Motherhood Monday: dr. Grace, Anak Perlu Rutinitas

Nama dr. Grace Judio-Kahl, M.Sc, M.H, CHt. pasti tidak asing lagi untuk Mommies yang mungkin pernah menonton atau menghadiri seminar tentang diet, pelangsingan, atau pola makan. Beliau sekarang berusaha mengurangi jam praktek dan ‘beredar’nya supaya lebih banyak waktu di rumah bersama anak.

Dr. Grace, cabang Shape Indonesia bertambah, makin sibuk, dong?

Saya sedang berusaha mengurangi jam praktik, nih. Tinggal kasus-kasus khusus saja seperti very obese yang 140 kg lebih, atau eating disorder seperti bulimia atau anorexia yang masih saya pegang sendiri. Konsultasi yang cuma meneruskan terapi atau melanjutkan obat saya delegasikan ke dokter junior. Selain pasien khusus masih bisa ketemu saya, tapi hanya di group therapy. Kalau tidak begini bisa nggak pulang-pulang saya, kapan ketemu anak? Padahal target saya menjadi yang terakhir dilihat anak waktu berangkat tidur dan pertama dilihat waktu anak bangun. Sebisa mungkin saya setiap malam membaca buku bersama anak sebelum tidur.

Adakah perbedaan interaksi dengan pasien setelah sekarang ada anak?

Maklum anak pertama, ya, jadi bahan percobaan..hahaha. Saya menerapkan apa yang saya adviskan ke pasien pada anak. Jadi saya malah lebih yakin kalau advis saya bisa diaplikasikan karena sudah saya praktekkan sendiri.

Apa saja, sih, kegiatan sehari-harinya?

Saya manage Shape Indonesia dan handle produksi makanan khusus pasien termasuk beberapa frozen food.

Sebelum berangkat saya tetapkan scheduling anak saya Olaf (15 bulan), sekolah & kegiatan-kegiatan apa saja yang akan dilakukan atau dipelajari anak hari itu.

Wah, sudah padat, ya, jadwal Olaf.

Anak perlu rutinitas, lho. Dengan ada rutinitas yang jelas setiap harinya anak akan tahu apa yang akan dijalani. Karena sudah tahu habis kegiatan x itu berlanjut dengan y, hidup anak akan lebih teratur dan lebih jarang rewel. Makanya saya jarang ajak dia kalau ada pekerjaan keluar seperti talkshow atau syuting. Rutinitasnya akan terganggu.

Di usia 14 bulan ini dia sudah mengerti sekuensial, kesinambungan, karena keseharian yang terjadwal tadi. Misal sedang makan, kalau dia merasa sudah cukup, dia akan bilang “Down. Bath.” Karena dia tahu setelah makan jadwalnya mandi.

Soal, makan, nih, sempat susah makan, ngga? Atau ada jenis makanan yang nggak doyan?

Nah, ini yang sering disalahpahami oleh ibu-ibu. Kadang anak melepeh makanan belum tentu nggak doyan, lho. Bisa jadi karena makanan itu beda rasa, atau beda tekstur dari yang biasa dia makan.

Pastikan pemberian jenis makanan baru melalui proses perkenalan dahulu. Olaf juga akan lepeh makanannya kalau dia nggak kenal. Dicampur pun, seperti dicampur dengan nasi juga bikin indra perasa anak menganggap itu makanan yang berbeda jadi dilepeh semua. Bisa dicoba berikan makannya sendiri-sendiri. Jadi satu suap nasi aja, nanti lauknya satu suap sendiri, nggak campur nasi.

Ada kiat lain, nggak, Dok soal belajar makan?

Saat anak makan, fokus pada makan. Jangan sambil nonton televisi, main, atau malah keliling kompleks, hahaha. Di Jerman orangtua akan tegas pada anak, selesaikan makan dahulu baru menonton televisi. Mau makannya sambil nangis-nangis juga jadinya dilakoni. Sementara orang Indonesia, ketimbang nggak mau makan dijembrenglah segala mainan di meja makan.

Daripada sambil mainan yang tidak berhubungan dengan makan, ajak anak berinteraksi, bereksperimen dengan makanan. Beri satu piring berisi macam-macam jenis makanan untuk dimainkan. Mau dimakan juga boleh. Tapi tetap sambil disuapi, ya, karena makanan yang dimainkan biasanya akan banyak dilempar ke bawah :D. Melempar, pun, juga proses belajar, lho. Ada makanan atau bahan yang kalau dilempar bunyinya “plek!”, tapi yang lain bunyinya “bok!”.

Olaf diperbolehkan menonton televisi? (Di luar jam makan tentunya).

Iya, dengan pembatasan, ya. Maksimal satu jam saja.

Ada karakter yang difavoritkan?

Saya tidak mengenalkan karakter tertentu. Choo-choo train ya train. Kereta api. Bukan Thomas, bukan Chuggington. Nggak pernah membelikan baju atau mainan yang spesifik karakter tertentu juga. Saya tidak mau membuat character bonding, karena itu lead to consumerism. Iya kalau saya kelak tajir, kalau nggak nanti repot kalau Olaf menuntut ini itu yang berkaitan dengan karakter tersebut. Ini salah satu yang saya pelajari di bidang ilmu saya, Behavioral Science.

O, ya, Olaf kan sudah banyak kosakatanya, sudah 70 kata. Dengan ayah dari Jerman, kosa kata bahasa apa yang sudah dikenal Olaf?

Bahasa Inggris dan Jawa! Hahahaha…jadi kami lebih sering berbahasa Inggris, buku-buku Olaf juga banyak berbahasa Inggris, nanny-nya juga saya ajarkan berbahasa Inggris pada Olaf. Nah, tapi karena saya asli Semarang, 25 tahun di Semarang dan nanny-nya orang Tegal, kami lebih sering berbahasa Jawa juga. Jadinya Olaf ikut paham hahaha..

—-

Saat ini dr. Grace sedang berlibur ke Jerman, mengajak Olaf berkenalan dengan keluarga besar ayahnya. Dr. Grace sempat bercerita bahwa kakek-nenek Olaf sudah pernah berkunjung ke Indonesia, tapi keluarga besarnya belum pernah bertemu Olaf. Sambil hendak mengenalkan bahasa Jerman juga ke Olaf katanya :D.

Selamat berlibur, ya, Olaf! Frohe feiertage!


2 Comments - Write a Comment

  1. Setuju banget bahwa kadang character bonding itu lead to consumerism, Bukan cuma ke anak, tapi kadang jadi ke ortunya, Jleb banget deh gue bacanya. Misalnya nih, sekarang Langit lagi seneng sama Strawberry Shortcake, yang ada bukan dia aja yang demen ngumpulin, tapi gue juga kalo lihat perintilan Strawberry Shortcake suka ngebeliin -__-

  2. Ideemm, gw juga jleb waktu denger itu secara sejak jaman Darris gw ngumpulin set Thomas walo ya gak terus semua printilan Thomas gue beli sih (liat-lita ongkosnya juga :p). Untungnya tapi anak gue ga ada yang segitunya juga sih ama karakter tertentu. Lebih demen dari karakter lain sih iya, tapi yang sampe ngefans terus koleksi gitu ga ada deh (ga usah lah mendingan -_-).

Post Comment