Ketika Pengasuh Anak Resign

Benar banget, nih, apa yang dikatakan Miunds dalam artikel Pahit Manis Asisten Rumah Tangga. Saat ditinggalkan pengasuh anak, banyak ibu-ibu yang merasakan patah hati. Dan hal inilah yang belum lama saya rasakan :(. Nah, biasanya pascalebaran permasalahan ini akrab sama ibu-ibu, ya.

Saya sendiri nggak pernah menyangka akan merasakan begitu kehilangan saat pengasuhnya Bumi memutuskan untuk keluar. Sebenarnya, ini adalah kali kedua dia memutuskan untuk tidak membantu saya menjaga Bumi lagi. Yang pertama, dia minta keluar karena tergiur bekerja di luar negeri seperti teman-teman sekampungnya.

“Doain Sofi, ya, kak. Kalau kerja di luar negeri Sofi kan bisa lebih banyak bantu ibu di rumah. Bisa bangun rumah seperti temen-temen Sofi yang lainnya,” begitu ujarnya dulu saat ia berpamitan.

*gambar dari sini

Dulu, sih, rasanya memang nggak seberat saat ini. Mungkin karena saat itu saya sedang memutuskan menjadi freelancer saja. Pekerjaan bisa saya kerjakan di rumah saja, kalaupun ada pekerjaan di luar rumah, tidak terlalu makan banyak waktu.

Tapi sekarang? Kehilangan pengasuh yang sudah membantu saya untuk mengawasi Bumi sejak usianya 4 bulan, benar-benar bikin saya patah hati. Padahal, hubungan kami terbilang sudah amat dekat. Dia sudah saya anggap sebagai saudara sendiri. Beberapa kiat untuk membina hubungan yang baik dan harmonis dengan para ART yang dipaparkan Miund pun memang sudah saya terapkan.

Untuk mempertahankannya, saya juga sempat menawarkan kompensasi lebih. Banyak teman yang bilang kalau tindakan saya ini sedikit berlebihan, memanjakan pengasuh takut nanti mereka besar kepala. Tapi buat saya nggak harus berpikir seperti itu, sih, ya. Ini hanya bagian dari treat them as human beings.

Buat saya dan suami, yang terpenting Bumi merasa nyaman selama dalam pengasuhan si mbak. Kami berpikir, jika sering gonta-ganti pasangan, akan membuat membuat anak bingung dan merasa tidak aman. Biar bagaimana dengan pengasuh yang baru, tentu akan perlu adaptasi yang cukup lama.

Kenyataannya, meskipun sudah dirayu supaya tetap bertahan, penawaran saya ini nggak digubris :(

Tapi, setelah pengasuh Bumi nggak ada ada banyak hal yang bisa saya pelajari. Kalau dulu, saya kerap tinggal order, meminta pengasuh Bumi untuk masak menu A atau menu B untuk Bumi, sekarang saya harus kembali terjun langsung ke dapur. Bahkan, termasuk membeli bahan-bahan sayur mayur beserta teman-temannya di pasar kecil dekat rumah.

Sekarang, saya benar-benar harus menentukan semua-semuanya. Sebelum berangkat kerja, saya pun akhirnya selalu menitipkan jadwal Bumi ke eninnya. Mulai dari makan, minum susu, makan buah, termasuk jatah Bumi nonton Youtube atau DVD Thomas and friends :D

Sebelum mendapatkan pengganti pengasuhnya Bumi, saya dan suami pun akhirnya sepakat untuk mengatur jadwal jam kerja. Dimana, suami saya untuk sementara waktu akan lebih sering mengambil shift kerja pada malam hari. Dengan begitu, suami saya bisa membantu menjaga Bumi hingga siang sebelum ia tidur. Bahkan, sekarang Bumi tidur siang bersama bapaknya :D

Formula seperti ini akhirnya bisa membuat kami berdua mengatur waktu bersama Bumi agar lebih dekat. Attachment atau kelekatan dengan si Bumi pun (tambah) semakin baik. Terbukti, Bumi nggak akan diasuh eninnya selama masih ada saya dan bapaknya.

Dengan kehilangan pengasuh Bumi, akhirnya kembali menyadarkan saya dan suami kalau sekalipun kita harus bekerja dan membutuhkan orang lain yang merawat anak kita. Tapi bukan berarti tanggung jawab mendidik dan merawat anak bisa didelegasikan sepenuhnya ke orang lain. Orangtua kita ataupun pengasuh hanya bertugas mengawasi dan memberikan eksekusi selagi saya dan suami sedang bekerja.

Meskipun sempat patah hati dan frustasi, tapi situasi saat si mbak resign benar-benar banyak memberikan pelajaran buat saya dan suami. What about, you, Mommies?