Joy of Learning

Bukan, bukan anak-anak yang sedang learning joyfully, tapi para orangtuanya :D

Workshop yang diadakan Fisher Price dengan coach Carrie Lupoli dari Mumcentre.com ini sooo fully packed with information sampai-sampai mau live tweet nggak sempat! Kalau nggak sedang sibuk interactively mencatat keywords yang dikosongi di worksheetnya, ya, seru menyimak cerita-cerita Carrie.

Pertama kali yang harus kami lakukan sebagai peserta workshop adalah menuliskan “What we want our children to be”. Ada yang menulis Happy, Religius, Sukses, Jujur, Bertanggungjawab, Mandiri, punya Simpati/Empati, Loving, dll. That’s the goal.

*gambar dari sini

Lalu bagaimana caranya supaya semua itu tercapai?

Carrie mencontohkan perjalanan yang pernah dilakukannya. Di negara Skandinavia yang tidak terlalu familiar, sekeluarga hendak pergi dengan mobil ke kota yang lokasinya empat jam perjalanan ke Utara dari kota yang mereka tinggali. Beberapa bagian dari perjalanan ini harus dilewati dengan menumpang kapal ferry karena melintasi lembah-lembah gletser yang namanya fjord. GPS dipasang, dan suami Carrie menyetir mengikuti petunjuk GPS. Dua jam kemudian Carrie menyadari bahwa mereka salah jalan, dan posisi berada di dua jam ke Selatan. Setelah meneliti peta GPS, ternyata GPS mengarahkan mereka memutar, menghindari fjords. Ini namanya tahu tujuan, tapi nggak tahu jalan. Yang ada kesasar.

Seperti inilah perumpamaan parenting. Kita tahu tujuan yang diinginkan: anak sukses dunia akhirat. Tapi nggak tahu harus melakukan apa dan bagaimana. The very first base yang ditanamkan oleh Carrie adalah bahwa lima tahun pertama dari usia anak itu sangat penting. Perkembangan otak manusia yang ditunjukkan dengan milestones yang tercapai dalam masa ini lebih besar daripada gabungan dari tahun-tahun sesudahnya. Jadi di usia inilah orang tua harus bisa mengajari anak dasar-dasar untuk perkembangannya kelak. Padahal lima tahun itu akan sangat cepat berlalunya. Pe-eR bener yaaaa…*sigh*. Tapi,

“We are not expected to be with our kids, play with them ALL the time. All we need is some time, and FOCUSED.”

Kedua, apa sih tujuan utama, hasil yang diharapkan dari parenting? Kebanyakan orang tua akan menjawab happiness. Masalahnya kebahagiaan tidak bisa diukur dan sangat subyektif tergantung situasi. Pada kenyataannya, ukuran keberhasilan sebagai orang tua adalah saat anak bisa mandiri. Betul, nggak? Memangnya mau anak sampai dewasa berumah tangga tapi belum bisa mandiri walau sangat happy? Sejatinya, perkembangan anak sendiri akan menunjukkan arah ke kemandirian. Makin besar anak akan cenderung mau melakukan apa-apa sendiri walau kadang motoriknya masih belum mencapai keterampilan yang diperlukan. Tapi tetap beri anak kesempatan untuk mencoba karena dengan mencoba dan banyak berlatih, keterampilan akan dikuasai. Independence, hanya salah satu dari banyak skill atau keterampilan yang penting untuk dicapai anak, dan diajarkan dasarnya sejak dini. Lengkapnya adalah sebagai berikut:

Apa yang pertama kali harus orang tua pelajari untuk bisa efektif mengajari anak?

“Learning should be joyful.”

Play-based learning yang interaktif dapat mengajarkan anak semua keterampilan-keterampilan yang penting untuk perkembangan otak yang sehat. Saat anak bermain dengan sesamanya, tanpa disadari anak akan belajar dasar-dasar interaksi, negoisasi, berbagi, menunggu giliran, dan kepemimpinan. Belajar dengan praktik langsung atau memasukkan ‘bahan-bahan pelajaran’ ke dalam aktivitas sehari-hari membuat anak lebih paham dan pengalaman belajar itu akan lebih bermakna. Di sisi lain, play based learning yang dimulai sendiri oleh anak memastikan anak dalam kondisi siap belajar. Beda bila kita yang mendudukan  dan menjadwalkan anak untuk belajar, bisa jadi saatnya tidak tepat, anak tidak sedang berminat belajar. Otomatis pelajaran juga nggak nyangkut-nyangkut biasanya. Pemecahan masalah dan kemampuan bertahan saat ada masalah juga lebih tinggi. Anak nggak gampang bosan dan pundung. Untuk keterampilan berkomunikasi, berbahasa dan berekspresi harus diajarkan melalui interaksi langsung. Manfaatkan waktu bermain dengan anak untuk mengasah keterampilan berbahasanya.

“A house full of conversation and language is proved to help developd child’s brain.”

Carrie juga menyarankan untuk rutin membaca buku bersama anak. Membacakan buku anak tidak ada batas usia, lho. Mulai dari lahir sampai besar, sambil belajar membaca sendiri. Carrie sempat menceritakan temannya yang melahirkan kembar prematur. Dokter agak pesimis dengan perkembangan si kembar, tapi sang ibu tidak putus asa. Terus membacakan buku cerita di samping inkubator si kembar. Di luar perkiraan semula, si kembar tumbuh sehat dan normal, sampai sekarang berusia 3 tahun. Would that be happen if their mom did not persist to read to them? We never know, she never know. But she would not take the chance of not reading to them.

Kadang anak perlu bermain sendiri untuk bisa belajar. Beberapa keterampilan di dapat dengan menikmati aktivitas sendiri. Misalnya dengan membiarkan anak bermain Lego sendiri tanpa sedikit-sedikit mengatur bagaimana cara pasangnya atau protes saat bentuknya nggak jelas :D. Dengan membiarkan mereka mengeksplorasi sendiri mainan atau media yang ada, kita sudah mengajarkan self help skill dan focusing. Permainan yang berhubungan dengan seni, musik dan menari, dress up dan main pura-puraan, mengajarkan anak berimajinasi dan mengasah abstract thinking.

“Training your child to be ‘smart’ takes understanding of what ‘smart’ actually is.”

So, are we smart enough to teach and accompany our children to learn through  play based child initiated joyful learning? Yuk, belajar!