5 Cara Jadi Ibu yang Lebih Sabar

Saya sering berandai-andai, seandainya sabar itu bisa dibeli dan dijadikan stok, pasti drama dalam hidup saya agak berkurang. Siapa merasakan hal yang sama?

Saat anak-anak masih TK, bisa dibilang sabar saya itu tak terbatas, hehehe. Ya iyalah, mereka masih kecil, jarang ngelawan dan nggak ada urusan belajar mengajar kan.

Ketika semakin besar, semakin kritis, banyak tanya dan komplein, urat sabar saya pelan-pelan mulai menipis L. Belum lagi ada kalanya saya capeeeek luar biasa, pulang kerja harus nemenin belajar karena  waktu itu si kakak mulai masuk SD. Yang ada nada bicara saya jadi tinggi dan anak saya malah sama sekali nggak bisa nyerap pelajaran apa pun.

Sampai suatu hari, selesai belajar yang penuh drama, Bagus bilang gini “Aku lebih senang mama di rumah. Kalo mama di rumah, mama marah-marahnya mungkin pas waktu belajar aja. Tapi sisanya aku bisa main sama mama dan ngeliat mama ketawa. Kalo mama kerja, tiap ketemu mama, mama marah-marah mulu.”  Mendengar kalimat begini keluar dari mulut anak saya? Sediiiiiiih sampai ke ubun-ubun. Rasa takut kalau anak saya merasa nggak nyaman di dekat saya membuat saya mulai mencoba untuk meningkatkan kesabaran saya. Dan it works.

photo 5

  1. Ekspektasi jangan ketinggian

Bagi saya pribadi, sukses menjadi orangtua yang menyenangkan ya hal pertama yang perlu dilakukan adalah turunin ekspektasi kita. Ibarat kata, saat ekspektasi kita tinggiiiiii, maka ketika realitas nggak sesuai dengan harapan, rasanya jauuuuuh lebih sakit dan lebih kesal. Nggak hanya ke anak, tapi ke diri sendiri. Kalau dulu saya selalu mau menjadi super woman dan super mom, yang segala sesuatu harus bisa dan terlihat hebat di mata anak-anak, sekarang sebaliknya, anak-anak harus tahu kalau mamanya bukan ‘Tuhan’. Mama juga bisa capek, mama nggak bisa masak dan mama juga bisa nggak ngerti soal matematika anak SD sekarang :D.

  1. Tempatkan diri kita di posisi si anak

Saat mengajar anak belajar, setiap kali anak saya nggak paham setelah saya jelaskan berkali-kali, saya akhirnya selalu mengingat lagi masa waktu saya seumur dia. Kemampuan saya saat ada di umur 7 tahun atau 8 tahun. Karena seringkali yang bikin saya nggak sabar itu karena saya membandingkan dengan kemampuan saya saat ini yang notabene udah tua :p.

  1. Memandang mata anak atau memeluknya

Setiap kali urat sabar saya mau putus, saya coba mandang ke mata anak. Dan ini berhasi meredam rasa kesal saya. Tatapan anak-anak yang masih polos dan penuh cinta (ceileeeee) membuat saya jadi nggak tega untuk marah-marah ke mereka. Bawaannya malah jadi mau meluk, hehehe.

  1. Time out

Nah, ini sering terjadi kalau anak-anak mulai ngeyel saat dikasih tahu atau ditegur. Biasanya, kalau anak-anak mulai ngeyel dan sedikit ngelawan, saya suka kepancing untuk tambah marah. Kalau sudah begini saya akan pergi dulu dari arena perdebatan, masuk kamar, nutup muka sama bantal dan teriak biar lega. Baru setelah itu keluar lagi. Itu time out ala saya. Kalau teman saya lain lagi.

Dia memilih untuk rehat sejenak dari area perdebatan, membuat minuman favoritnya seperti teh dan kemudian meminumnya. Biasanya setelah menghabiskan waktu dengan membuat minum, rasa marah atau kesalnya mulai berkurang dan sabarnya muncul kembali. Mommies bisa mencari time out yang lain kok.

Minum (2)

  1. Remember that children are human too.

Saya selalu mengingatkan diri saya kalau anak itu juga bisa merasa sakit hati dengan apa yang ia rasakan dan dengar. Apa iya saya mau anak-anak saya tumbuh dengan memendam rasa sakit hati ke saya, mamanya sendiri? Jelas nggak mau J.

Itu kiat sabar versi saya mom….. kalau versi mommies? Mau dong dapat bocorannya.

 

 

 


2 Comments - Write a Comment

Post Comment