Menerapkan Metode Montessori Sehari-hari

Beberapa waktu lalu kami mendapat kiriman dari Gaya Favorit Press, isinya sebuah buku berjudul Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori.

Sebelum membaca buku ini, saya berpikir metode Montessori adalah sebuah metode pendidikan sekolah *agak bodoh memang saya ini, hihihihi …. Ada yang senasibkah dengan saya?* Sebelum saya mengulas buku ini, saya ceritakan dulu latar belakang Montessori, ya, Moms!

Metode Montessori pertama kali dikenalkan oleh Maria Montessori pada 1907. Maria Montessori adalah perempuan pertama yang menjadi dokter, dari pekerjaannya tersebut ia meyakini bahwa semua anak dilahirkan dengan potensi luar biasa, potensi ini hanya akan berkembang jika orang dewasa yang mengasuhnya memberikan stimulasi yang tepat di tahun-tahun pertama kehidupannya.

Maria Montessori menyadari bahwa anak-anak kecil merasa frustrasi hidup di dunia orang dewasa. Meja, kursi, wastafel, piring, gelas, dan lain sebagainya berukuran untuk orang dewasa. Maria juga mengamati cara anak-anak bereaksi pada lingkungan sekitar, bagaimana anak memiliki keteraturan dan sistem mereka sendiri, di sinilah ia memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan menyadari adanya peningkatan harga diri serta percaya diri jika kita menghargai hal tersebut.

Menurut ajaran Montessori, anak memiliki masa-masa peka sejak lahir hingga usia 6 tahun. Kita sebagai orangtua harusnya bisa menyadari dan memanfaatkan masa peka anak ini dengan sebaik-baiknya:

  • Gerakan, sejak lahir hingga 1 tahun. Saat ini anak belajar meraih, menyentuh, memutar, menyeimbangkan diri, merangkak, dan berjalan.
  • Bahasa, sejak lahir hingga 6 tahun. Diawali dengan celotehan dan suara-suara,lalu berkembang jadi kata, frasa lalu kalimat.
  • Benda kecil, usia 1 hingga 4 tahun. Tahap ini anak akan menyukai benda-benda kecil/detail karena koordinasi mata dan tangannya sudah lebih akurat.
  • Keteraturan, usia 2 hingga 4 tahun. Di sini anak mulai mencintai rutinitas dan keinginan akan konsistensi dan pengulangan.
  • Musik, usia 2 higga 6 tahun. Jika anak terbiasa mendengar musik, di tahap inilah anak secara spontan akan tertarik pada perkembangan nada, ritme, dan melodi.
  • Masalah toilet, usia 18 bulan hingga 3 tahun. Usia ini sistem saraf berkembang lebih baik dan terintegrasi, hingga toilet training bisa dilakukan di rentang usia ini.
  • Keramahan dan sopan santun, usia 2 hingga 6 tahun. Anak-anak adalah peniru ulung, mereka suka meniru sopan santun dan hal ini akan membentuk karakter kepribadian di masa depannya.
  • Indra, usia 2 hingga 6 tahun. Indra manusia dimulai sejak lahir, tapi dari usia 2 tahun anak sudah bisa takjub dengan pengalaman indranya sendiri (rasa, suara, sentuhan, dan bau).
  • Menulis, usia 3 hingga 4 tahun. Montessori meyakini bahwa kemampuan menulis muncul lebih dulu daripada membaca yang diawali dengan usaha meniru huruf atau angka.
  • Membaca, usia 3 hingga 5 tahun. Montessori melihat bahwa anak-anak menunjukkan ketertarikan spontan pada simbol dan suara yang mereka hasilkan.
  • Hubungan ruang, usia 4 hingga 6 tahun. Di usia ini biasanya anak tertarik dengan puzzle atau Lego.
  • Matematika, usia 4 hingga 6 tahun. Rentang usia ini anak dalam masa peka terhadap jumlah dan angka.

Buku ini secara lengkap menuturkan mulai dari latar belakang Montessori, bagaimana menstimulasi anak di rumah dengan menggunakan metode Montessori, pengenalan huruf dan angka, mengatasi tantrum hingga … merayakan ulang tahun dengan metode Montessori. Terdengar ribet? Jangan salah, hal-hal yang diterapkan sebenarnya tidak  jauh berbeda dengan yang mungkin sudah Mommies dengar. Sebut saja pemberian ASI. Tahun 60-an, promosi dan kepopuleran susu formula mengakibatkan pemberian ASI menurun. Montessori sangat mendukung pemberian ASI, tak hanya dari nutrisi tapi yang lebih penting adalah dari sisi bonding antara orangtua dan anak.

