Memilih Sekolah Yang Realistis

Bisa dibilang saya dan suami cukup cuek soal sekolah awal Igo. Bukan tidak peduli, lho, tapi kami memang tidak memikirkan sampai detail di mana Igo akan bersekolah TK. Lalu bagaimana kami tahu dana yang harus disiapkan kalau tidak tahu Igo akan dimasukkan kemana? Kami kira-kira saja, kemampuan kami adalah sekolah dengan dana sekian, jadi investasi kami difokuskan untuk pendidikan TK yang harganya masuk. Tidak sesuai dengan ajaran banyak perencana keuangan, tapi kemampuan kamilah yang berbicara. Harus realistis.

Tanpa terasa (klise banget tapi benar adanya) datang juga waktu bagi kami untuk mendaftarkan Igo masuk Kelompok Bermain. Awalnya suami mengusulkan supaya kami langsung memasukkan Igo ke Kelas A alias skip Kelompok Bermain, yang artinya Igo baru akan masuk tahun depan. Kami pun berdiskusi sambil memerhatikan kesiapan Igo. Dan akhirnya, setelah beberapa waktu observasi, kami menyimpulkan Igo sudah siap. Yay! PR selanjutnya adalah menjajaki beberapa pilihan sekolah. Kami ingin sekolah Igo letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Sederhana saja, supaya Igo tidak capek di jalan. Beruntung di dalam komplek perumahan kami ada area sekolah: TK, SD, dan SMP. Jaraknya hanya 1 km dari rumah. Melipirlah kami ke sana. Kebetulan sepupu saya yang paling kecil juga sekolah TK di sana jadi saya juga bisa mendapat informasi tambahan dari tante saya. Menurut beliau, untuk yang beraliran “konservatif” dan “cetakan lama”, TK tersebut cukup oke.

gambar dari sini

Waktu ke sana untuk survei, kami bertemu dengan Ibu Kepala Sekolah, yang ramah dan langsung mengajukan pertanyaan cukup #jleb, “Apa yang membuat Bapak dan Ibu yakin anaknya sudah siap?” Setelah kami jelaskan, beliau melanjutkan, “Bukan apa-apa, soalnya sekarang, tuh, banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya demi gengsi. Supaya tidak ketinggalan zaman, padahal anaknya belum tentu siap.” JRENG! Anyway, salah satu yang agak bikin sedikit parno adalah cerita dari teman-teman di kantor, yang lebih dulu menyekolahkan anaknya, di mana kebijakan tiap sekolah soal dana pendidikan itu berbeda-beda. Ada yang uang pangkalnya besar tapi mencakup beragam aktivitas sepanjang tahun ajaran, ada juga yang “nodong” di tengah tahun (biasanya membuat para ibu ketar-ketir, nih, hihi). Nah, untungnya TK pilihan kami ini sudah menjelaskan dari awal kalau jumlah sekian yang kami bayarkan di awal sudah termasuk beberapa kegiatan yang dijadwalkan dalam tahun ajaran berjalan. *lap keringat*

Saya akan coba share beberapa poin yang sebaiknya jadi pertimbangan orangtua saat memilih sekolah TK untuk anak:

-Lihat kemampuan dan minat anak. Kembali ke pertanyaan kepala sekolah TK Igo, apakah anak sudah siap sekolah? Kalau sudah, di Kelompok Bermain atau langsung masuk TK A?

-Lokasi sekolah. Ini, sih, “selera”, ya. Ada yang tidak masalah sekolah sedikit jauh dan kebetulan transportasi bukan kendala, tapi ada juga yang maunya dekat dengan alasan supaya antar-jemputnya gampang.

-Sesuai anggaran. Orangtua mana yang nggak mau anaknya sekolah di sekolah yang bagus? Tapi tetap harus realistis, sesuaikan dengan kemampuan. Tidak semua sekolah mahal itu bagus juga, lho, Mommies. Dan juga tidak perlu juga memikirkan gengsi, lebih penting mana … masuk ke sekolah di luar kemampuan tapi menaikkan gengsi lantas kebingungan di tengah jalan karena susah bayar atau masuk ke sekolah yang sesuai kemampuan tapi pendidikan anak terjamin sampai akhir masanya?

-Komunikasi sekolah-orangtua. Penting juga, nih. Apalagi untuk ibu yang bekerja kantoran seperti saya, saya perlu sekolah yang memudahkan saya memantau perkembangan Igo.

