‘Ngambek’ Sama Anak, Boleh Nggak?

Benar apa yang Lita bilang, sesungguhnya anak adalah ujian pertama buat perempuan. Jadi nggak aneh kalau setiap hari ada saja polah mereka yang menguji kesebaran kita. Masalahnya, dibeberapa situasi,  sumbu kesabaran saya sering nggak terlalu panjang.

bumi

Misalnya beberapa hari lalu, tau-tau Bumi mogok sekolah. Padahal pagi itu Bumi sudah kece dengan seragam dan sepatunya. Tasnya pun sudah siap dia gembol.  Tapi tiba-tiba saja setelah jemputannya datang, dia langsung bilang nggak mau sekolah. Mending, ya, kalau cuma bilang, “Bumi nggak mau sekolah, Bu.” Lah ini, pakai acara tantrum, teriak-teriak nggak jelas? Mmmft…. *emosi*

Setelah proses negosiasi, Bumi pun akhirnya mau masuk ke mobil jemputan. Syaratnya, saya harus menggendongnya dulu dari teras menuju mobil jemputan. Tapi ternyata, bukannya anteng dan langsung ke sekolah, Bumi malah merengek minta supaya saya ikut ke sekolah naik jemputan. Duuuh, ternyata drama pagi harinya belum selesai. KZL!

Melihat Bumi begitu keukeuh sumekeh nggak mau sekolah, akhirnya saya pun nyaris putus asa. Ujung-ujungnya Bumi jadi nggak sekolah. Mau tetap dipaksa supaya ke sekolah, kok, rasanya kasihan juga, ya? Selain takut cuma jadi akal-akalannya saja, saya juga takut kalau Bumi jadi benar-benar trauma ke sekolah. Pergi ke sekolah cuma hanya kerena keinginan saya, ibunya. Lagi pula bukankah tindakan pemaksaan kepada anak, termasuk memaksa anak untuk sekolah, sama saja mengajarinya kalau perilaku memaksa itu dibolehkan?

Setelah jemputannya jalan, saya pun sempat bilang ke Bumi kalau saya begitu kecewa dengan tindakannya. Seperti biasa dan sesuai dengan kesepakan kami sebelumnya, kalau sata kecewa melihatnya teriak-teriak nggak jelas, saya akan melakukan aksi mogok ngomong. Iya, saya lebih milih mendiamkannya ketimbang mulut ini berkicau nggak karuan.

Tapi, berbeda dari kasus lainnya, kali ini saya memang lebih lama mendiamkannya. Meskipun di lubuk hati yang paling dalam sangat menyesal bahkan sampai kepikiran sampai kantor.

“Salah nggak, sih, Lit, tindakan gue? Gue udah kesel banget soalnya,” begitu curhat saya ke Lita.

“Nggak apa-apa, kok. Enhale exhale. Tenangin diri lo aja dulu, dari pada ngomong dan keluar kata-kata yang nggak baik,” begitu tanggapan Lita

Setelah puas curhat ke Lita dan mendapatkan kiat-kiat bagaimana menghadapi anak yang lagi mogok ke sekolah. Sesi curhatan saya pun berlanjut. Kali ini kembali curhat ke Ayoe Sutomo, M.Psi.

Kalimat pertama yang ia berikan ke saya, “Anak seusia Bumi itu sudah pintar sekali. Artinya, untuk mendapatkan apa yang dia mau, sudah bisa menggunakan berbagi macam cara. Mulai dari membujuk, negosiasi,  ngambek atau sedikit ‘manipulasi’. Seperti yang Bumi lakukan itu…”

Lalu, bagaimana dengan tindakan saya yang akhirnya sempat mendiamkan Bumi? Lengkapnya baca penjelasan Ayoe Sutomo M.Psi di halaman berikut, ya.


Post Comment