Melatih Berpikir Dengan Kalimat Tanya

Masih teringat di kepala saat saya kemarin ikut seminar Ibu Elly Risman, tentang betapa pengaruh buruk dari lingkungan itu sangat hebat dan kuat. Dan salah satu cara untuk membuat “pagar” untuk anak kita agar menjaga dari pengaruh buruk itu adalah dengan melatih kemampuan berpikirnya.

Lalu bagaimana cara melatih kemampuan berpikir anak?

Karena berpikir adalah proses yang rumit. Sedangkan sampai usia 7 tahun syaraf otak anak belum tersambung sempurna. Dan sampai 8 tahun anak sedang mengalami perkembangan otak dan cara berpikirnya. Dia perlu beberapa detik bahkan beberapa menit untuk mengumpulkan informasi. Kemampuan mengumpulkan informasi dalam waktu beberapa detik disebut short-term memory, kemudian kemampuan mengumpulkan dan memanipulasi informasi disebut active working memory, tahap berpikir berikutnya yang lebih lama disebut long term memory. Contohnya mungkin saat kita meminta anak berumur 4 tahun untuk memakai kaos kaki, menurut Ibu Elly Risman dia akan butuh sekitar 7 menit untuk melakukannya. Kalau yang saya alami, saya harus lebih dari 7 kali untuk meminta Zahra memakai kaos kakinya, kemudian dia menjawab “Iya” tapi masih bengong. Bilang lagi “Ayo pakai kaos kakinya nak” Dia bilang “Iya” tapi bengong lagi.. Hihihi.. Tapi saya ulang terus sampai akhirnya dia berhasil memakai kaos kakinya sendiri. Dan benar kata Ibu Elly, butuh waktu 7 menit, tapi kadang lebih. Ini sangat wajar karena kembali lagi pada keadaaan syaraf otak anak sampai dia berumur 7 tahun belum tersambung sempurna.

Cara paling sederhana dan bisa kita lakukan sehari-hari untuk melatih kemampuan berpikir anak adalah dengan sering gunakan kalimat bertanya pada anak.

Sebagai contoh, saat anak berlari-lari ditempat yang kurang aman, berikan reaksi dengan kalimat bertanya “Perlu ga berlari? Nanti kalau jatuh bagaimana?”

Atau saat dia duduk di meja “Meja buat duduk bukan ya?”, “Duduk kan harus di kursi, lupa ya?”

Contoh lain kita berikan pertanyaan retorik, yaitu pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban seperti saat dia memakan pensil misalnya, “Pensil makanan bukan ya?”, “Pensil bukannya kotor?”.

Sedikit kiat yang saya dapatkan, saat melontarkan kalimat bertanya pada anak, jangan lupa untuk :

  • Berikan sedikit waktu pada anak untuk berpikir. Biarkan dia untuk menebak, bereksplorasi dan mengingat.
  • Lakukan eye contact atau kalau perlu turunkan badan kita untuk sejajar dengan mata anak.
  • Gunakan kalimat singkat, hindari kalimat panjang.
  • Hindari pertanyaan ganda, tapi bila perlu gunakan kalimat berjenjang.
  • Anak berhak untuk belajar tanpa tekanan/stress, jadi gunakan nada hangat.

Proses bertanya diharapkan dapat menjelaskan langkah-langkah berpikir atau proses yang ditempuh dalam memecahkan masalah. Bertanya juga berguna untuk meneliti sejauh mana pemahaman anak terhadap masalah yang dihadapi. Selain itu untuk memotivasi anak agar terlibat dalam interaksi belajar, melatih kemampuan mengutarakan pendapat, dan pada akhirnya merangsang dan meningkatkan kemampuan berpikir. Semakin sering anak-anak melatih otot berpikirnya, akan semakin mudah menerima informasi yang akan kita berikan nantinya. Semoga dengan melatih kemampuan berpikir anak akan otomatis membuat “pagar” terhadap pengaruh buruk yang didapat dari lingkungannya nanti ya..

Saya sendiri sudah mencoba untuk melatih melontarkan kalimat-kalimat tanya seperti contoh diatas. Ini ternyata melatih Mamanya juga ya untuk berpikir kalimat bertanya. Kalau Mommies sendiri pernah gak dalam kehidupan sehari-hari lebih memilih kalimat bertanya? Dalam situasi seperti apa, sih, biasanya, barangkali bisa jadi contekan buat saya :D

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment