Efek Buruk Mendengkur

Rasanya kesal sekali, deh, kalau sedang tidur mendengar suara dengkuran. Benar-benar ngeganggu! Untungnya, sih, suami saya bukan tipe pria pendengkur. Kecuali…. dia sedang benar-benar dalam kondisi yang sangat lelah. Kalau sudah begitu, biasanya saya akan membangunkannya dan meminta dia untuk tidur miring. Cara ini efektif sekali, loh!

Dan ternyata, benar saja, memiringkan badan memang merupakan salah satu cara untuk mengurangi dengkuran. Hal ini diterangkan oleh Dr. dr. Bambang Budi Siswanto Sp JP (K) saat jumpa pers yang digagas Royal Philips Electronica dalam rangka World Sleep Day 2013 beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, selain menjaga pola hidup yang sehat, memiringkan badan dengan bantal atau guling, bisa mengurangi bahkan mencegah dampak buruk yang bisa dialami orang yang mendengkur.

Lebih lanjut, pria yang kerap disapa dokter Bambang ini menjelaskan, bahwa saat ini masih banyak masyarakat yang menyepelekan dengkuran. Padahal pada kenyataannya, mendengkur ini merupakan salah satu gangguan yang  bisa mengakibatkan penyakit kronis dan menjadi gejala utama dari penyakit tidur bernama Obstructive Sleep Apnea (OSA).

Mendengar pemaparan seminar kesehatan ini, membuat jantung saya deg deg-an, takut sekali mendengarnya dampak buruk yang bisa didapatkan gara-gara mendengkur.

Gangguan bernafas saat tidur atau mengorok ini memang nggak hanya bisa membuat badan terasa lesu dan mudah mengantuk karena tidur yang tidak optimal. Mengorok juga bisa menyebabkan beberapa penyakit berbahaya mulai dari penyakit gangguan irama denyut jantung, tekanan darah tinggi yang resisten dengan obat, penyakit gagal jantung, dan berhubungan dengan penyakit stroke.

Dibandingkan dengan perempuan, laki-laki memang lebih cenderung lebih banyak mengalami gangguan tidur mengorok ini. Hal ini telah dibuktikan lewat sebuah penelitian di Jerman, di mana dari 800.000 orang yang mengalami kelainan gangguan tidur, perbandingan perempuan dan laki-laki, 1,7: 1.

Dari penjelasan seminar ini, saya juga baru tahu kalau sebenarnya tidur yang cukup  merupakan salah satu bagian pilar kehidupan yang harus bisa terpenuhi dengan baik. Selain itu, pernafasan untuk membutuhkan oksigen, dan nutrisi makanan dan minuman.

Dokter yang praktik di RS Harapan Kita ini juga menjelaskan bahwa gangguan pernafasan mendengkur ini disebabkan oleh beberapa hal. Seperti Obstruktif Sleep Opnoe, yaitu saluran nafas yang tertutup oleh anak lidah pada orang  gemuk yang tidur telentang. Nah, kondisi ini membuat oksigen ke jaringan termasuk ke jantung dan otak akan berkurang.

Akibatnya, bila tersumbat total akan timbul periode tidak nafas sebentar, lalu timbul reflek terbangun tiba-tiba yang bisa menyebabkan tekanan darah dan nadi naik secara tiba-tiba sehingga berefek buruk.

Selain itu, mendengkur juga disebabkan karena Sentral Sleep Apnoe yaitu pusat nafas terganggu, mungkin karena stroke atau karena sakit jantung yang berat. Jika kondisi ini terjadi, maka otak tidak akan mampu membuat nafas sehingga saturasi pun tidak cukup masuk ke jaringan tubuh.

O, ya, Mommies, kalau lelah dan lemas menjadi salah satu efek yang bisa terlihat langsung saat orang dewasa kurang tidur, ciri-ciri pada anak justru berbanding terbalik.

“Kalau anak-anak mengalami gangguan tidur, tampilan mengantuknya justru berbeda dengan orang dewasa. Untuk melawan rasa kantuk anak justru akan menjadi hiperaktif,” ungkap Dr. Rimawati Tedjakusmana, SpS, RPSGT dari Indonesia Sleep Siciety.

Ah, pantas saja, ya, kalau anak kita mengantuk pasti bawaannya jadi rewel, dan urung-uringan.

Ngorok pada anak disebabkan oleh saluran nafas atas yang menyempit saat tidur. Secara periodik hal ini akan mengakibatkan nafas tersumbat. Jadi,  nggak heran jika si kecil akan merasa sesak dan  terbangun sejenak untuk kembali membuka jalan nafas. Setelah itu ia pun akan tertidur kembali. Kondisi seperti inilah yang akhirnya membuat proses tidur si kecil tidak optimal

Bahayanya lagi, jika anak-anak yang mengalami gangguan tidur ini bisa menyebabkan risiko yang besar dan nggak bisa kita remehkan. Soalnya, kondisi sleep apnea pada anak bisa berakibat terjadinya gangguan proses tumbuh kembang pada anak, dan memengaruhi perilaku serta kemampuan belajar anak.

Menurut Dr. Rimawati Tedjakusmana, sleep apnea pada anak sering diakibatkan oleh bengkaknya kelenjar adenoid dan amandel. Biasanya, sih, perawatan utamanya akan diarahkan pada pengangkatan kedua kelenjar ini.

Selain itu ada sebuah penelitian yang terbit pada American Journal of Physiology : Regulatory, Integrative and Comparative Physiology, edisi Februari 2013 yang membuktikan bahwa terjadi perubahan gelombang otak tidur pada masa pra remaja. Pematangan sel-sel saraf ini terjadi pada peralihan masa kanak-kanak ke remaja.

Penemuan baru seakan semakin memperjelas bahwa proses tidur penting sangat penting bagi perkembangan otak anak-remaja. Terutama dalam rentang empat setengah tahun, dari usia 12-16,5 tahun tidur jadi amat penting. Melihat perubahan pada gelombang otak tidur, sebenarnya merupakan cerminan bagaimana proses tumbuh-kembang dan pematangan saraf-saraf otak terjadi.

Wah, ternyata salah besar, ya jika kita masih berpikir kalau tidur merupakan sebagai fase kehidupan yang tidak aktif. Justru segala proses tumbuh-kembang dan pematangan kemampuan otak justru terjadi saat tidur.

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment