Family Friday: Chef Haryo – Mencontohkan Pola Hidup Sehat & Tepo Seliro Terhadap Anak

Perawakannya tinggi tegap, gayanya santai dan sangat casual, dengan ciri khas dompet yang dilengkapi dengan rantai menjuntai a la anak motor – salah satu identitasnya sebagai pecinta motor tua. Pertama kali mengetahui sosoknya lewat televisi, terus terang saya langsung ngefans dengan beliau – penampilannya beda dari chef kebanyakan. Saat bekerja di majalah beberapa tahun silam saya berkesempatan mewawancarai beliau. Dan belum lama ini momen itu terulang lagi, and guess what? He still remembers me! Chef Haryo tetap pribadi yang ramah dan easy going. Tapi yang terpenting adalah berbincang dengannya bisa mendapatkan ilmu-ilmu baru.

IMG_8221

Mekipun identik dengan dunia masak memasak, pria yang bernama lengkap Haryo Pramoe ini tak segan mencoba dan mempelajari bentuk karya seni lainnya. Melukis kini menjadi pilihannya mengekspresikan bakat yang sebetulnya terpendam sejak lama. Selain itu, Chef Haryo juga menaruh perhatian serius terhadap kepekaan sosial si kecil Muhammad Yoda Mahendra Manaj (8) dan pola sehat keluarga kecilnya. Seperti apa Chef Haryo menerapkan hidup sehat dan memberikan contoh hidup bertepo seliro terhadap putranya? Yuk Mommies, simak obrolan saya dengan Chef Haryo berikut ini.

Sedang sibuk berkarya apa selain berkecimpung di dunia kuliner?

Saya sedang melukis! Sebetulnya saya itu dari dulu ingin berkecimpung di seni rupa, tapi saya pendam. Singkat cerita saya berkecimpung di dunia memasak, tapi di tengah jalan perasaan ingin melukis itu semakin kuat. Akhirnya saya benar-benar melukis. Aliran saya ekspresionisme, abstrak dan dadaisme. Dadaisme itu kalau orang ke kanan, saya ke kiri – something contrast pokoknya.

Awalnya terpanggil untuk melukis?

Sebetulnya saya tidak mengerti kategori aliran dan latar belakang seni, tapi saya percaya seni itu punya Tuhan, seni itu adalah keindahan. Contohnya bagaimana saya bisa menikmati mata seorang perempuan yang bagus, memakai cincin handmade ini – cincin ini sebetulnya karya Allah, tapi jatuh ke tangan-tangan yang mempunyai keindahan, misalnya Henk Ngantung – dia adalah seorang pematung sekaligus gubernur DKI Jakarta yang ditunjuk langsung oleh Soekarno kala itu. Nah itu, karena Soekarno percaya seniman itu adalah perpanjangan tangan dari Tuhan. Dia bisa murni membuat keindahan, membuat tata kota dan estetika itu secara murni.  Ternyata saya punya itu, dan saya tidak tahan, akhirnya saya melukis. Jadi seperti panggilan jiwa.

Tanggapan istri dan anak?

Tanggapan istri, dia tidak suka dengan rumah kotor, hahaha. Jadi lukisannya saya taruh di kamar mandi yang kering, dan kamar mandi saya jadikan sebagai gudang. Sejauh ini lukisan saya ada 25. Saya mulai melukis tahun 2010. Anak selalu saya libatkan. Jadi begini, sebetulnya anak itu seperti bermain, terlihat tidak serius padahal sedang merekam. Melakukan beberapa goresan lalu dia tinggal pergi. Tapi suatu hari saya melihat lukisan Yoda di iPad-nya, saya sendiri kaget. Ternyata dia merekam dan menyerap apa yang saya lukis, dan dia berkreasi dengan gaya dan warna yang lebih ajaib. IQ anak saya 138, Hitler 140 (tersenyum lebar). Jadi kalau Yoda sedang melihat sesuatu seperti sedang bermain saja, tidak serius. Tapi ternyata dia sedang menangkap sesuatu.

Cari tahu bagaimana cara Chef Haryo menanamkan kepekaan sosial terhadap anaknya Yoda di halaman berikutnya.


Post Comment