Raising A Reader

Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah artikel mengenai tingkat literasi di Indonesia. Literasi di sini diartikan sebagai kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membaca. Bukan hal aneh, sudah sering saya dengar bahwa tingkat literasi di Indonesia ini rendah. Berdasarkan beberapa sumber, salah satunya menurut Indeks Pembangunan Pendidikan UNESCO, Indonesia berada pada urutan ke-69 dari 127 negara. Hal yang perlu diperhatikan, apa yang terjadi sekarang ini kebanyakan adalah aliterasi. Aliterasi merupakan suatu kondisi di mana tidak adanya minat atau keinginan seseorang untuk membaca. Tentunya berbeda dengan iliterasi. Iliterasi berarti tidak memiliki kemampuan membaca. Oleh karena itu, masalahnya adalah minat baca masyarakat yang rendah.

Aliterasi ini efek lebih jauhnya bisa merugikan juga lho! Bisa saja karena ketidaktertarikannya seseorang untuk membaca menyebabkan lalai dalam melakukan sesuatu. Contoh kecilnya, menyepelekan fungsi buku manual, rambu-rambu jalan, dan lain sebagainya. Karena pentingnya minat membaca ini, maka kita sebagai orang tua sangat perlu untuk menanamkan jiwa gemar membaca pada anak-anak kita. Dan gerbang utamanya, tidak lain adalah rumah kita sendiri.

Then, what can we do to raise a reader?

B*Gambar dari sini

1. Keteladanan
Saya yang senang membaca ini sedikit banyak merupakan pengaruh dari Bapak saya. Dulu, beliau sering mengajak saya ke toko/pasar buku, baik untuk membeli maupun hanya sekedar window shopping. Di lain waktu, saya pun sering mendapati beliau menyendiri untuk membaca buku. Genre yang dibaca pun bermacam-macam, mulai dari buku agama, bisnis, ekonomi, tergantung mood beliau saat itu. Dengan seringnya anak melihat Bapak membaca, tentunya membuat mereka akhirnya penasaran dengan buku dan tertarik untuk membacanya.

2. Menyediakan sarana
Sewaktu saya kecil, buku-buku di rumah hanyalah koleksi literatur Bapak semasa kuliah. Unfortunately, tidak ada buku anak-anak sama sekali, atau setidaknya novel lah. Inilah yang saya sayangkan. Karena seringnya melihat beliau membaca, tentunya saya jadi tertarik untuk membaca juga. Tapi saat saya mencari buku yang “asyik” untuk dibaca, yang saya temukan hanyalah buku dengan bahasa yang “berat” bagi anak-anak. Saya bahkan sempat berniat untuk membaca literatur-literatur tersebut, saking lagi pengen baca buku! Sudah mulai membaca 1 buku malah, bersusah payah mencerna maksud dari buku Dasar-Dasar Ilmu Sosial :D Untungnya, hal itu tidak mengurangi minat membaca saya. Good news is, besoknya saya menemukan taman bacaan di dekat sekolah. Hahaha! Di sanalah saya menemukan surga atas novel dan komik-komik khas anak-anak.

Dari situlah, timbul keinginan saya untuk memiliki mini-library. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang ramah buku di rumah. Saya ingin anak saya dekat dengan buku dan mudah saat mencari sesuatu untuk dibaca. Sayang kan, kalau minat baca anak hilang karena sulit mendapatkan buku.

3. Anggaran Khusus Buku
Ini terkait dengan penyediaan sarana buku bacaan di rumah. Anggaran ini tidak wajib sih, hanya lebih baik jika memang ada alokasi khusus untuk pengeluaran buku. Jadi setiap bulan, orangtua dan anak berbelanja buku sesuai budget yang telah ditentukan. Anggaran ini bisa dalam bentuk satuan uang atau satuan buku. Misalnya, jatah buku bulan ini 2 buku atau bisa juga sejumlah xxx rupiah. Dengan ini, anak bisa menambah koleksi bacaannya sesuai minat mereka.

4. Dongeng
Menurut saya, dongeng merupakan salah satu cara terbaik untuk mengenalkan buku pada anak-anak. Luar biasanya efek dongeng ini seperti yang telah diulas oleh di artikel “Mengajak Anak Cinta Membaca Bersama Rabbit Hole”, bahwa dongeng bisa meningkatkan “love affair” antara anak, orangtua, dan buku. Selain itu, dongeng juga dapat meningkatkan kemampuan membaca anak. Sehingga sangat baik jika kita mengenalkan buku pada anak melalui dongeng sejak usia dini.

5. Waktu
Orangtua perlu memberikan anak waktu untuk membaca buku-buku pilihan mereka. Kalau dulu sih, saya sering dinasihatin, “Ih, baca novel/komik terus, mending baca buku pelajaran daripada baca itu”, hehehe. Padahal saya membacanya di waktu luang selepas belajar dan mengerjakan PR. Duh, siapa yang mau baca buku pelajaran terus, kan? Hehe. Sesekali bebaskan anak untuk membaca buku kesukaan mereka. Tentunya selama konten buku tersebut wajar dan waktu yang tidak mengganggu belajar dan pekerjaan rumah, why not? Pernyataan semacam tadi jangan sampai malah menurunkan minat membaca anak. Lagipula, dengan membaca bermacam-macam buku, wawasan dan pikiran anak akan semakin kaya. Ingat, buku adalah jendela dunia ;)

Overall these, pada intinya keteladanan orangtua-lah yang memiliki peran penting dalam penanaman sikap baik pada anak. And I belive that good reader will make a good leader.

So, to all my fellow parents: because kids do imitate, let’s read a book!


3 Comments - Write a Comment

  1. Maika sebenarnya anak yang suka membaca buku, dan suka sekali dibacakan buku saat sebelum tidur. Tapi.. duh, Mamanya suka kecapean, dan malah jatahin baca 1 buku aja, anaknya sih ampe 3-4 buku juga semangat.
    Sekarang juga udah mulai suka baca buku sendiri karena sudah cukup lancar membaca.

    Tapi suatu saat Maika tanya “Mama gak suka baca buku ya?”
    Padahalll… gue tiap malam baca banyak artikel lewat iphone dan baca buku juga pake e-book. Kenapa e-book? Karena keterbatasan tempat kalo beli buku banyak2, dan gue jadi bisa baca malem saat anak sudah tidur dan lampu mati.

    Sekarang beberapa buku, balik ke buku biasa deh..

    1. hehe karena bacanya ebook, jadi gak keliatan kayak baca buku ya, mba :)
      Kalo saya pribadi sih lebih prefer paperback, soalnya kalo baca ebook gak ada baunya hahaha dan mata cepet lelah. Meskipun yaa, makan tempat memang dan mesti dirawat ya..

Post Comment