Setelah Menjadi Ibu, Baru Saya Paham

Banyak hal yang dulu dilakukan oleh mama saya rasa-rasanya susah banget saya pahami, kenapa beliau melakukannya. Setelah saya menjadi seorang ibu, saya akhirnya paham.

Siapa di antara mommies di sini yang setelah memiliki anak, suka mengingat-ingat kembali perlakuan orangtua kita dulu terhadap kita?  Dan kemudian membatin  “oooh, dulu mama begini karena alasannya ini toch.”  Saya sering melakukan itu. Di saat urat sabar saya lagi pendek menghadapi polah kedua anak saya, saya suka kembali mengingat bagaimana dulu mama dan papa saya bersikap ke anak-anaknya (susah move on nih saya anaknya, :p).

Kayaknya banyaaaaaak banget aturan atau kekhawatiran yang dulu sering banget  terlontar dari mulut kedua orangtua saya. Sejak saya kecil, yang awalnya menikmati aturan yang dibuat, hingga beranjak remaja dan kemudian menganggap rasa khawatir orangtua itu berlebihan dan akhirnya malah bete sendiri dan mulai sedikit memberontak.

sk-back-mom-and-boy

*Gambar dari sini

Sedikit cerita, saya tiga bersaudara dan merupakan anak bungsu. Mama saya itu tegas dan galaknya luarbiasa. Masa SMA saya disibukkan dengan mencari cara supaya saya bisa jalan sama teman-teman tanpa dikawal sama bapak supir. Masa kuliah juga asik memutar otak gimana cara agar saya bisa jalan sama pacar tanpa diribetin jam malam.

Bayangkan saja, sampai saya sudah kerja dan selama belum menikah, mama masih memberikan ‘jam malam’ untuk saya. Mama juga yang membuat kakak saya terpaksa menolak  rejeki PMDK dan melepaskan kesempatan kuliah di Universitas Diponegoro hanya karena itu di luar kota dan mama nggak mau anak-anaknya nge-kost (duh). Untung kemudian si kakak diterima di Universitas Indonesia.  At least sama-sama negeri, hehehe.

Well, pokoknya, saya suka merasa bentuk perhatian mama itu hanyalah wujud lain dari bawel. Nggak melihat ada gunanya. Tapi, semua berubah setelah saya menjadi seorang ibu. Di sinilah saya paham, begini  toch apa yang mama rasakan dulu. Rasa khawatir, rasa cinta, ingin menjaga anak-anaknya dan ingin anak-anaknya mendapat yang terbaik. Karena sekarang, apa yang dulu mama saya lakukan, saya juga lakukan terhadap anak-anak.

Jangan telat makan dan makannya dihabiskan

Mama nggak pernah bosan bertanya ke saya, sudah makan atau belum. Mama pernah marah luar biasa waktu tahu kalau sampai jam 2 siang saya belum juga makan siang. Buat saya sikap mama dulu nyebelin. Dan sekarang saya kerap bertanya ke anak saya, apakah mereka sudah makan, jangan telat makannya dsb.  Apa saya hanya iseng  melakukan hal itu? Tentu saja tidak. Intinya hanya satu, bahwa saya nggak mau anak-anak jatuh sakit dan kelaparan. Jadi saya pastikan anak-anak makan tepat waktu dan kenyang. Dan, itu yang mama saya inginkan dulu pastinya.

Jangan lupa tidur siang atau jangan kecapean

Sampai lulus SD saya wajib tidur siang. Dulu rasa-rasanya kok tidur siang itu menderita bangeeeet. Maunya maiiiin terus. Setiap diminta tidur siang, saya suka sok drama dengan menangis. Dan sekarang,  saya tahu kalau mama saya ingin saya mendapat cukup istirahat. Biar saya di sekolah bisa fokus. Karena itu juga alasan mengapa saya meminta anak-anak saya untuk tidur siang.

Jangan terlambat pulangnya.

Ada masanya saya senang melipir dulu ke mall sepulang sekolah. Atau sekadar main ke rumah teman.  Dari izin pulang jam 4 sore, nggak jarang saya molor sekian jam. Dan setiap kali terlambat, setiap kali juga dapat omongan yang menyayat hati  (tsaaaah) dari mama. Suka ngedumel dalam hati “Hih, cuma telat berapa jam aja kok marahnya heboh.” Dan, lagi-lagi saya paham kenapa mama segitu khawatirnya kalau anak-anaknya pulang telat.

Setiap kali anak-anak saya pulang telat (padahal dijemput oleh supir atau ikut jemputan sekolahnya) 1001 rasa khawatir langsung menghantui. Ada aja pikiran-pikiran jelek yang melintas di otak saya. Takut anak saya diculik, takut kecelakaan, takut sakit dan sederet takut lainnya.  Hati saya baru bisa tenang, adem ayem dan tentram begitu anak-anak ada di rumah dan terlihat di radar penglihatan saya.

Sekarang sudah ada ponsel yang membuat saya bisa menghubungi pak supir untuk bertanya sudah di mana keberadaan anak-anak saya. Lha kalau dulu? Belum zamannya ponsel (lagi-lagi saya membocorkan betapa matangnya usia saya :p), berarti mama menunggu saya pulang dengan cemas tanpa kepastian. Duuuh, kebayang gimana nggak tenangnya hati.

Believe it or not, hingga detik ini saat saya sudah menjadi isteri orang dan menjadi ibu dari dua anak, di mata mama saya masih tetap her litte sweety pie-nya. Yang kalau mama menginap di rumah saya kemudian saya pulang larut malam, beliau akan sibuk telpon bertanya saya di mana dan nggak bisa tidur sebelum mendengar suara mobil saya masuk garasi. Yang tetap memarahi saya kalau saya menyingkirkan potongan brokoli dari sayur yang saya makan. Dan selalu komplein kalau saya pake baju tanpa lengan karena takut saya masuk angin, hahaha.

Tapi sekarang, saya bisa memaklumi hal itu. Saya bisa menerima seluruh teguran dan komplein dari mama. Karena sekarang saya sadar, bahwa sebagai orangtua, rasa cinta dan sayang kita pada anak datang satu paket dengan rasa khawatir yang mungkin memang berlebihan. Dan paket lengkap itu tidak ada tanggal kadaluarsanya. Karena itu akan terus ada selama kita hidup sebagai orangtua.

Tapi, berbeda dengan mama dulu yang jarang menjelaskan alasan di balik omelan-omelannya selain kalimat “because I said so…”. Sekarang saya selalu menjelaskan ke Bagus dan Djati alasan di balik sikap yang saya atau ayahnya ambil. At least di tengah-tengah rasa sebal yang mendera mereka karena dapat mama yang bawel, terselip pengingat bahwa mamanya melakukan hal itu semua karena rasa sayang yang dimiliki.

Your son will hold your hand only for a little while, but he will hold your heart for a lifetime. Saya percaya kalimat ini :).