Siapa Yang Jaga Si Kecil?

Sebagai working mom, pertanyaan ‘Siapa yang jaga si kecil?’ sering mampir di telinga saya. Kebanyakan dari rekan kerja, kadang dari ibu penjual sayur langganan saya, sampai orang tua saya yang nun jauh di pulau seberang. Untuk saya, jawaban pertanyaan tersebut tak selalu sama. Tergantung keadaan.

Sampai sebelum puasa, ada si Mbak yang menemani Rasya di rumah. Pas puasa, si Mbak izin mau pulang karena ingin puasa di kampung, menemani orang tuanya. Aduh! Saya pun langsung bingung, Rasya mau ke mana? Toh saya pun nggak bisa melarang si mbak, meski sudah bernegosiasi kalau pulangnya H-7, si mbak akan dapat THR. Tetap saja, si mbak memilih pulang pada awal bulan puasa. Plus, habis Lebaran, si mbak ternyata nggak balik lagi….*nangis di pojokan*

Saya pusing tujuh keliling. Hasil diskusi dengan suami, kami memiliki beberapa pilihan.

Alternatif pertama, titipkan Rasya ke mertua. Setiap pagi saya dan suami mengantar Rasya ke rumah mertua yang berjarak 10 menit dari rumah. Sore harinya, Rasya diantar pulang ke rumah, sekalian jalan-jalan sore. Cara ini terbilang lancar jaya, aman sentosa tanpa hambatan. Rasya pun tetap saya bawakan bekal, minimal lauk pauk, dan cemilan. Jadi, ibu tinggal menyuapi Rasya saja. Kalau mau ditambah lauk lain tentu boleh banget. Jika siang pas jam istirahat saya sempat pulang, saya akan pulang ke rumah mertua untuk menyusui Rasya (20 bulan dan masih ASI, meski sudah minum susu tambahan).

Pilihan ini tentu paling enak, nyaman, dan bikin hati paling tenang. Rasya ada di tangan yang tepat!

Namun, pilihan ini sayangnya tak berlangsung lama. Berhubung bapak ibu masih sering bolak-balik ke pulau seberang, maka saya dan suami harus menemukan cara lain untuk memecahkan persoalan siapa yang jaga Rasya.

Alternatif kedua, titipkan Rasya di daycare atau tempat penitipan anak. Kebetulan dekat rumah ada daycare. Setelah survei dahulu dan mengajak Rasya ke sana, alhamdulillah Rasya mau untuk bermain di sana. Saya dan suami selalu bilang pada Rasya saat mandi pagi, “Nanti Rasya ke TPA ya, be nice baby.’ Saat bulan Puasa, saya sempat menitipkan Rasya di TPA selama tiga hari. Pada tiga hari pertama, Rasya oke-oke saja saat ke TPA. Dia langsung main dengan teman-temannya. Rasya saya bawakan bekal nasi dan lauk plus cemilan dan susu.

Nah, yang bikin saya takjub, bekal Rasya selalu habis tak bersisa! Padahal, sering saya khawatir apakah makanannya cukup atau malah terlalu banyak. Sekali waktu saya tanyakan pada guru TPA, biasanya Rasya makannya bagaimana. Kata gurunya, kalau pagi biasanya disuapi, tetapi siang mau makan sendiri. Faktor banyak teman yang juga makan pada saat bersamaan juga sangat berpengaruh. Rasya jadi ikut makan banyak karena semua temannya makan.