Membuat rumah yang ramah anak juga termasuk dalam metode Montessori. Jadi bagi Mommies yang sedang membangun rumah, renovasi atau masih bercita-cita memiliki rumah sendiri, buku ini membahas tak hanya bagaimana membuat rumah aman seperti yang pernah kami bahas di artikel ini tapi juga bagaimana membuat anak nyaman dengan ukuran benda-benda yang ada di rumah.

Dari sisi pola pengasuhan, lagi-lagi saya merasa ada beberapa hal yang mirip dengan pola asuh dari beberapa seminar yang pernah saya ikuti. Misalnya, dalam metode Montessori, anak-anak butuh mengembangkan rasa empati terhadap sesama, untuk meraihnya kita sebagai orangtua harus bisa membantu mereka menghargai perasaan mereka sendiri. Bagaimana mereka bisa meghargai perasaannya sendiri? Namakan perasaan. Sounds familiar?

Ada sebuah pernyataan yang begitu mengena, setidaknya bagi saya pribadi: “Lihatlah dunia seperti anak Anda melihatnya, rendah dan dekat dengan tanah”.

Moms, Gaya Favorit Press bekerja sama dengan Mommies Daily memiliki 50 undangan untuk menghadiri talkshow “Membesarkan Anak Hebat dengan Metode Montessori”. Jika berminat, bisa langsung daftar di forum dengan klik ke sini, ya.

 


26 Comments - Write a Comment

  1. Dari anak saya kecil, saya sudah mencoba untuk membuat mereka peka dengan panca indra mereka. memperkenalkan tekstur ke tangan mereka, trus main tebak tebakan bau apa ini (jeruk, pisang, teh, kopi) bermain puzzle, dan ada mainan yang bisa melatih anak untuk mengikat, memasukan kancing, membuka velcro, dan snap button. sekitar umur dua tahun wastafel saya taruh stool atau kursi yang ada tangganya agar mereka bisa cuci tangan sendiri. Rak buku juga saya buat sesuai dengan eye level anak, jadi mereka bisa mengambil barangnya sendiri. Yang saya suka dari teknik montesori adalah mendukung anak untuk mandiri. Saya berharap anak anak nanti tidak tergantung maid dan mempunyai practical life skill, dan bisa bilang ‘saya bisa kok ngerjain sendiri’ whoaa, bangga yah?

  2. moms, klo ada yg tertarik ikut training/pelatihan montessori, coba browse rumah-montessori yah, ada blog dan fb_nya juga, aku minat bgt ikut trainingnya tapi mesti cukup kuota dulu baru ownernya mau ngadain. gotta love montessori characteristics. thanks.

  3. anakku kayli berkebutuhan khusus(dokter yg berbeda2 bilangnya, MSDD,retardasi mental ringan,ADD,dll. Nggak tahu mana yg benar). Anyway, wkt TK aku masukkin kay ke TK Mentari Montessori, nggak murni montessori ya… cuma pemiliknya menerapkan metode montessori di sekolahnya.Alhamdullilah..aku si puas bgt dengan hslnya. paling menonjol di kemandirian kay. Wkt itu kay sampai berhenti terapi krn aku merasa dan melihat, beberapa bln sekolah disana kemajuannya jauh melebihi terapi 1 on 1 yg sdh dijalani 2th-an (tp ini jgn jd patokan ya…). Waktu kay mau SD akupun sibuk browsing sekolah dengan basis montessori jg, tp sayang gak ketemu (kayaknya ada tp jauh). Akhirnya kay msk sekolah reguler berbasis Islam dan dia baik2 saja,cuma tinggal komunikasinya saja yg msh hrs dilatih.
    sekarang aku mau pindah ke bogor, kebetulan ketemu SD yg memasukkan montessori dalam kegiatan belajar mengajarnya. Blm tahu gmn2nya tp lega jg bisa ketemu sekolah ini. Secara awam sih aku pikir, kalau untuk yang berkebutuhan khusus saja bermanfaat banyak apalagi untuk yg ‘normal’ ya?. Pastinya aku cocok dan suka bgt dengan metode montessori khususnya buat anak2.

Post Comment