Liburan Bersama Demam Typhoid

Health & Nutrition

sazqueen・01 Sep 2014

detail-thumb

"Gimana, sih, ibunya nggak kerja padahal. Anaknya malah kena tifoid. Dikasih makan apa coba?" dan banyak lagi komentar menyudutkan ketika mengetahui kalau anak saya terkena typhoid fever. Tapi karena sudah biasa mendengar kalimat-kalimat judgemental sejak punya anak, saya lempeng aja. Jadi bagaimana, nih, ceritanya? Kenapa si kecil bisa tiba-tiba tifoid?

Rabu, 24 Juli malam, tangan saya merasakan suhu tubuh Menik meningkat saat menggendongnya ketika menyusui. Tapi karena cuaca di luar sedang dingin, sekitar 17' celcius, jadi saya pikir wajar kalau suhu tubuhnya naik sedikit. Lagipula klinis anak normal, nafsu makan juga tidak menurun. Everything just fine, kecuali suhu tubuhnya. Selasa subuh, saya cek suhunya ada di 37.7' celcius. Namun siang hari suhunya kembali normal. Pola suhu tubuh naik turun namun tidak sampai demam di atas 38,3' celcius ini terus berlangsung hingga hari Jumat. Akhirnya saya bawa ke dokter, karena sudah mulai curiga dengan suhu yang tidak menentu dan jangka waktu yang sudah terlalu lama. Tapi selama suhu tubuh Menik naik turun itu, saya belum berikan Paracetamol sama sekali, karena anaknya tidak rewel.

meniktyphusIni dalam perjalanan ke dokter, liat kan, masih semangat pake baju Anna!

Setelah periksa, akhirnya dokter bilang, jika sampai besok sore masih demam lagi, mau nggak mau harus dilakukan pengecekan darah di laboratorium. Alhamdulillah keesokan harinya sudah tidak demam lagi, jadi kami tidak jadi cek darah. Aktivitas harian kembali normal, dan dalam hati saya bersyukur karena bisa merayakan lebaran tanpa risau dengan kesehatan Menik. Hari ketiga libur lebaran, kami sekeluarga ke Jakarta.

Ketika sampai tujuan, saya sedang menyusui Menik, dan merasakan perubahan suhu tubuhnya meningkat drastis. Raut cerianya mulai menghilang, walau masih bisa request mau makan bakso dan masih berusaha tertawa ketika digoda. Karena sedang dalam perjalanan, saya langsung memberikan paracetamol agar tubuh Menik terasa nyaman. Sambil berkonsultasi via Whatsapp, dokter menyarankan untuk langsung cek darah sesampainya di Bandung. Rasa khawatir ditambah kalau dokter kesayangan Menik sedang ikut konferensi ASI di Melbourne, tapi beliau menenangkan dan bilang, konsul cukup via Whatsapp dulu, jika nanti harus ketemu dokter akan diberikan rekomendasi.

Bagaimana hasil lab Menik? Lihat di halaman berikutnya.

Hasil laboratorium yang sangat saya hindari selama 2 tahun belakangan ini pun datang. Hasil tes Tubex (tes untuk cek apakah ada bakteri Salmonella typhi atau tidak yang kabarnya lebih akurat untuk daerah endemik seperti Indonesia dibanding tes widal) ada di Low Positive 4, artinya ada infeksi demam tifoid aktif namun masih di garis bawah.

Setelah konsul hasil lab, dokter memberi resep antibiotik untuk diminum selama 7 hari berturut-turut, dan tidak perlu dirawat karena keadaan Menik yang masih mau makan dan minum seperti biasa dan masih aktif. Menurut beliau, takutnya kalau dirawat nanti malah sakit karena tidak bebas melakukan kegiatan yang ia suka. Karena faktor psikis anak juga jadi pertimbangan dalam masa penyembuhan dan pemulihan. Hal yang sebaiknya dilakukan penderita tifoid adalah istirahat yang cukup, kalau bisa bed rest, which is nggak mungkin buat si balita aktif, hehe. Jadi saya hanya menjaga Menik agar tidak terlalu capek mainnya. Lalu menjaga asupan cairan terutama saat masih demam agar tidak dehidrasi, makan makanan bergizi yang rendah lemak dan serat serta lunak. Terakhir adalah menjaga kebersihan anak yang sakit dan juga orang yang merawat untuk menghindari penularan. Jangan lupa juga untuk terus memantau kondisi pasien.

