Saat Si Kecil Demam

Langit, anak saya, termasuk anak yang jarang sakit. Kebetulan ia tipe anak yang gampang makan-nya, aktif dan ya pokoknya jarang sakit lah. Kalau hanya sekedar batuk pilek, standar ya. Maklum usia sekolah, jadi perputaran virus juga lebih cepat.

Beberapa waktu lalu, tepatnya di akhir pekan awal Februari, kami sekeluarga sedang mengunjungi saudara di Bogor. Sepulangnya dari Bogor hujan deras. Di mobil, Langit yang biasanya ceriwis dan nggak bisa diam tiba-tiba minta duduk di pangkuan saya dan hanya bersandar. Saya pegang dahinya, wah panas, tapi saya gak langsung klaim bahwa Langit sakit atau terkena demam, karena belum mengukur suhu tubuh nya dengan termometer.

Catatan penting nih ibu-ibu, mengukur suhu tubuh anak bukan dengan menempelkan tangan di dahinya melainkan dengan termometer, ya.

Sampai di rumah, Langit langsung saya bawa ke kamar kemudian diukur suhu tubuhnya dengan termometer. 39,5. Wow, ini kali kedua suhu tubuh Langit mencapai angka setinggi itu. Saya langsung meminta suami membelikan obat penurun panas untuk anak. FYI, Saya bukan tipe ibu yang mudah memberikan obat untuk anak, bukannya mau sok RUM (Rational Uses of Medicine) ya, tapi menurut saya jika memang nggak perlu atau setidaknya belum perlu, kenapa harus memasukan bahan-bahan kimia ke tubuh anak saya ?

*wajah lesunya saat demam, heartbreaking :(

Saat Langit demam dulu, saya memberinya Tempra, obat penurun panas yang memang sudah menjadi template saat anak demam. Suami saya ternyata membelikan Tempra, padahal saya kelupaan kasih tahu dia merk apa yang harus dibeli.

PR kami selanjutnya adalah membujuk Langit agar mau meminum Tempra. Ini kiat yang bisa saya share saat harus memberikan obat untuk anak:

  • Jangan berbohong. Katakan bahwa obatnya akan sedikit pahit, tapi bisa membuat nyaman tubuh si anak.
  • Jangan memaksa. Jika anak menolak, lebih baik ditunda dulu pemberiannya. Tunggu sampai dia bersedia. Percaya deh, semakin dipaksa obatnya nggak akan masuk. Sia-sia juga kan?
  • Pilih obat penurun panas atau demam yang rasanya akan disukai oleh anak-anak. Nah, ini salah satu alasan saya memilih Tempra. Pilihan rasanya ada dua, yaitu anggur dan jeruk yang pasti disukai oleh anak-anak.
  • Perhatikan jenis dan dosis obat yang sesuai dengan usia anak.

Sebagai obat penurun panas dan demam, Tempra tersedia untuk:

  • Bayi – 1 tahun: bisa menggunakan Tempra Drops dengan rasa anggur
  • Anak  1 tahun – 6 tahun: gunakan Tempra Syrup dengan rasa anggur
  • Anak  6 tahun – 12 tahun: tersedia Tempra Forte dengan rasa jeruk

Setelah minum Tempra, memang suhu tubuh Langit nggak sekonyong-konyong turun, melainkan berangsur menurun. Saya pribadi, sih, lebih suka dengan produk yang tidak instan. Karena sering kali jadi bikin saya bertanya-tanya, kandungannya apa, ya? Kok, cepat sekali menurunkan suhu tubuh saat anak demam?

Bagaimana dengan Mommies, ada kiat atau insight lain seputar pemberian obat penurun panas untuk anak?


8 Comments - Write a Comment

  1. kalo aku di rumah juga sedia tempra, tapi entah kenapa tiap nadia demam dikasi itu muntah. jadi dari bayi ampe 2 tahun lebih, alhamdulillah ga kemasukan obat. biasanya kalo demam nadia kurendam di air anget. kalo rewel digendong dan peluk. skin to skin sambil tiduran.

  2. Maika juga jarang banget demam sampe tinggi banget. Biasanya sumeng aja, jadi paling rendaman air hangat. Tapi beberapa kali pernah demam cukup tinggi, di atas 38. Dan Maika doyan Tempra ternyata :) Dengan senang hati dia minum obatnya saat demamnya tinggi,

  3. Eh, tempra drops juga jadi penghuni tetap kotak obat gue sejak jadi ibu-ibu :)) Pipetnya ada tempat khusus, jadi gak berantakan. Anyway, anak panas emang bikin panik yang dimanaaaa ibunya gak boleh panil *lapjidt* sehat terus ya anak-anaaakk :D

Post Comment