Family Friday: Novita Angie on International Women’s Day

Jika ada satu hal yang menjadi persamaan dari seluruh wanita di dunia, selain anatomi tubuh tentunya, maka itu adalah awareness yang berkesinambungan terhadap kondisi di sekitarnya. Kesadaran tersebut menjadi semacam sistem pertahanan diri, yang fungsi paling mendasarnya adalah sebagai perlindungan terhadap kemungkinan datangnya ancaman fisik yang bisa membahayakan.

Kesadaran yang terus menerus itu juga lah yang kemudian menuntun perempuan bertindak sesuai peran dan kodratnya, dan pada perkembangannya kini ikut beradaptasi mengikuti zaman dan tuntutan kehidupan. Maka perempuan pun kini tak cuma mengurusi dapur, kamar dan anak. Perempuan kini adalah partner laki-laki, pelindung untuk anak-anaknya dan inspirasi untuk dunia.

Status-status tersebut melekat erat pada seluruh perempuan di dunia yang hidup di era smartphone dan tablet pc sekarang ini. Dunia berubah, tapi perempuan tidak. Mereka hanya menyesuaikan diri untuk tetap menjalani kodrat sebagai istri dan ibu.

Berikut ngobrol-ngobrol saya dengan Novita Angie. Ibu dari Jeremy dan Jemina yang di tengah keseibukannya sebagai presenter masih menjunjung ‘nilai-nilai lama’ terhadap peran, kewajiban  dan kodrat perempuan.

Selamat Hari Perempuan Internasional, Mommies.

Menurut Mbak Angie, apa saja sih perbedaan wanita zaman sekarang dibandingkan 5-10 tahun yang lalu?

Perbedaannya sangat signifikan, yah. Apalagi zaman ibu dan nenek kita. Kalau sekarang, kita sebagai wanita sudah bisa lebih speak out. Sehingga jauh lebih mampu menunjukan potensinya. High position di perusahaan besar juga sudah banyak yang dipegang oleh wanita.

Bagaimana dengan pola asuh anak yang diterapkan?

Wah, itu juga! Zaman sekarang sudah beda jauh dibandingkan dulu. Saat ini anak-anak lebih dibebaskan untuk berekplorasi. Begitu juga dengan pola asuh yang saya terapkan pada anak-anak. Kalau dulu menurut saya aturanya sedikit kaku, yah. Dikit-dikit nggak boleh, jangan ini, jangan itu. Cara mendidik juga bisa dibilang jauh sekali. Dulu, mungkin banyak orang tua yang sedikit-sedikit main cubit anak, atau mungkin disabet, hehhehe. Kalau sekarang kan nggak bisa seperti itu lagi.

Saya justru sangat merasa salut dan bangga dengan wanita yang bisa jadi stay at home mommies. Pekerjaan yang paling sulit buat saya di muka bumi ini adalah jadi ibu rumah tangga. Nggak ada kata pensiun. Sekarang ini, justru banyak, lho, wanita yang menjadikan pekerjaan di kantor sebagai pelarian untuk menghindari keribetan di rumah. ‘Ah, dari pada pusing sama anak-anak mending kerja di kantor saja, deh’. Iya, nggak, sih?

Hahahaha, benar banget, Mbak.

Nah, jadi saya sangat angkat topi dengan wanita-wanita yang rela jadi stay at home mommies. Hebat sekali ibu-ibu yang bisa melakukannya. Saya sendiri sampai sekarang belum bisa melakukannya.

Setelah menikah, ketika wanita ingin berkerja tentu sebelumnya harus berkompromi dengan suami lebih dahulu. Nah, bagaimana pandangan mbak dengan suami yang masih melarang istrinya untuk bekerja?

Ternyata hari gini memang masih banyak, yah, suami yang melarang istrinya untuk bekerja. Padahal sayang sekali, lho. Bekerja itu kan sebenarnya banyak macamnya, bisa buka usaha sendiri, yang paling mudah membuka online shop. Meskipun bekerja, kita sebagai wanita kan juga nggak akan lupa tugas sebagai ibu dan istri. Jadi kalau menurut saya, sebaiknya memang nggak usah dilarang-larang, yah. Dengan begitu, istri akan tetap punya kegiatan positif.

