Breastfeeding 101 (Part I)

Bagi saya, menyusui adalah hal yang tricky! Jika ada satu atau dua hal yang kurang dipahami, bisa bubar jalan niat untuk memberikan ASI yang sudah diyakini. Beberapa drama menyusui yang pernah saya alami diantaranya kenyataan bahwa ternyata saya berputing rata, Menik yang terkena kuning karena kurang ASI, dan Menik divonis Tongue Tie.

Supaya kesalahan yang terjadi karena kurang pengetahuan tidak terulang kepada para (calon) mommies lainnya, saya mewawancarai salah seorang dokter anak yang juga konselor laktasi dan cukup aktif di twitter dengan id @FransiscaHandy :) Iya, dr. Fransisca Handy, SpA, IBCLC atau yang biasa dipanggil dokter Sisca akan menjawab beberapa pertanyaan yang sering menghantui para (calon) busui. Karena hasil wawancara yang cukup panjang, maka akan saya bagi dua bagian.
menyusui
Bagian pertama adalah hal yang paling mendasar, yaitu klub puting lecet! Siapa disini yang putingnya tidak lecet waktu awal menyusui? Kalau ada, saya mau nyembah, karena artinya JAGOAN banget adaptasinya haha! Okay, let’s continue to the article :p

1. Banyak ibu baru suka mengeluh soal puting lecet ketika menyusui. Sebetulnya salahnya dimana, dok?

Puting lecet adalah keluhan yang paling sering disampaikan ibu menyusui, terlebih ibu baru (baru melahirkan anak pertama). Kunci keberhasilan menyusui salah satunya adalah posisi dan pelekatan yang baik.  Agar ibu dan bayi bisa mendapatkan posisi dan pelekatan yang baik dimulai dari mengetahui seperti apa posisi dan pelekatan yg baik itu, mencoba dan berlatih.  Terkadang pasangan ibu-bayi tidak bisa segera melakukan kegiatan menyusui dengan posisi dan pelekatan yang sempurna. Ada ibu dan bayi yang membutuhkan waktu panjang untuk bisa menemukan selah yang pas, tapi ada juga yang dapat belajar dengan cepat, sehingga tidak menemukan kendala yang berarti di awal menyusui.  Layaknya seseorang yang belajar naik sepeda, ada yang bisa seketika itu juga, tapi ada yang perlu belajar dan berlatih lebih lama.

2. Perlekatan payudara yang baik itu seperti apa? Bagaimana jika si ibu memiliki puting rata, atau malah inverted nipple?

Pelekatan yang baik ditandai dengan 4 hal yaitu: (AMUBIDA)

  1. Areola:  sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi.  Areola sisi atas mulut bayi akan terlihat lebih banyak dibandingkan areola sisi bawah mulut bayi.
  2. Mulut bayi: terbuka lebar.  Pastikan mulut bayi telah terbuka lebar (dapat diawali dengan menggoda mulut bayi dengan puting disaat bayi ingin menyusu) dan bayi datang ke payudara dari arah bawah.  Bantu dengan memastikan arah puting mengarah ke hidung bayi.
  3. Bibir : bibir bawah terlipat ke bawah (dower).  Bibir atasnya juga umumnya terlipat ke atas.
  4. Dagu: menempel pada payudara.  Hal ini untuk memastikan bahwa posisi menyusu juga sudah benar dan juga memastikan bahwa sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi.

Untuk dapat melakukan pelekatan dengan baik, posisi yang baik perlu dipastikan pada setiap proses menyusui.  Kunci posisi yang baik adalah:

  1. Kepala dan badan bayi ada di 1 garis lurus.  Leher bayi tidak tertekuk dan tidak menoleh.
  2. Dada bayi berhadapan dengan dada ibu
  3. Tubuh bayi rapat ke tubuh ibu

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan umumnya dapat membantu ibu dengan bentuk puting yang terlihat datar:

  1. Bentuk puting tidaklah terlalu penting untuk memastikan pelekatan yang baik, karena bayi menyusu pada payudara (lihat pelekatan yang baik, sebagian areola harus masuk ke mulut bayi).
  2. Yang paling penting bukan bentuk puting, tetapi kelenturan puting.  Jika perlu pastikanlah kelenturan puting pada konselor menyusui. Seiring dengan usia kehamilan kelenturan puting akan meningkat, terlebih setelah bayi lahir dan mulai menyusu, maka puting akan semakin lentur.
  3. Pelekatan dapat dibantu dengan menyangga payudara hingga “membentuk” payudara untuk lebih mudah masuk ke mulut bayi
  4. Membentuk puting agar lebih menonjol juga dapat dilakukan sesaat sebelum menyusui dengan menggunakan nipple puller, dengan tabung suntikan 20 ml yang telah dipotong ujungnya, atau dengan menggunakan pompa ASI).  Membuat  puting lebih menonjol sebelum kelahiran bayi tidak ada manfaatnya.
  5. Bila memang ada kesulitan untuk melakukan pelekatan, konsultasi dengan konselor menyusui untuk mendapatkan bantuan.

3. Sebetulnya kapan waktu yang tepat untuk bertemu konselor laktasi agar para ibu bisa berlatih seputar posisi menyusui dan perlekatannya?

Mempelajari posisi dan pelekatan menyusui yang benar tentu sangat baik dimulai sejak kehamilan, sebelum bayi lahir.  Tidak harus bertemu dengan konselor untuk belajar posisi dan pelekatan yang baik.  Di berbagai media cetak dan online sudah banyak informasi tentang posisi dan pelekatan. Mengikuti kelas pra natal untuk belajar laktasi tentu amat membantu.  Tidak hanya soal posisi dan pelekatan, tapi juga soal menyusui secara keseluruhan perlu dipelajari. Selain soal menyusui, segala seluk beluk kesehatan dan perilaku bayi baru lahir perlu dipelajari untuk menunjang keberhasilan menyusui dan mendapatkan kesehatan ibu dan bayi yang optimal.

***

Wah, sudah cukup panjang penjelasan dari dokter Sisca. Kita lanjutin di bagian kedua, ya, Mommies! Stick around for more Breastfeeding 101!

*thumbnail dari sini


One Comment - Write a Comment

Post Comment