Ibu dan Masakannya

Jika Mommies diminta untuk menyebutkan, kenangan masa kecil apa tentang Ibu yang membekas hingga sekarang, kenangan seperti apa yang paling Mommies ingat?

MotherDaughterCooking*Gambar dari sini

Saat saya menulis ini, saya baru saja mencicipi cake pisang hangat buatan Ibu saya yang baru saja keluar dari oven. Kue enak, hangat, dan lembut ini membawa saya ke memori masa kecil saya. Dulu Ibu suka menerima pesanan bikin kue. Jadi saya tinggal di rumah dengan kenangan seringnya mendengar deru mixer kue, mencium aroma harum kue terpanggang yang semerbak, dan mencicipi kue-kue hangat yang keluar dari oven. Ibu saya punya beberapa keahlian khas Ibu Rumah Tangga (IRT) yang cukup mumpuni seperti memasak, menjahit, dan potong rambut karena dulu Ibu pernah kursus salon.

Dulu saya tidak pernah terlalu memaknai apa-apa yang Ibu lakukan. Saya hanya menganggap semua Ibu seperti itu. Kami sekeluarga tidak pernah potong rambut di salon, karena setiap mau potong rambut kami tinggal minta dipotong oleh Ibu. Setiap mudik kami jarang jajan atau beli makanan di jalan, karena Ibu sudah membekali logistik selama perjalanan dengan arem-arem dan roti. Saya juga sempat berpikir bahwa kue sus dan kue-kue lainnya di seluruh dunia rasanya sama enak dengan buatan Ibu. Semakin dewasa saya semakin sadar, beberapa jenis makanan yang saya cicipi di luar rumah ternyata tidak seenak buatan Ibu. Bahwa ternyata tidak semua Ibu-Ibu di dunia memasak untuk anaknya, dan lebih memilih membelikan makan dari luar. Ini bukan sindiran ya Mommies, saya percaya setiap anak punya kenangan tersendiri tentang Ibunya. Saya hanya ingin mengatakan, pada satu masa saya berada di pemahaman, bahwa keahlian Ibu dan apa-apa yang Ibu lakukan untuk kami sangat berharga. Hal yang Ibu lakukan seperti memasakkan makanan untuk anak-anaknya dengan tangannya sendiri, mengontol perilaku konsumtif kami dengan tidak membiasakan jajan di luar, adalah langkah sederhana yang dilakukan seorang Ibu dalam membentuk karakter dan memastikan kesehatan keluarganya.

Sekarang-sekarang ini Ibu lebih konsentrasi mengurus bisnisnya yang lain. Jadi sudah tidak pernah menerima pesanan kue lagi. Tetangga-tetangga kami yang biasa pesan makanan ke Ibu juga sudah tidak pesan ke Ibu lagi. Karena para tetangga tahu, keahlian masak memasak Ibu sudah terwariskan ke dua orang mantan ART kami, yang sekarang sudah punya usaha sendiri di komplek perumahan kami. Satu mantan ART kami jualan nasi uduk. Satu mantan ART yang lain sekarang jualan kue-kue. Keduanya bisa dibilang sangat membantu perekonomian keluarga mereka masing-masing. Beberapa kali dalam sesi mengobrol dengan Ibu, kerap terlontar rasa bangga Ibu karena merasa punya andil dalam mengentaskan mereka dari ‘karyawan’ menjadi ‘pengusaha’.. :D

Keahlian memasak Ibu tidak hanya dimanfaatkan untuk menambah uang. Bahkan, Ibu sering memasak atau menyediakan logistik untuk kegiatan-kegiatan di lingkungan kami. Mulai dari menyediakan kue dan teh hangat untuk pengajian, kegiatan buka puasa, hingga rapat-rapat di lingkungan. Bahkan pada saat kerusuhan tahun 1998, Ibu juga berinisiatif untuk membuatkan nasi gonjleng (semacam nasi kebuli) untuk menyokong energi bapak-bapak dan pemuda komplek yang ‘turun gunung’ jaga keamanan lingkungan. Sekarang banyak tetangga sudah hafal rasa masakan Ibu. Kadang-kadang beberapa Ibu-Ibu di komplek semangat ikut taklim rutin di rumah kami, karena tahu akan disuguhi makanan-makanan enak oleh Ibu. Hihi..

Ternyata dari satu keahlian memasak, Ibu tidak hanya memengaruhi keluarganya, tapi juga bermanfaat untuk lingkungan. Hal ini membuat saya semakin berniat mendalami keahlian-keahlian rumah tangga. Ditambah, suami saya juga sering berharap kalo saya bisa lebih sering masak untuk anak.. Menurutnya, salah satu memori indah yang dibawa seorang anak hingga dewasa satunya adalah rasa masakan ibunya. Wah, bener banget itu. Menurut saya salah satu pemandangan terindah di rumah adalah ketika anak kita berlarian ke meja makan menyambut kue yang baru selesai dipanggang dari oven. Saya mau jadi Ibu dengan anak antusias seperti itu. Hahaha.. lebay gak yah?

Bagaimana dengan Mommies? Ada keahlian rumah tangga tertentu yang juga ingin dikuasai?


2 Comments - Write a Comment

  1. Aduh, ini gue banget! Bagian yang nggak bisa masaknya tapi :))))
    Walau anak gue selalu bilang “Ibu masakannya enak bangeeett..” kalau gue bikinin dia sesuatu. Tapi ya itu masalahnya, saat gue bikinin dia makanan paling banter puding, sandwich atau pancake. Hahaha.. yang gampil2.. Makanya selalu bilang nggak bisa masak, karena masak itu buat otak gue terlalu teknis :D

  2. Karena gue selalu punya memori yang baik ttg masakan Ibu dan Eyang, meski ya biasa banget kok, tapi seporsi sambal tempe Ibu selalu bisa menghapus galau gue di kantor, di kuliah maupun di rumah mertua hihihihi. Jadi gue pingin anak-anak gue mempunyai memori yang sama, kelak ketika galau pas mereka dewasa, mereka datang tiba-tiba di meja dapur menunggu masakan gue lalu sambil makan mereka curhat ke gue.
    Munkin ya masakan Ibu adalah salah satu cara untuk menciptakan rasa “homey” di rumah sendiri :). Mungkin mommies lainnya punya cara lainnya untuk menciptakan rasa home sweet home, dishare dong… TFS Mbak Nu To The Ri

Post Comment