Anak Lelaki Main Barbie? Boleh, Kok!

Siapa yang punya anak perempuan dan senang main Barbie? Saya yakin banget, deh, kalau banyak Mommies yang ngacung. Iya kan, ya, kan?

IMG-20141021-WA0001

Berhubung anak saya laki-laki, Bumi memang nggak punya boneka Barbie. Tapi, dia cukup familiar dengan sosok boneka ikonik yang dibuat oleh perusahaan Mattel Inc ini. Maklum, sepupunya Nissa termasuk ‘freak’ dengan boneka Barbie. Jadi kalau kami sedang berkunjung ke rumahnya, pasti ngajak Bumi main Barbie. Pernah, suatu waktu ketika Bumi main ke kantor, Langit anaknya Lita membawa Barbie dan ngajak Bumi ikutan main. Katanya Langit, “Bumi kita main Barbie, yuk. Ini aku sudah bawain Ken buat kamu yang mainin.” :D

Saya sendiri termasuk orangtua yang membolehkan anak lelakinya main boneka. Seperti yang sudah ditulis dalam artikel ini  bahwa sebenarnya bermain boneka merupakan bagian dari cara anak untuk melatih daya imajinasi dan kreativitasnya. Jadi, boneka hanya sebatas alat yang bisa digunakan. Dan stimulus yang diberikan untuk anak lelaki dan perempuan sebenarnya tidak terlalu berbeda.

Beberapa waktu lalu, saya sempat datang ke acara Barbie’s Day Out yang dilangsungkan di Mall Kelapa Gading, psikolog anak, Ajeng Raviando, Psi., pun mengatakan hal serupa. Ia menambahkan, dalam ilmu psikologi, mainan atau boneka biasa digunakan sebagai play therapy. Alat untuk membantu anak menggali imajinasi atau passion-nya.

Bahkan waktu itu psikolog yang lebih sering disapa Mbak Ajeng ini sempat bercerita, bawah ada kasus bully yang baru terungkap ketika korban mengungkapkan apa yang ia rasa lewat bermain Barbie. Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak lebih ‘terbuka’ ketika bermain boneka, salah satunya adalah rasa takut terhadap orang lain. Terkadang, memang tidak semua anak mampu mengekspresikan apa yang ia rasa, termasuk ketika menjadi korban bullying.

barbie

Namun, suasana jadi bisa berbeda kalau anak sedang bermain. “Anak tidak ada tekanan ketika bermain, nggak ada rasa waspada saya harus begini-begini, takut ketahuan siapa nanti saya diapain ya, anak sangat bebas ketika bermain,” ujar pendiri Teman Hati Konseling, klinik konseling psikologi.

Makanya, nggak heran ya kalau ketika anak bermain, orangtua sebaiknya selalu mendampingi. Persis seperti ulasan Mbak Ajeng di artikel ‘Bermain Dengan Anak: Mendampingi Atau Mengarahkan?’. Jadi, jangan sibuk dengan urusannya sendiri *self note*

Kalau Mommies yang lain bagaimana? Punya pengalaman nggak, sih, ketika mendampingi anak bermain Barbie? Coba share, dong! Buat Mommies yang punya Mommies yang punya blog, ada blog competition berkaitan dengan Barbie project, nih. Informasi lengkap, syarat dan ketentuannya langsung lihat forum, ya!


Post Comment