Kenapa Montessori?

Parenting & Kids

vanshe・13 Nov 2014

detail-thumb

Akhir-akhir ini, saya kembali merasakan antuasiasme yang meletup-letup terhadap metode pendidikan montessori. Sebelumnya, kesan yang saya dapat dari kata montessori adalah metode pendidikan yang banyak dipakai di preschool namun saya tidak tahu seperti apa dan bagaimana; saya malah sempat mengira montessori terkait dengan agama tertentu. Padahal faktanya melenceng sekali dari itu.

Pertama kali saya tahu tentang montessori secara mendalam adalah setelah membaca buku "Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori." Kebetulan, kini anak saya bersekolah di tempat yang menerapkan kurikulum montessori. Ketika mengobrol dengan wakil kepala sekolah seputar metode montessori, saya jadi diingatkan lagi tentang apa dan bagaimana montessori; it's only predictable kalau efek dari membaca buku yang saya sebutkan tadi kembali terulang: saya terpikat dan jatuh cinta all over again pada metode ini.

Sebenarnya apa dan bagaimana, sih, montessori itu? Metode ini diciptakan oleh Dr. Maria Montessori (1870-1952), seorang pendidik dan physician dari Italia yang memang mencurahkan usaha untuk mengembangkan filosofi pendidikan yang paling efektif untuk anak-anak. Di buku yang saya sebut tadi, dijelaskan bagaimana awalnya Dr. Maria Montessori memperhatikan bahwa anak umur 3-4 tahun senang mempelajari keterampilan hidup sehari-hari, seperti merawat kebersihan lingkungan sekolah, menyiapkan makanan, dan mengurus dirinya sendiri. Nah, ketika anak-anak diajak melakukan hal-hal kecil yang berkaitan dengan keterampilan hidup, anak-anak merasakan harga dirinya meningkat. Singkatnya, untuk membesarkan anak yang percaya diri, kita perlu membuatnya mandiri.

Filosofi montesori berdiri di atas keyakinan bahwa pendidikan harus berjalan paralel dengan kondisi unik masing-masing anak. Montessori menghormati anak dengan menerima mereka sebagaimana kekuatannya, minatnya, kebutuhannya, maupun gaya belajarnya. Dengan demikian, metode ini memandang anak sebagai entitas yang unik dan menjadikan value "respect" sebagai landasan untuk mendidik.

Kebetulan, beberapa hari lalu, sekolah anak saya mengadakan seminar – tentunya seputar montessori – yang membahas dua karakteristik utama anak berusia di bawah 6 tahun, yang terdiri dari absorbent mind dan sensitive period.

Apa saja maksud dari 2 poin tersebut? Simak di halaman selanjutnya.

1. Absorbent mind 

Artinya anak menyerap segala hal, tanpa disadarinya. Yes, just like a sponge. Hal-hal seperti bahasa, pengetahuan, dan aspek-aspek sosial (how we treat others, how we speak to others) dipelajari dan ditiru oleh anak. Anak menganggap apa-apa yang diserapnya sebagai hal yang dibutuhkan bagi mereka untuk survive, dan mereka mengadaptasinya sebagai values. Oleh karena itu, dalam montessori, kind, loving, respectful and positive environment dipandang sangat penting untuk disediakan bagi anak.

main*Gambar dari sini

2. Sensitive period atau masa peka

Anak memiliki yang disebut masa peka, yaitu masa untuk mempelajari suatu keterampilan dengan cepat dan hampir seperti tanpa usaha, di mana kondisi tersebut bersifat sementara.

Sebenarnya, dengan ada atau tidaknya stimulasi, setiap anak memiliki kapasitas untuk mengajar dirinya sendiri. Anak-anak nggak pernah berhenti belajar karena mereka memiliki dorongan dari dalam dirinya untuk menguasai keterampilan tertentu.

Dorongan tersebut akan membuat mereka akan melakukan keterampilan yang mereka ingin kuasai itu dengan penuh konsentrasi dan berulang-ulang, dan begitu sudah menguasai, mereka akan puas dan bergerak ke keterampilan baru. Pernah 'kan mengalami saat anak lagi 'terobsesi' menggambar pesawat, misalnya, maka mereka akan menggambar itu berulang-ulang dan di mana-mana? Atau mereka sedang menyukai mainan atau cerita tertentu, maka akan mainan dan cerita ituuu saja yang diulik berulang-ulang.

Masa peka sendiri berbeda-beda, misalnya usia 0-6 tahun adalah masa peka keterampilan bahasa, 2-6 tahun untuk musik, keramahan dan sopan santun, serta panca indera, dst.

Nah, dari sini, montessori menstimulasi anak sesuai dengan masa pekanya. Sementara itu, bagi orangtua, informasi ini dapat menjadi acuan untuk mendukung perkembangan anak. Satu hal penting yang dapat dipetik dari masa peka ini adalah don't ever rush a kid! Baik itu dengan menyuruh anak melakukan sesuatu yang belum dia kuasai, misalnya memintanya menulis dengan rapi, atau makan tanpa berantakan. Maupun nggak memburu-buru anak saat melakukan sesuatu, contohnya ketika sudah akan telat sampai di sekolah, karena anak pakai sepatunya lammmaaaa, orangtua yang, "Ayo cepat cepat! Aduh, kamu lama, deh, udah sini mama pakein aja!" (Familiar, yah, Mommies? Hihihi).

Lalu, apa yang membedakan montessori dengan metode pendidikan lain? Jawabannya ada di halaman selanjutnya.

Aktivitas montessori berpusat pada anak, atau student-centered. Di montessori, anak-anak bebas memilih aktivitasnya sendiri. Tidak ada text books; anak-anak belajar dari lingkungan (kelas) dan anak-anak lain di kelasnya.

