5 Ways To Wean Your Baby

Do children naturally wean themselves? Yes, they do. Some wean earlier, some later, but they all wean themselves eventually.

Kalimat di atas adalah jawaban dari Jan Barger, seorang konselor laktasi yang saya temukan di Google, saat saya pusing mencari cara agar Menik mau disapih. Perjalanan menyusui  Menik akhirnya selesai di tahun ke tiga. Tepatnya ketika Menik masuk usia 3 tahun 4 bulan. Kenapa ngaret?  Karena saya sudah coba semua cara menyapih yang saya tahu, dari hasil baca-baca, tanya ke teman sampai konselor laktasi, hasilnya nihil.

weaning 1

*Gambar dari sini

Sebetulnya ada banyak sekali cara menyapih, tapi Kelly Mom merangkumnya menjadi lima jenis:

  1. Child-led weaning: Proses sapih yang terjadi saat si anak merasa tidak lagi butuh disusui. Biasanya terjadi pada anak-anak di atas usia setahun. Jika memang benar-benar anak yang menyapih dirinya sendiri, maka kebanyakan terjadi di antara usia 2- 4 tahun.
  2. Mother-led weaning: Proses menyapih yang sering juga disebut dengan weaning with love. Proses menyapih dilakukan dengan halus dan menunggu tanda bayi siap disapih, yang biasanya muncul mulai usia 18 bulan, tapi si ibu juga tetap aktif memberikan pengertian pada si anak bahwa waktu menyusu sebentar lagi selesai.
  3. Sudden weaning: Berhenti menyusui dengan mendadak. Sebetulnya penyapihan mendadak ini bisa membuat stres kedua belah pihak. Ibu bisa diserang plugged ducts, breast infection atau bahkan breast abscess. Pada anak bisa terjadi perubahan emosi yang bisa menuju ke mood swings dan depresi.
  4. Gradual weaning: Melakukan sapih secara bertahap dan biasanya diberikan pengganti nutrisi, afeksi, dan atensi sebagai kompensasi anak tidak menyusu.
  5. Partial weaning: Dilakukan oleh orangtua dengan keyakinan bahwa weaning is not an all-or-nothing process. Jadi Anda bisa tetap menyusui sekali (atau lebih) dalam sehari dan kebiasaan menyusu di waktu lainnya dieliminasi

Nah, kalau dilihat dari lima cara menyapih ini, saya melakukan semua cara kecuali nomor 3. Makanya proses menyapih bayi berubah status menjadi menyapih balita. Kenapa saya tidak mencoba Sudden Weaning alias Cold-Turkey Weaning? Karena saya memang tidak tergesa-gesa dan saya tidak mau melihat anak saya sedih karena dipaksa berhenti menyusu. Satu-satunya alasan yang membuat saya mencoba terus untuk menyapih adalah omongan orang lain di sekitar.

Perjalanan menyapih Menik sudah saya lakukan menjelang ulang tahunnya yang kedua. Setiap ada kesempatan, saya bicara pada Menik, bahwa waktu menyusu sudah habis. Tapi mungkin Menik merasa kalau ibunya setengah hati, sehingga ia cuek saja tetap menyusu. Lagipula, saya adalah tipe ibu yang tidak tahan mendengar tangisan anak sebelum tidur karena minta susu. Jadi selagi masih bisa menyusui, kenapa tidak?

Akhirnya Menik memang melepaskan susu ibunya secara perlahan. Dimulai dengan kompromi kalau mau menyusu hanya di rumah saja, hingga hanya menyusu dua kali sehari (sebelum tidur siang dan tidur malam). Menik menerima aturan ini dengan baik, tidak ada protes, sehingga hati saya senang menjalankannya.

Bulan Januari 2015, Menik tiba-tiba bisa tidur siang sendiri. Tanpa raungan yang menurut saran banyak orang “cuekin aja kalau nangis minta nyusu, harus tega supaya bisa disapih” tentang menyapih. Akhirnya 17 Februari 2015, tepat saat usianya 3 tahun 4 bulan, Menik resmi menyapih dirinya sendiri setelah tiba-tiba selalu tidur malam sendiri tanpa minta susu ibu. Enaknya kalau self weaning ini, tidak ada drama payudara bengkak karena berhenti menyusui. Plus, si anak juga tidak ada perasaan sedih karena dilepas paksa.

Dua kiat yang bisa saya bagikan adalah pastikan perut anak kenyang sebelum tidur dan habiskan energinya yang luar biasa dengan banyak bermain. Biasanya anak akan tidur nyenyak karena capek dan kenyang.

Nah, bagaimana dengan Anda? Ada yang masih berjuang menyapih anaknya? Santai dan lakukan yang sesuai dengan hati saja, ya! Pokoknya ingat, yang menjalankan proses ini adalah ayah, ibu, dan anak. Selebihnya tidak ada urusan, kecuali urusan risih melihat balita disusuin :p.

“Your baby, your rules!”

 

 


One Comment - Write a Comment

  1. Hi Sazkii, lagi galau soalnya belum bisa nyapih di ultah Daru yang kedua, tiba-tiba nemu artikel kamu, jadi tenang rasanyaaa.. hehehe..

    Gue termasuk yang nggak mau maksain (atau males? beda tipis hahaha), pengennya semua berjalan alami seperti yang elo alami. Sekarang Daru nenennya hanya pas tidur siang dan malem, dan satu kali saat bangun malam. Gue pun udah mencoba langkah-langkah yang elo lakuin (1-5 kecuali no 3). Secara insting gue pengen Daru berhenti nenen secara sendirinya, tapi emang keder juga kalo denger emak2 lain yang berhasil menyapih tepat di usia anaknya yang kedua.

    Dengan artikel ini, gue lebih pede jadinya hehehe.. Thank you ya Saz!

Post Comment