Mudik Ala Backpaker Bersama Si Kecil

Lebaran lalu, saya dan suami tidak bisa mudik ke Lampung. Maklum ketika lebaran, Aleisha baru berumur satu setengah bulan. Saya sih tidak masalah membawa Aleisha ke Lampung. Tapi macetnya itu yang nggak nguatin. Kebetulan juga ibu saya dari Sorong ingin lebaran dengan cucunya di Bekasi. Makanya lebaran haji, saya dan suami bela-belain pulang kampung. Aleisha, kan, belum ketemu sama keluarga besar suami di Lampung. Walaupun membawa Aleisha yang sekarang berumur empat bulan, kami putuskan ke Lampung dengan ngeteng. Wow! Tanpa koprol.

Bukan yang Pertama

Yup, episode mudik ke Lampung bukan perjalanan pertama Aleisha. Sejak masih di dalam perut, saya sudah mengajaknya berpetualang. Hamil tiga bulan, saya terpaksa loncat dari kereta ketika kereta yang ditumpangi mogok di tengah sawah. Hamil lima bulan, saya naik motor dengan suami dari Bekasi Timur ke Kranggan. Hamil tujuh bulan, plesiran ke Lampung. Sebulan sebelum melahirkan, saya jalan-jalan ke Bandung. Setelah lahir pun saya sudah mengajak Aleisha jalan-jalan. Padahal belum empat puluh hari. Walaupun saya tahu cuma mitos. Umur sebulan, saya mengajak Aleisha ke Blu Plasa untuk beli freezer. Umur satu setengah bulan, buka puasa di Metropolitan Mall. Umur dua bulan, jalan-jalan ke Mekar Sari dan Masjid Kubah Mas. Umur tiga bulan, main ke Bogor.

Ngeteng, Yuk!
Awalnya saya dan suami niat mudik naik travel. Supaya nggak repot. Tapi kemudian suami saya berubah pikiran. “Kalau naik travel, kita dijemput pertama. Belum ambil penumpang lain. Macet lagi,” katanya. Oh betul juga. Kami mudik pas hari kerja. Tahu sendiri Jakarta di kalau weekday. Namun ternyata bus yang kami inginkan berangkatnya malam. Saya tidak mau. Soalnya saya itu pelor. Takutnya lalai menjaga anak karena mengantuk. Di malam hari AC juga terasa lebih dingin. Akhirnya kami memutuskan ngeteng. Itu berarti kami harus berganti kendaraan lima kali. Dari rumah saya naik angkot Jatimulya – Terminal Bekasi, Bus Bekasi – Merak, Kapal Ro-Ro, Bus Bakauheni – Rajabasa (turun di Jalan Baru), dan terakhir angkot Jalan Baru – Way Lunik.

Hypno Dulu Ya, Nduk
Ketika memutuskan ngeteng, saya langsung meng-hypno Aleisha. “Nduk, Rabu kita ke rumah Eyang, ya. Kita naik bus besar. Lalu  naik kapal gede. Yang sehat ya, Nduk. Anteng. Kuat. Anak Bunda hebat.” Saya mengucapkannya berkali-kali selama seminggu. Sore sebelum berangkat, suami juga mengajak Aleisha bicara, “Besok kita jalan-jalan naik bus sama kapal. Maghrib bobo, ya. Biar bisa bangun pagi.” Kebetulan hari itu saya pulang malam karena meeting. Aleisha di rumah dengan ayahnya. Mama mertua yang sehari-hari menjaga Aleisha, sudah pulang duluan. Alhamdulillah Aleisha menurut. Jam delapan malam saya sampai rumah, dia tidur lelap. Paginya, jam empat, bangun dengan segar bugar.

Heboh di Perjalanan
Aleisha tampak riang diajak naik bus. Dia tidak mau duduk diam. Selalu meminta diberdirikan untuk melihat pemandangan di luar. Memang sejak lahir saya suka mengelus kakinya. “Ini kaki petualang, Nduk. Nanti anak Bunda yang pintar ini akan berpetualang ke seluruh dunia.” Mungkin karena itulah Aleisha senang diajak jalan-jalan. Bahkan semua orang yang di dekatnya selalu disapa dengan ocehannya. Dia akan tertawa terkekeh-kekeh bila ada pengamen di dekatnya. Kalau ketemu sesama anak kecil, dia ingin mendekati dan mengajak ngobrol. Aleisha hanya marah ketika lapar berat dan saya terlalu lama membuka gentong *hahahaha.

 

 

Ah, ternyata ga sulit, kok! Yuk, Moms, jangan takut mengajak anak jalan-jalan ala backpaker.


6 Comments - Write a Comment

Post Comment