Rumah Boneka Kayu Kesukaan Raysa Dari ELC

Waktu Raysa pertama kali mengutarakan keinginannya untuk memiliki rumah boneka kayu yang dia lihat waktu window shopping (well, sebenarnya judulnya lebih main kali, ya, kalau anak kecil), reaksi saya adalah complete rejection! Why? Yang ada di pikiran saya saat itu “What? Another expensive toys that she may or may not play with again in the next 6 months.” Menurut saya, sayang saja, kalau beli mainan mahal-mahal, terus dimainkannya hanya sebentar. Dan banyak, lho, mainan yang masuk dalam kategori tersebut. That is definitely not money well-spent.

Tapi kebetulan saat itu Raysa akan terima rapor, dan biasanya, waktu-waktu seperti inilah dimana Raysa memang minta mainan yang ‘besar’ sebagai reward, selain tentunya special occasion seperti ulang tahunnya. Tidak berhasil minta sama saya, akhirnya Raysa move on ke target berikutnya, from the grandparents (another rejection) to her dad which later on granted her wish.

Akhirnya setengah bersungut, setelah selesai liburan sekolah jadi juga Raysa membeli rumah boneka kayu  yang ternyata namanya Rosebud Village. Jujur saja waktu saya lihat mainan ini pertama kali, saya agak menggerutu, “Kok mainan kayu begini aja mahal sih!” Harga rumah boneka ini di atas 1,5 juta , hanya rumahnya saja! Belum termasuk isinya. Tapi kebetulan saat itu, ada promo beli rumahnya dan bisa dapat satu set Rosebud Family (bonekanya terdiri dari 5 orang atau 1 keluarga) dan 2 macam perabotan rumah. Kadang, kalau ELC sedang sale, baik rumahnya maupun isinya bisa didiskon sampai 30%.

Ternyata setelah lebih dari 1 tahun memiliki rumah boneka ini saya baru benar-benar menghargainya. Pertama, walaupun harganya mahal, mainan ini tidak cepat rusak. Bahkan, saat lantai kamar Raysa – yang dilapisi kayu – diserang rayap, rumah boneka ini sama sekali tidak tersentuh rayap. Pernah juga, karena masalah atap yang bocor jadi terkena percikkan air hujan, dan sama sekali tidak rusak. Tinggal saya lap saja.

Nah, tapi yang saya sangat heran, Raysa dari dulu sampai sekarang tidak pernah bosan sama mainan ini. Tidak selalu dimainkan, sih, tapi tidak juga lantas disingkirkan. Karena rumah boneka ini mengisinya harus satu-satu, jadi butuh proses sampai rumahnya terisi penuh semuanya (ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi, dll). Persis banget kayak proses bangun rumah, harus sabar menabung biar rumahnya ke isi semua. Buat Raysa, setiap ada ‘event‘ besar, dia akan minta hadiah perabotan rumah boneka ini. Selain mengajarkan dia bahwa tidak semuanya bisa dibeli sekaligus, hal ini juga mengajarkan Raysa untuk bersabar menunggu hadiahnya untuk mengisi rumah. Dan, akan selalu ada hal baru yang bisa di tambah di Rosebud Village ini. Setelah semua perabotan lengkap, ternyata ada tree house, cafe, florist, dan seterusnya. Untuk lihat koleksi lengkapnya, bisa dilihat di sini.

Hal lain yang saya suka adalah, ini mengajarkan Raysa untuk ‘menata’ rumah dalam skala kecil. Dan juga, bonekanya tidak terlihat sempurna. Saya tidak begitu suka dengan boneka yang terlihat terlalu cantik, pinggang kecil, dada montok dan rambut panjang. Itu seperti mengajarkan anak kecil bahwa image wanita sempurna hanya seperti itu. I don’t believe that there’s only one type of perfect woman, we’re all special in our very own special way.

Do I love this toy now? Oh, you bet! I’ve even become obsessed with it. Saya selalu cari-cari alasan buat membelikan Raysa item baru dari Rosebud Village kalau saya lihat ada yang baru di ELC.