Serba-serbi Bedah Plastik

Saat menikmati coffee break sebelum acara press briefing “Keselamatan Pasien dalam Tindakan Bedah Plastik: Apa Yang Harus Dicermati dalam Memutuskan Tindakan Bedah Plastik?” dimulai, saya sempat overheard ‘curcol’ salah seorang narasumber. Beliau nampak gemas sekali melihat menjamurnya klinik-klinik kecantikan baik resmi maupun tidak resmi yang mengklaim bisa melakukan tindakan ‘operasi plastik.’ Padahal, bila dirunut itu hanya tindakan estetika tanpa latar belakang kompetensi bedah plastik sama sekali. Bahkan ‘dokter’nya juga baru dokter umum, atau malah bukan dokter sama sekali. Tindakan ini berbahaya karena tidak ada standarnya. Berbeda dengan operasi plastik yang sudah terstandarisasi prosedurnya mulai dari pra-tindakan, tindakan, sampai pemulihan.

Selain soal pelaksananya, materi dan obat-obatan yang digunakan juga tidak terstandar, dan bahkan sebenarnya tidak boleh digunakan karena tidak memenuhi standar medis. Misalnya implan silikon, yang berstandar medis bentuknya gel padat yang didesain tidak mungkin bocor, seperti beberapa tipe kaca mobil yang bila remuk tidak pecah menjadi serpihan kecil-kecil yang membahayakan. Sementara itu, material yang biasa digunakan dalam tindakan estetik non-medis ini walau sama-sama silikon tetapi silikon cair yang sebenarnya untuk kalangan industri. Silikon cair inilah yang berisiko pecah dan menimbulkan bahaya lain, bahkan bisa fatal dan mematikan. Biasanya silikon industri ini memang harganya jauh lebih murah daripada silikon medis.

Belakangan, menurut dr. Irena Sakura Rini, MARS, SpBP-RE, Sekjen PERAPI, bahan-bahan yang digunakan lebih nyeleneh lagi. Rombak hidung menggunakan minyak goreng (betul, Mommies nggak salah baca, memang minyak goreng :D), sampai penis yang terdeformasi, yang setelah dicek ternyata disuntik minyak oli. Saya dan peserta lainnya tercengang, yang pria mungkin malah ngilu, ya! *eeww*

*Gambar dari sini

Kebanyakan pasien yang menjalani operasi plastik abal-abal kemudian mengalami efek samping yang tidak diharapkan, ujung-ujungnya datang ke dokter bedah plastik juga, minta ‘dibetulin.’ Waktu ditanya tindakannya di mana dan oleh siapa, dijawabnya di salon/klinik anu, dokter x. Setelah dicari-cari datanya, si dokter ini jangankan terdaftar sebagai anggota PERAPI (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik, Rekonstruksi, dan Estetik Indonesia), kadang dokter umum saja bukan. Kebanyakan malah cuma pegawai klinik biasa yang kebetulan tahu bagaimana cara menyuntik dan mempunyai akses ke bahan-bahan yang bisa digunakan untuk ‘operasi plastik’ abal-abal ini.

Cek apakah dokter bedah plastik sudah terdaftar.


Post Comment