Jangan Anggap Sepele Fimosis

Sick_kid_t751x500*Gambar dari sini

Beberapa bulan yang lalu, Fadhlan (lebih sering saya panggil Kakang) mengalami panas tinggi yang entah darimana asalnya. Pilek tidak, batuk juga nggak nggak. Sebelum memutuskan memberikan obat penurun panas, saya memeriksa keadaan mulutnya dan sedikit bertanya pada dia di bagian mana yang sakit. Hanya gelengan kepala Kakang saja yang menjadi jawaban. Saya tanya sekali lagi ada yang sakit atau tidak, anaknya menggeleng lebih kencang dan menjawab “Tidak, Ma!” dengan lantang. Ketika saya ukur suhu tubuhnya berada di angka 39 derajat. Baiklah, saya tunggu satu jam lagi baru kembali memeriksa suhu tubuh kakang dan mengambil keputusan untuk memberikan obat penurun panas atau tidak.

Satu jam kemudian, suhu tubuh Kakang anteng di angka 39 derajat. Setelah berdiskusi dengan suami, akhirnya kami memutuskan memberikan obat penurun panas dan berharap Kakang tidak mendapatkan sakit yang bikin cemas orangtuanya. Herannya, Kakang tidak lesu. Justru, meski panas tubuhnya diatas rata-rata, dia aktif bermain, lompat ke sana ke mari dan makan banyak. Jus buah yang saya buat dan minum air putih pun tetap rajin. Saya juga memantau kejernihan air seninya. Dan menurut pantauan saya saat itu, semua baik-baik saja.

Esok paginya, suhu tubuh Kakang turun hingga 38,5 derajat. Saya agak lega. Melihat kondisi fisik anak yang masih aktif, akhirnya saya biarkan dia tetap bermain meski saat lompat-lompat tetap saya peringatkan agar tidak terlalu lincah. Sayangnya, setelah makan siang, suhu tubuh Kakang kembali naik ke 39 derajat. Oke, saya dan suami langsung sepakat membawa Kakang ke rumah sakit langganan kami.

Setelah dokter melihat keadaan Kakang, secara fisik dokter mengatakan kakang tidak terkena flu untuk hari ini. Melihat anaknya menjawab pertanyaan dokter dengan penuh semangat, saya jadi bingung ada apa dengan Kakang. Sampai akhirnya, dokter meminta izin Kakang untuk melihat kemaluannya. Awalnya saya juga bingung dan Kakang tidak mau menuruti permintaan dokter dengan alasan malu. Setelah diberi pengertian dan saya jelaskan bahwa sayapun mendampingi, Kakang setuju untuk diperiksa ujung penisnya. Sejenak dokter melihat ujung penis Kakang, menarik kulupnya kemudian menatap saya dan suami. “Ini fimosis ya Pak, Bu”.

Kami berdua kaget dan bingung. Saya sendiri baru sedikit mengerti tentang fimosis. Itupun setelah mendengar cerita dari sesama member Mommies Daily, yaitu Mrs. Adi, yang bercerita bahwa anaknya telah disirkumsisi karena mengalami fimosis. Mendengar kesimpulan dokter spesialis anak tersebut, kami berdua langsung bertanya apa yang bisa kami lakukan. Harapan saya, Kakang tidak perlu disirkumsisi sekarang. Sayangnya, anjuran dokter adalah sirkumsisi dan akan dilakukan oleh dokter bedah anak. Mendengar kata dokter bedah, lutut saya lemas. Bagaimana ceritanya anak saya yang belum genap empat tahun akan dikhitan di meja operasi. Meski ngeri, kami menuruti anjuran dokter untuk menemui dokter bedah anak.

Secara umum, dokter spesialis anak ,menjelaskan kepada kami bahwa fimosis adalah kondisi di mana kulup melekat pada kepala penis dan lambat laun akan menutupi kepala penis. Akibatnya, urin tidak bisa keluar dengan normal dan penis tidak bisa dibersihkan dengan sempurna. Umumnya, fimosis terjadi karena tidak berkembangnya ruang di antara kulup dan penis. Fimosis yang seperti ini disebut fimosis bawaan lahir (dan fimosis ini yang terjadi pada Kakang). Namun, ada juga fimosis yang terjadi diakibatkan infeksi terus menerus (peradangan berulang pada kulit depan penis atau disebabkan benturan (menyebabkan trauma).

Bagaimana gejala fimosis? Lihat di halaman selanjutnya ya!


7 Comments - Write a Comment

  1. 2 anak saya jg fimosis. anak pertama ketahuan di umur 3 hari. krn sejak lahir dia pipis cm 1-2x sehari, rewel trs tiap malem. awalnya kami pikir krn newborn jd adaptasi dgn lingkungan. trs ada bercak merah di popoknya, sampai akhirnya ada darah/lecet di lubang pipisnya. saya bawa ke dokter & diputuskan utk khitan hari itu jg..
    setelah anak pertama khitan di usia 3 hari, saya pikir bsk adeknya jg bakal saya khitan langsung aja, fimosis ataupun tidak.. eh ternyata adeknya pun jg ngalamin, sejak lahir pipisnya cm 1-2x sehari. akhirnya dikhitan di umur 3 hari jg..

    dan saya selalu hancur lebur pas anak2 dikhitan, gak sanggup nungguin prosesnya, malah kejer di pojokan.. tp insyaAllah itulah yg terbaik, jd harus dijalanin..

  2. Mrs. Adi

    setahun yang lalu nih nungguin anak di luar kamar operasi karena fimosissambil mewek, iya biarin dibilang lebay tapi ya perasaan emak2 ga bisa dibohongin. selesai operasi eyang dokter bedah manggil saya dan bilang operasi lancar tapi kayaknya nara ada hidrokel di buah zakarnya. harus dipantau 3-6 bulan klo ga hilang harus di keluarin karena bisa mengganggu produksi sperm saat dewasa. yah lemes lagi denger anaknya harus masuk ruang operasi T_T. tapi Alhamdulillah di bulan ke 3 setelah sirkum eyang dokternya bilang hidrokel nara sudah ilang jadi ga perlu dikeluarin :D. sekarang sih after sirkum peenya lancar jaya. buat fadlan toss ya sm kakak lego mobil :))

    1. Aahhh… Aku malah ga tau kalo si Mas ada hidrokel. Alhamdulillah udah sehat bener ya sekarang. Beneran loh, kalo ga ada kamu, aku pasti udh bingung bener nyari tau soal fimosis dan persiapan menjelang sunat. yang paling kerasa itu pas jagoan dibius ya. Mewek aku juga. Syukurlah, masa2 itu sudah lewat. Leganya double skrg, nih Mrs Adi. Udah terbebas dari fimosis plus udah menunaikan kewajiban mengkhitan anak *tarik nafas. Thank you yaaaaa *peluk peluk

    1. Hihihihi.. Iya, mbak. Tidak semua orang paham mengenai fimosis. Saya sendiri saat diberi tahu dokter anak saya terkena fimosis, malah bengong dulu. Untung ada Mrs. Adi yang mau membantu menjelaskan dgn detil pada saya. Tapi iya sih, kalau memang sebaiknya harus dikhitan, ya dikhitan saja. Daripada harus sakit berulang dan mengganggu kesehatan anak kita, kan

Post Comment