labmenik

Selama tujuh hari saya memasak nasi putih lunak khusus untuk Menik (sehari-hari di rumah, kami makan beras merah) dengan berbagai protein pendamping dari mulai tempe dan tahu yang kabarnya baik dalam membantu tubuh memerangi bakteri jahat, membuat ayam kukus kesukaannya, memasak semur daging, dan tim ikan. Makanan berserat dihindari dahulu selama badan panas. Alhamdulillah, baru minum antibiotik satu hari, suhu badan Menik sudah normal kembali, dan yang bikin takjub adalah nafsu makan yang semakin meningkat. Saya sampai bercanda sama suami, saya bilang "Ini jangan-jangan si Menik cacingan, ya? Dikasih antibiotik, mati semua cacingnya terus makan lahap begini!" :p Mungkin juga karena makanan bisa masuk dengan baik, daya tahan tubuh meningkat sehingga tubuh mungilnya cepat pulih. Minum antibiotik juga tanpa drama, karena saya cicip sedikit, rasanya tidak pahit seperti obat-obat jaman saya kecil. Mungkin ilmu farmasi menemukan formula menciptakan obat yang enak untuk anak-anak sehingga tidak ada alasan lagi untuk tidak mau minum obat yang rasanya tidak enak, haha!

Padahal Menik sudah imunisasi typhoid, tapi kok masih bisa kena ya? Lihat jawaban dokter anak kesayangan saya di halaman selanjutnya.

Setelah beres minum antibiotik dan anaknya sudah kembali ceria, saya konsul dengan dokter dan bertanya "Menik sudah mendapatkan imunisasi typhoid di usia 24 bulan, kenapa bisa terserang tifoid sekarang?" Dokter Frecillia Regina mengingatkan kalau imunisasi bukan berarti kebal. Justru hasil imunisasi ini terlihat di klinis sehari-hari Menik yang tetap ceria. Ada pertahanan kuat dalam tubuhnya yang menjaga agar bakteri Salmonella Typhi ini tidak membuat tubuh Menik drop seperti pasien tifoid biasanya. Dan dokter Frecil juga memperlihatkan grafik pola demam tifoid yang sama dengan pola demam Menik. Suhu meningkat tapi tidak sampai 38.3' celcius selama 7 hari, kemudian meningkat dan menetap pada hari ke delapan dan seterusnya, seperti gambar berikut.

demam

Lalu bagaimana cara menghindari bakteri Salmonella Typhi agar tidak terserang demam tifoid? Ini sebetulnya mudah namun kadang susah dijalani. Menurut Milis Sehat, kuman typhi ini  akan masuk melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh Salmonella Typhi. Di Indonesia, risiko tercemar kuman ini bisa lewat makanan yang tidak disiapkan sendiri sehingga tidak terjamin kebersihannya, minum air yang terkontaminasi , kontak langsung dengan penderita tifoid, sanitasi rumah yang buruk, dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan sebagai pencegahan di antaranya:

  • Sebaiknya saat sikat gigi, gunakan air matang untuk berkumur. Kita nggak tahu, walau sedikit air tertelan, tapi air tersebut bisa mengandung bakteri salmonella.
  • Cuci tangan yang rajin, dan mengikuti langkah cuci tangan yang sudah direkomendasikan WHO.
  • Menyiapkan makanan sendiri dan menjaga kebersihan sanitasi di rumah.
  • Jangan sering jajan sembarangan. INI SUSAH YA! Well, at least for me, hehe. Susah menghindari abang bakso, tukang batagor, es campur, dan kupat tahu yang menggiurkan. Namun, sejak Menik terserang tifoid kemarin, saya selalu membawa bekal makan Menik. Biskuit juga selalu ada di mobil untuk camilan menik selama di jalan, tujuannya supaya perut terasa kenyang, jadi kalau saya jajan, anaknya nggak pengin gitu. Tapi saya juga mengurangi frekuensi makan di luar, nih, jadinya. Otomatis aja! Haha.
  • Pencegahan terakhir adalah vaksin tifoid yang tersedia untuk orang dewasa, anak-anak usia 6 tahun ke atas, dan balita di atas 2 tahun.
  • Sebaiknya kan memang mencegah daripada mengobati, ya, Mommies! Yuk, yang rajin menjaga kebersihan dan memperhatikan makanan yang akan dikonsumsi, supaya kuman S Typhi ini tidak masuk ke dalam tubuh dan bikin liburan jadi berantakan karena demam tifoid.

    Stay healthy, yes!!