Motherhood Monday: Nilam Sari, “Mampu Mempertahankan Usaha Ibarat Melahirkan”

Siapa sangka, usaha Kebab Turki Baba Rafi yang sudah dirintis 11 tahun sempat mengalami krisis dan berada di ujung tanduk. Mau tahu bagaimana cara Nilam Sari Setiono mempertahankan usahanya?

Siapa yang suka kebab? Saat mendengar makanan asal Timur Tengah ini,  rasanya banyak orang yang langsung teringat dengan Kebab Turki Baba Rafi. Ribuan outletnya, sudah menjamur disetiap sudut jalan. Lagi pula, bisa dibilang Baba Rafi merupakan pelopor sajian kebab di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan bertemu dengan Nilam Sari Setiono, perempuan di balik suksesnya Kebab Turki BabaRafi. Di ruang kantornya yang nyaman di bilangan Fatmawati, ia banyak bercerita bagaimana dirinya bersama sang suami, Hendy Setiono, jatuh bangun membangun usaha yang mereka rintis selama 11 tahun.

Siapa sangka usaha yang mereka rintis semasa kuliah dengan bermodalkan satu gerobak akhirnya mampu berkembang hingga 1200 oultet, yang tersebar dari Sabang sampai Marauke bahkan sudah  membuka outlet di 8 negara. Pernah mengalami masa krisis di mana usahanya mereka sudah di ujung tanduk, akhirnya Nilam dan suaminya mampu mempertahankan usahanya hingga saat ini.

Penasaran dengan cerita serunya, berikut kutipan wawancara saya dengan Ibu dari Rafi Darmawa, Reva Audrey Zahifa dan Ready Enterprise.

Nilam

Dari kuliah buka usaha, jadi nggak pernah kerja kantoran, ya?

Nggak. Dulu kan kalau mau kerja kantoran harus punya ijazah. Sementara waktu itu saya menikah umur 19 tahun, dan ternyata sangat subur karena langsung punya anak.

Aku sempat jadi  guru les, Mas Hendy sempat kerja di Ray White. Tapi waktu itu  kita memang merasa nggak happy. Akhirnya berpikir, aduh, enaknya ngapain ya? Mikirnya mau bikin bisnis yang modalnya juga nggak terlalu besar. Waktu itu kita melihat bisnis teman yang punya warung,  jualan nasi bungkus, gorengan, dan kopi, tapi dia mampu beli mobil carry. Untuk ukuran 10 tahun yang lalu kan lumayan sekali bisa beli mobil carry. Oh, ya, teman aku ini juga  bisa beli tanah juga, lho, dari usahanya. Dari sana kita sempat terbengong-bengong. Usaha kecil seperti itu saja hasilnya sudah begitu.  Berartikan kami bisa bikin usaha yang dimulai dari gerobakan, dan kalau jalan bisa menghasilkan uang juga.

Awalnya sudah kebab?

Belum. Pertama kali kita bikin usaha burger, Yummy Burger, karena waktu itu di Surabaya ada Bernardi yang menjual bahan semuanya.  Soalnya kalau bisnis makanan yang aku harus masak lebih dulu, Mas Hendy bisa pucat. Aku nggak bisa masak, hahaha. Kalau burger kan gampang, aku nggak perlu masak yang macam-macam.

Waktu itu, butuh modal berapa, sih?

Modal awalnya itu 4 juta, dan itupun hasil dari uang angpau saat nikahan. Dari uang itu, akhirnya bisa beli gerobak, bahan baku, sewa tempat, dan cadangan bayar gaji karyawan. Waktu itu lokasinya benar-benar di pinggir jalan. Hasilnya lumayan, sehari bisa 200 sampai 300 ribu. Untuk zaman dulu, sehari bisa dapat 200 ribu kan sudah cukup besar.  Dalam setahun akhirnya kita bisa bikin sampai 6 gerobak.

Tapi akhirnya setelah ada Edam Burger, yang menjual dengan harga yang lebih murah, akhirnya usaha kami drop. Zaman itu akhirnya semua orang seperti berlomba-lomba bikin usaha burger. Akhirnya omset sehari dari 200 sampai 300 ribu, turun drastis. Sehari hanya dapat 20 ribu. Malah bisa sama sekali nggak laku. Sukseslah dalam 2 bulan kita tutup.

Selanjutnya : Transformasi usaha burger menjadi kebab.