Guru juga tidak berdiri di depan kelas untuk memberikan materi yang sama kepada puluhan anak di kelas, melainkan 'hanya' berperan sebagai pemandu bagi anak untuk memastikan mereka menguasai skill sesuai tahap perkembangannya. Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengundang anak untuk mengekplorasi bahan-bahan belajar, serta membantu memilihkan aktivitas yang menghadirkan tantangan baru.

Lantas, apa saja yang diajarkan di sekolah dengan metode montessori?

Ternyata, bertentangan dengan pemahaman saya sebelumnya bahwa montessori hanya mengajarkan practical life skills dan sensorial studies, di montessori, diajarkan juga bahasa, matematika, culture yang terdiri dari science dan geografi, maupun art, astronomi, sejarah, hingga physical education - semua subjek pelajaran dipandang saling terkait, tidak berdiri sendiri, sehingga anak bisa punya pemahaman yang menyeluruh tentang dunia dan hal-hal di sekitarnya.

Montessori juga tidak mengenal pemberian nilai, maupun bentuk-bentuk rewards and punishments. Pengkajian terhadap anak dibuat berdasarkan observasi guru dan catatan perkembangan anak.

Selanjutnya, ciri khas lain dari montessori adalah mixed-age classroom, yaitu kelas anak dibagi-bagi per kelompok usia dalam rentang 3 tahun, yaitu 3-6 tahun, 6-9 tahun, 9-12 tahun, dan seterusnya.

Kenapa begitu? Karena dalam kondisi berbeda-bedanya usia serta kemampuan tiap anak, akan tercipta atmosfer saling membantu. Anak yang lebih besar dapat menjadi mentor bagi anak lain yang lebih kecil; sementara anak yang meskipun usianya lebih muda tapi sudah menguasai suatu keterampilan tertentu, dapat membantu anak-anak lain yang belum menguasai kemampuan tersebut. Dari situasi saling membantu ini, anak yang berperan sebagai mentor atau penolong bagi anak lain dapat mengasah kemampuannya dan percaya dirinya akan meningkat. Sementara itu, anak yang dibantu akan secara alamiah termotivasi untuk menguasai kemampuan yang diajarkan.

Bagaimana dengan bullying? Apa anak nggak malah rentan di-bully oleh yang lebih besar? Simak jawaban pihak sekolah di halaman berikutnya, ya.

Ketika mengobrol dengan Wakepsek, beliau bilang mixed-age system ini juga efektif untuk menghindari potensi terjadinya bullying, lho. Saya sendiri membaca bahwa sudah ada penelitian ilmiah yang menunjukkan kalau mixed-age system menumbuhkan attitude yang positif di diri anak terhadap sekolah, dirinya sendirinya, dan juga orang lain dibandingkan sistem same-age. Dari kondisi saling membantu tadi, akan tumbuh empati di dalam diri anak, karena ia menyadari bahwa sebelumnya ia bisa menguasai kemampuan tertentu, ia berangkat dari kondisi "tidak tahu" terlebih dahulu.

mixed_group_class*Gambar dari sini

Hal lain yang semakin membuat saya tertarik adalah bagaimana anak diarahkan untuk jadi a lifelong learner, mandiri, sekaligus tahu apa yang mau dia achieve dalam hidup.

Nah, ini mengingatkan saya pada catatan yang saya buat beberapa tahun lalu. Waktu itu, saya memikirkan metode pendidikan seperti apa yang saya inginkan. Visi yang saya susun saat itu di antaranya ingin Bumy menjadi manusia yang mandiri, have a "can-do" attitude, penuh cinta kasih terhadap sesama dan lingkungan, serta knows what he wants from life.

Maka dari itu, dalam memilih sekolah yang bisa membantu mewujudkan visi tadi, saya membayangkan sekolah yang memberikan stimulasi sesuai milestone anak, mengajarkan anak mandiri agar 'survive' di dunia orang dewasa, serta menjadikan anak a life-long learner.

Rasanya, visi itu hampir semuanya dimuat dalam filosofi montessori.

Menurut saya, dengan bebas memilih aktivitas sendiri, anak didorong untuk menentukan sendiri 'target' keterampilan yang ingin dicapai alih-alih dijejalkan daftar keterampilan yang harus dikuasai. Anak dapat mengikuti ketertarikan dan passion-nya.

Sistem mixed-age memungkinkan anak mendapat gambaran yang lebih besar (the bigger picture) dari apa yang mereka pelajari dan kerjakan. Hal ini akan menumbuhkan sense of ownership anak terhadap target personalnya sehingga ia tahu apa yang ingin ia capai dari hidup dan mengapa.

Bagi saya, ini sangat penting. Kenapa? Karena tanpa mengetahui tujuan hidup, orang akan cenderung ngegas, ngebut, tapi tidak tahu apa makna pencapaian itu untuk dirinya sendiri. Seperti yang pernah saya baca dari akun @therealbanksy, "Direction is so much more important than speed. Many are going nowhere fast." 

Ouch!

Nah, bagaimana dengan Mommies sendiri? Kenapa memilih metode atau kurikulum tertentu untuk pendidikan anak Anda? Yuk, sharing di sini. Dengan mengenali dan menjalani satu metode pendidikan tertentu tidak berarti kita harus menutup mata terhadap yang lain, bukan? Mari perluas cakrawala agar bisa memilih yang terbaik untuk anak-anak kita. :)

Referensi:

stayatbeachmom.com, 

Trever Eissler "Montessori Madness!"

www.centennialmontessori.org

What Is Montessori Education?