Mengenalkan Konsep Kematian Pada Si Kecil

Bulan puasa kemarin, keluarga besar saya baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga. Setelah beberapa tahun berjuang melawan penyakit kanker, Om saya ini harus berpulang menghadap-Nya. Ketika mendengar kabar duka cita ini, saya pun lantas meberitahukan ke Bumi kalau Eyang Nug (panggilan Bumi ke Om saya) meninggal dunia. Kebetulan, Bumi memang termasuk dekat dengan Om saya ini. Waktu itu pun akhirnya Bumi mengikuti proses pemakaman dari awal. Dan seingat saya, ini adalah pengalaman pertamanya. Jadi, sudah bisa dipastikan, ya, kalau sepanjang proses pemakaman anak lanang saya ini terus melontarkan berbagai pertanyaan.

bumidansiputih

Meninggal itu apa, sih, Bu? Kenapa kalau orang meninggal harus dikubur? Kalau meninggal, nanti Eyang Nug bangun lagi nggak? Dan, yang bikin saya tersenyum Bumi sempat tanya, nanti kalau sudah dikubur Om Nug akan jadi akar, ya? Rupanya, waktu itu Bumi sempat menguburkan ikannya di halaman rumah. Dan beberapa minggu kemudian, dia iseng membukanya lagi. Menurutnya, sih, ikan tersebut berubah jadi akar :D Pun ketika salah satu hamsternya mati.

Mendengar ceritanya, saya pun mencoba meluruskan dan bilang kalau sebenarnya binatang peliharaannya  yang mati dan sudah dikubur akan jadi tanah. Sedangkan, akar yang dia lihat memang akar pohon yang tumbuh di sekitar tempat Bumi menguburkan. Untungnya, penjelasan saya waktu itu nggak ‘memancingnya’ dengan pertanyaan lain. Ternyata, untuk menjelaskan kematian pada anak memang lebih terasa mudah kalau diawali dengan pengalaman binatang peliharaan yang mati, ya. Paling nggak ini berlaku untuk saya :D

Selain itu, apa saja yang perlu diperhatikan saat menjelaskan konsep kematian pada anak balita? Langsung klik halaman berikut, ya.


Post Comment