Money Talks: Kapan Mulai Dana Pendidikan?

Financial Wellness

Reliza Arifiani・20 Nov 2012

detail-thumb

Mungkin Mommies sudah pernah melakukan survei kecil-kecilan atau membaca artikel daftar biaya masuk sekolah favorit di kota besar. Bagaimana perasaannya ketika mengetahuinya? Kaget? Ngeri? Atau malah biasa-biasa aja? Saya termasuk yang dalam kategori pertama dan kedua. Kaget, karena saya tidak menyangka bahwa biaya masuk sekolah anak menjadi sebegitu mahalnya. Ngeri, karena saya tidak tahu apakah saya dan suami mampu untuk memasukkan anak-anak kami di sekolah yang kami inginkan.

*gambar dari sini

Di situlah saya sangat menyadari pentingnya mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anak secepat mungkin. Perencanaan keuangan – untuk yang sudah berkeluarga – menempatkan dana pendidikan ini sebagai salah satu tujuan finansial dengan prioritas yang tinggi, sama pentingnya dengan dana darurat dan dana pensiun.  Alasannya adalah:

  • Begitu kita memiliki anak, maka, pendidikan pasti akan mengikuti berjalan dengan umur sang anak. Jika dana liburan bisa ditunda menjadi tahun depan, tapi kita tidak bisa memberhentikan anak kita untuk tidak masuk sekolah SD bukan? Atau mau menunda masuk sekolah anak kita tahun berikutnya dengan alasan tidak memiliki dananya? Rasanya sangat tidak adil buat si anak.
  • Inflasi dana pendidikan 2x lebih tinggi dibanding inflasi umum lainnya. Di Jakarta, inflasi dana pendidikan rata-rata adalah 20%, sedangkan inflasi umum yang rata-ratanya adalah 10%. Yuk, hitung kebutuhan dana pendidikan di sini.
  • Jadi, bagaimana sebenarnya mempersiapkan dana pendidikan? Beberapa hal berikut akan membantu rencana persiapan dana pendidikan  untuk anak-anak anda:

    1. Mulai sedini mungkin

    Sedini mungkin di sini artinya bisa saat ini juga – jika belum mempersiapkan – atau ketika sudah berkeluarga dan merencanakan untuk memiliki anak.  Semakin kita cepat memulai investasinya, maka semakin kecil jumlah investasi yang kita lakukan karena kita memiliki waktu yang lebih panjang dan bisa memilh produk dengan produk yang memiliki hasil imbal tinggi.

    Sebagai contoh, di tahun 2008, saya melakukan perencanaan dana pendidikan untuk anak pertama saya pada saat dia berumur 8 bulan sekaligus dengan dana pendidikan calon adiknya yang direncanakan lahir di tahun 2011. Investasi bulanan untuk dana pendidikan sang kakak lebih besar 1,5 kali dibandingkan dengan investasi bulanan untuk sang calon adik.

    2. Survei data sekolah

    Semakin banyak data yang kita miliki, maka semakin kita tahu range biaya yang harus kita keluarkan. Selain itu, kita pun lebih realistis dalam memilih sekolah yang akan kita tuju, disesuaikan dengan kemampuan berinvestasi kita sekarang.

    3. Memilih produk investasi yang sesuai

    Merencanakan investasi untuk tujuan apa pun – tidak terkecuali dana pendidikan – harus mempertimbangkan risk & return. Semakin sempit jangka waktu pencapaiannya, maka produk yang dipilih untuk memenuhi harus menggunakan produk dengan risiko yang relatif rendah. Namun, jika waktu pemakaiannya masih jauh, bisa digunakan produk dengan risiko yang relatif tinggi.  Contoh saja,  jika kita mempersiapkan uang SD anak kita untuk 3 tahun lagi, maka pilihan produknya adalah produk dengan hasil imbal rata-rata 5% per tahun, contohnya reksadana pasar uang. Tapi untuk dana kuliah yang masih dipakai 15 tahun lagi, maka pilihan produknya adalah yang memberikan hasil imbal rata-rata 25% per tahun, contohnya reksadana saham.

    So... time is running... segera rencanakan dana pendidikan untuk anak-anak, ya, Mommies!

    *Penulis, Reliza Arfiani (Icha- @relizakodri) adalah Planer di QM Financial. Icha menyelesaikan S1 di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia. Kemudian meneruskan S2 di International University of Japan di Niigata, Jepang.