Menurut Mbak Angie, meskipun kita hidup di zaman modern, ada tidak hal-hal yang tidak boleh kita lupakan?

Sehebat-hebatnya wanita buat saya harus tetap ingat dengan kodratnya sebagai wanita. Wanita itu tugasnya berat sekali, lho, apalagi kita hidup dengan budaya ketimuran. Di waktu yang sama kita harus bisa jadi istri, ibu, dan berkarir. Dan itu pekerjaan yang sangat sulit. Saat pulang kerja, meskipun kita sudah lelah harus tetap saja mengurus suami. Jangan sampai, deh, suami kita diurus wanita lain. Nggak mau kan?

Dari anak-anak kecil saya juga sudah mengajarkan pendidikan yang bersifat gender. Misalnya untuk anak saya yang pertama, Jeremy, saya sudah mengajarkan bahwa tugasnya sebagai laki-laki itu harus melindungi perempuan. Sehebat atau sekuat apapun perempuan, pasti tetap perlu perlindungan laki-laki. Dan untungnya sekali pola pendidikan seperti ini juga diterapkan di sekolah Jeremy meskipun sekolahnya bertaraf internasional. Sedangkan untuk Jemima, saya mengajarkan dari hal-hal kecil, misalnya saja, mengambilkan dan memberi minum saat papinya pulang bekerja.

*foto dari sini

Seperti yang Mbak Angie bilang sebelumnya, membesarkan anak itu nggak gampang dan perlu ekstra sabar. Nah, kalau Mbak sendiri paling nggak sabar saat kondisi seperti apa sih?

Aku nyerah sekali kalau ngajarin sekolah anak. Sepertinya sumbu kesabaran aku itu sangat pendek, yah, hahaha.  Kalau pelajaran sekolah, aku nyerah. Nggak sabarannya sering sampai ubun-ubun, lho, hahahha. Untuk itu, saya berbagi tugas dengan suami dalam pola asuh. Untuk urusan mengajarkan pelajaran di sekolah, bagian tugas suami. Kalau urusan tata krama, pendidikan moral, itu tugas saya. Cuma kalau mengajarkan anak-anak itu kan harus sabar, dan harus diingatkan berulang-ulang.

Pola asuh setiap anak tentu akan berbeda satu sama lain, apalagi untuk anak perempuan dan laki-laki. Bagaimana dengan Mbak Anggie?

Dulu,  saya menerapkan sistem reward dan punishment untuk anak-anak saya. Tapi karena anak-anak sudah besar, saya sudah bisa lebih berdiskusi. Misalnya, nih, sekarang kedua anak saya, sedang ingin iPod. Untuk mendapatkannya saya membuat perjanjian.

Anak saya yang kedua, wanita, sangat kompetitif. Nilai di sekolahnya juga sangat baik. Saya jadi bilang ke Jemima, kalau mau iPod, dia harus bisa mempertahankan jadi juara kelas. Sedangkan untuk Jeremy, anak pertama saya yang laki-laki jauh lebih santai. Saya bilang kalau ingin mendapatkan iPod, dia juga harus usaha untuk meningkatkan nilai-nilainya, dan paling tidak masuk 5 besar.

Mengingat jam kerja Mbak Angie yang cukup padat, bagaimana,sih, menyiasati untuk tetap bisa menghabisakan waktu bersama anak-anak. Ada ritual yang mungkin sering dilakukan bersama?

Untungnya sekarang saya nggak main sinetron. Kalau sedang bekerja dan tempatnya memungkinkan untuk mengajak anak-anak, mereka suka saya ajak untuk menemani. Kalau memang ada kerjaan yang full time seharian, biasanya, sih, weekend kami gunakan bersama-sama. Mungkin karena anak-anak juga sudah cukup besar, jadi mereka sudah paham kalau maminya sedang bekerja.

Thanks for sharing with us, Mbak Angie :)


One Comment - Write a Comment

Post Comment