Satu Gigitan, Berjuta Rasanya!

Ibu mana pun di dunia ini pasti selalu mendambakan bisa menyusui si kecil. ASI ibarat cairan emas yang harus kita investasikan pada anak, demi kesehatannya seumur hidup kelak. Menyusui juga menjadi momen romantis antara ibu dan anak, momen spesial yang tiada duanya!

Bayangan saya tentang menyusui seperti dalam kampanye ASI yang beberapa tahun terakhir saya temui atau iklan-iklan di televisi. Wajah ibu yang penuh senyum sambil menyusui sang bayi, menunjukkan ikatan kuat antara ibu dan anak. Pokoknya menyusui itu nikmat dan indah.

Bisa dibilang, sejak awal kelahiran Rasya, saya merasakan nikmatnya menyusui. Ketika perlekatan pertama Rasya, saat ia mulai pintar menyusu, sensasi mak-nyesss alias let down reflex, tatapan mata Rasya, juga ASI saya yang lancar jaya. Manajemen ASIP saya juga terbilang mudah karena setiap hari pada jam istirahat kerja saya bisa pulang dan menyusui langsung. Selama 6 bulan pertama, saya dan Rasya bisa lulus ASI eksklusif. Catatan kecil perlu saya selipkan di sini, ketika saya terserang demam berdarah dan harus dirawat di RS, Rasya sempat dua kali minum susu formula, tetapi untunglah tidak lama.

Setelah mulai MPASI, strategi menyusui pun berubah. Kini Rasya hanya mau ASI langsung dari gentongnya, sama sekali tidak mau ASIP. Saya pun jarang sekali memompa karena yang sudah-sudah pasti tidak terminum. Saya harus pintar mencuri waktu saat istirahat siang sehingga bisa pulang menyusui Rasya menjelang jam tidur siang.

Lucunya, semakin bertambah usia Rasya, semakin bermacam pula tingkah laku Rasya saat menyusui. Seperti kata Sazqueen tentang Gaya Menyusu Si Kecil, usia 7 -12 bulan anak mulai mudah teralihkan perhatiannya saat menyusu, begitu juga posisi menyusunya. Ya, Rasya pun demikian, sambil nongkrong/jongkok, posisi seperti Simba (ya, singa bernama Simba itu), sampai menarik puting hingga panjang (_ _)”

Nah, yang terakhir itu ternyata berbuntut panjang pada saya. Kemarin saya menyadari puting kiri saya terasa perih. Usut punya usut, ternyata itu akibat ditarik Rasya dan … tergigit! Seharian saya menahan rasa perih, tetapi tidak terlihat bekas lukanya. Sampai tadi pagi saat bangun tidur, saya menyadari bagian atas payudara kiri saya bengkak! Bengkaknya mirip dengan saat payudara terisi penuh, tetapi meski sudah disusui tetap kencang dan tegang. Pertolongan pertama, saya kompres dengan air hangat, ditambah dipijat pelan dengan baby oil.

Namun, bukannya membaik, kondisi saya malah drop. Sejak subuh badan saya menggigil tidak karuan. Pas matahari sudah nongol, saya resmi demam tinggi plus kepala super berat. Saya sampai tidak bisa bangun saking pusingnya. Jangan tanya bagaimana sakitnya payudara kiri, ampun!

Ternyata, beginilah tantangan menyusui bayi tanggung yang beranjak balita. Apalagi gigi Rasya bukan cuma baru tumbuh dua atau empat. Di usia 10 bulan, gigi Rasya sudah delapan! Pernah sekali puting digigit saat giginya baru empat, itu saja sakitnya luaaaaarrrr biasa, sampai speechless saking perihnya. Lha, ini digigit sedikit, langsung berjuta rasanya: panas dingin, ngilu sebadan, pusing, lemas, hingga menangis karena nyeri :'(

Jadilah saya meringis kesakitan sambil mengompres dengan air hangat. Sementara Rasya cuma cengar-cengir melihat saya yang menahan sakit. Akhirnya, setelah minum obat, demam saya turun, tinggal sedikit nyeri. Tetap kompres air hangat supaya bengkaknya berkurang. Sementara itu, saya tetap menyusui sambil bilang, “Rasya, mimiknya pelan-pelan, ya.” Eh tapi, habis bilang begitu, langsung aksi tarik-menarik kembali terjadi. Biasanya, sih, kalau sudah begitu saya tutup pabrik sebentar dan ingatkan Rasya supaya tidak menggigit. Ampuh? Entahlah, masih mencoba untuk cari cara lain.

Bagaimana dengan Mommies? Yuk, share pengalaman Mommies ketika menyusui si kecil yang sudah bergigi! ;)


27 Comments - Write a Comment

Post Comment