah yang lebih besar, mengingat Dhia juga semakin besar.

  1. Melibatkan anak

Hal terakhir yang juga penting untuk menyiapkan mental anak sebelum pindah rumah adalah melibatkannya untuk mengepak barang-barang. Tidak perlu semua, paling tidak melibatkan anak untuk mengepak mainannya ke dalam satu kardus. Saat waktu pindah rumah tiba, saya biarkan Dhia membawa satu kardus mainannya yang berukuran kecil. Cara lain untuk melibatkan anak saat akan pindah rumah adalah dengan mengajaknya ikut bersih-bersih rumah. Dhia senang sekali ketika waktu bersih-bersih tiba.

20140823_091858

  1. Tahan emosi

Lelah, ribet, dan banyak yang harus diurus kadang-kadang membuat kita menjadi cepat marah. Hal ini terjadi saat waktu pindah rumah tiba. Namun, untuk menjaga emosi anak, kami pun sudah berkomitmen untuk saling mengingatkan bila tanda-tanda ‘tanduk’ muncul. Pokoknya, kami sangat berusaha membuat suasana pindah rumah seceria mungkin sehingga membuat Dhia merasa nyaman.

  1. Jeli melihat kondisi

Pindah rumah akan memerlukan waktu yang cukup panjang, rasanya tak cukup satu hari untuk menyelesaikan dan beberes semua barang. Saat inilah kadang-kadang kita lupa bahwa anak juga perlu waktu beristirahat dan tidur. Itulah sebabnya, kamar Dhia menjadi prioritas untuk rapi pertama kali. Saat jam tidur tiba, saya segera membujuknya untuk tidur sebentar agar terhindar dari rewel.

Saat ini usia kepindahan kami sudah satu tahun di rumah baru. Sesekali Dhia masih berbicara tentang Tara tapi sudah tidak sesering dulu. Dan yang jelas dia pun menikmati lingkungan barunya, hehehe.

 


Post Comment