Kalau Mommies lain gimana? Apa saja yang jadi pertimbangan Mommies dalam memilih sekolah anak? 

 


30 Comments - Write a Comment

  1. nenglita

    Im with you!
    Poin pertama buat gue adalah jarak, kedua anggaran, sisanya baru yang lain. Jarak dekat tapi anggaran ga masuk, ya ga usah. Anggaran masuk, tapi jarak jauh, nggak juga. Makanya gue juga milih sekolah dekat rumah, kebetulan ternyata cukup oke dan banyak juga yang rumahnya jauh2 pada sekolah disini. Realistis itu penting, nggak hanya ikut2an trend sekolah bilingual, dst dsb tapi nggak cocok sama nilai diri kita atau keluarga, repot, ye..
    Selamat bersekolah, Igo!

    1. sanetya

      Soalnya sekarang banyak orangtua terjebak “sekolah mahal pasti bagus”, ya. Bela-belain masuk ke sana tapi hal lain banyak yang terbengkalai. Oke, ada investasi tapi namanya investasi juga harus realistis, kan, jumlah alokasinya. Hihihi.

  2. iya, setuju banget dengan postingan ini..oke mbak…:)yang pertama emang realistis sesuai kemampuan masing2 dari kita. kalo cuma ikut2an dan membuat kita jebol di kantong buat apa. sesuaikan juga dengan kondisi anak. jangan sampe krn gengsi memaksa anak sekolah di sekolah tertentu anak jadi stress. yang mau sekolah mamanya apa anak jadinya hehe…btw saya juga silent readernya blog mbak nih hehe..tks

  3. Pertimbangan memilih SD buat Cinta
    1.Jam sekolah sesuai dg situasi keluarga dimana saya bekerja sampai jam 5, dan hanya memiliki asisten yg kerja sore hari, jadi kami pilih SD yg masuk jam 8-15.
    2.Sabtu libur, karena weekend kami suka jalan-jalan.. :)
    3.Ada mobil antar jemput resmi dari sekolah, soalnya gak mungkin saya antar pagi sore dan gak mau juga sembarangan memilih jasa antar jemput
    4. Ada catering di sekolah karena gak sempat bikin bekal
    5. Guru-gurunya ramaaaah banget
    6. Lokasi sekolah tidak pinggir jalan raya

  4. Yup, kalau masih kecil, jarak penting tuh, kesian kecapean di jalan.
    nah untuk kelompok bermain, musti dicek lagi tuh, beneran kelompok bermain atau “kelompok belajar” terselubung, maksudnya, judulnya kelompok bermain, tapi anaknya dapet kerjaan yang ga seharusnya dikerjain anak seumuran itu.
    Belom lagi TK sekarang, udah pake ulangan umum segala, hadoh, stres deh anak TK, kasian, masih TK udah ulangan umum, gimana tar udah sekolah benerannya

      1. LKS itu Lembar Kerja Sekolah bukan? iya yah, iya kalo anaknya seneng ngewarna, kalo ngga, sami mawon, hehe
        Tapi ada tuh, anaknya temen, karena nyokapnya berprofesi sebagai penyanyi, anaknya dimasukkin ke sekolah TK yang base-nya musik, pas banget sekolahannya deket rumah, jadi enak anter jemputnya, terus anaknya juga ternyata seneng nyanyi, kalo kaya gini kan ankanya juga ga kesiksa:p

  5. Klo gw malah so far masi megang no school before Kindy. Soalnya suka liat yg pd PG malah susah adapt krn jadwalnya masi loncat2 gitu kan, dan ga sadar pas anak males bangun/brangkat ortu *gue sih, moga2 yg lain ngga ya :P* jg lebih permisif utk bolos krn “..toh masi PG belon sekolah beneran”.

    Nah klo TK udah enak dah rutin dan dah brasa wajib jg sekolahnya. Soal tugas2 & kurikulum calistung sih gw masi ok ya buat dikenalin di TK, asal ga ada target apalagi punishment.

  6. masalahnya para ibu kalo pas ketemuan suka kayak berlomba-lomba pamer kepintaran anak. ‘anak saya 5 thn udah lancar ngitung lho’, ‘anak saya 4 thn bacanya udah gape…’ nah jadi kayak persaingan sendiri, so, kalo ada anak yg belum begitu pinter (yg sebenarnya wajar mengingat usianya) ibunya jadi terkesan MEMAKSA anak untuk mempelajari sesuatu, padahal begitu kan kasian anaknya yah :)

Post Comment