Di sinilah untungnya Rasya di TPA, dia makan super lahap, cepat belajar hal baru, dan babbling-nya lebih sering. Pascalibur Lebaran, karena mertua belum kembali, Rasya pun kembali ke TPA. Entah karena selama liburan terus bersama saya, hari pertama masuk TPA, Rasya menangis histeris saat ditinggal. Ketika saya sms gurunya, hampir seharian ia menangis, menyambut saya pas dijemput juga sambil menangis. Duh, saya jadi patah hati :(

Saat-saat seperti ini bikin saya merasa bersalah karena ‘terpaksa’ menitipkan Rasya di TPA. Suami pun juga demikian. Meski ia pernah bilang, ‘Mending dia nangisnya sekarang, pas masuk TPA, daripada pas sekolah nanti juga nangis terus?’ Yaaa, tapi tetap saja bikin sedih, walau harus dipaksa untuk tega meninggalkannya. Hari-hari berikutnya, Rasya tetap menangis penuh drama, bahkan saat kami baru sampai di depan TPA. Belakangan, saya tahu bahwa tangisan Rasya itu tangisan manja, ingin dipeluk. Versi suami saya,’Tiap lihat Mama, pasti langsung pengen nenen.’ Itu sih, memang Rasya banget. Namun, satu kali saat saya jemput dan ia nggak ngeh kedatangan saya, ia terlihat baik-baik saja dengan teman-temannya. Pas lihat saya baru pasang muka sedih luar biasa, hihihihi. Ah, dia memang tahu kalau mamanya paling lemah sama tangisannya.

Kekurangan dari menitipkan anak di TPA adalah anak mudah tertular penyakit, paling sering batuk pilek. Sekalipun sudah dibentengi dengan vitamin, tetap saja. Hiks :( Selebihnya, saya termasuk pro TPA kala mencari ART itu susah banget! Hingga kini, status Rasya di TPA adalah pemain cabutan. Kadang masuk TPA, kadang nggak. Ya itu, tergantung keadaan ;)

Bantuin si mbak nyapu

Alhamdulillah, di penghujung bulan ini saya bisa memberikan alternatif ketiga untuk menjawab pertanyaan di atas. Saya dipertemukan dengan seorang ART rekomendasi teman kerja. Syukurlah, Rasya juga cocok dengan si Mbak. Sejak pandangan pertama (eaaaaa), nggak ada drama-drama lebay yang muncul ketika saya tinggal Rasya berdua si Mbak. Malah sekarang dia bisa dengan santai mengantar saya berangkat, sambil dadah-dadah dan kiss bye.

Keuntungan ada ART di rumah sudah pasti sangat sangaaaattt banyak! Anak diurus dengan baik (sesuai petunjuk kita tentunya), makan teratur, bisa lebih sering makan buah segar (karena kalau di TPA agak repot membawakan cemilan buah atau puding), dan bagian paling favorit adalah rumah kinclong selaluh!!! Kemarin saya sampai terharu dan terpukau melihat dapur  jadi bersih, mengilap, dan rapiiii sekaliiiiiii. Si Mbak ini jagoan sekali deh! Memang, untuk pekerjaan ART, saya memintanya untuk fokus mengurus Rasya, bersih-bersih, dan cuci setrika. Masak tetap bagian saya karena saya harus jadi ratu di dapur sendiri *kibas poni*

Jadi, saya punya tiga alternatif jawaban untuk pertanyaan ‘siapa yang jaga si kecil.’ Sekali lagi, tergantung keadaan saat itu. Semoga saja jawaban ketiga itu akan lebih sering muncul, hehehehe.

Kalau jawaban Mommies apa? :)

*thumbnail dari sini


2 Comments - Write a Comment

  1. Waaah, segala cara udah dicoba yaa :D
    Gue belum pernah coba di daycare, karena jalanan Jakarta nggak memungkinkan untuk jemput anak tepat waktu. Alhamdulillah juga sebenarnya gue ada nyokap yang rumahnya sedaerah dan siap sedia untuk dititipi cucu. Mertua, tinggal di luar kota. Jadi pilihannya kalo nggak ada ART, antara titip nyokap atau bawa ke kantor :D

  2. ah iya, jadi inget kurang satu cara: bawa anak ke kantor. tapi klo gue (lagi-lagi) tergantung situasi soal bawa ke tempat kerja. berhubung kerja di sekolah, pas siswa libur sekolah mah bawa anak ya enak aja. klo ada siswa, malah nggak enak hehehe.

Post Comment