Kisah Hidup dalam Sepotong Kemben

Waktu hamil, saya banyak membaca tentang atribut fashion khusus untuk ibu hamil yang bisa membantu agar tetap stylish. Di antaranya adalah bellaband dan ikat pinggang invisible yang membuat para bumil tetap bisa mengenakan celana normal, bukan celana khusus hamil. Untuk bellaband, metodenya simple, sih. Kancing celana dibuka, dan bellaband ini menahan celana agar tidak melorot dan menutupi gap yang disebabkan terbukanya kancing.

Saya mengetahui bellaband ini dari beberapa thread kehamilan yang ada di forum. Setelah saya mencarinya di Google, saya langsung dapat ide. Kenapa nggak saya gunakan kemben lama saya saja, ya? Lumayan, selain lebih irit karena nggak usah keluar uang, kemben lama ini jadi berfungsi, nggak hanya disimpan dalam lemari.

Kemben saya bisa dibilang sebagai saksi bisu (ceileh) kehidupan saya sebagai seorang perempuan dewasa. Pertama saya beli, kalau nggak salah waktu Mango menggelar sale tahunan. Saya tertarik membeli karena kemben ini bisa digunakan untuk dalaman jaket/blazer/kardigan atau dipakai begitu saja untuk clubbing dan bergaul. Agata (anak gaul Jakarta) gitu ceritanya, hahaha ….

Dan, ya, memang benar. Saat saya masih single dulu, kemben ini saya pakai untuk berbagai fungsi yang tadi saya sebutkan. Bahkan saat sahabat saya menikah dan saya jadi bridesmaid-nya, kemben ini saya pakai kala saya didandani oleh makeup artist. Lumayan kan saat harus pakai gaun bridesmaid, saya tinggal memelorotkan kembennya, tanpa merusak makeup dan hairdo.

Saat hamil, celana-celana lama saya masih bisa dipakai usia kehamilan empat bulan. Setelah itu, perut mulai terasa sesak. Maklum, saat hamil, tubuh saya lebih banyak membengkak dari pinggang ke atas. Jadi celana-celana lama masih muat di paha, tapi nggak bisa dikancing. Dan saya kurang suka dengan celana hamil karena biasanya potongannya kurang pas dengan bentuk badan saya. Langsung deh saya melirik kemben tercinta dan menjadikannya bellaband KW sebagai penahan celana.

Setelah melahirkan, kemben saya juga masih berfungsi sebagai penahan celana. Selain itu, saya sering menggunakannya sebagai dalaman baju. Ini berkaitan dengan saya yang kurang suka baju menyusui dan nursing apron.

Nah, kemben ini fungsinya oke banget. Saat menyusui Nadira, otomatis saya harus mengangkat baju ke atas. Lalu kemben diturunkan, dan hap, Nadira bisa menyusu. Perut saya pun tetap tertutup kemben, tidak merusak pemandangan hehehe.. Kemudian, kepala Nadira bisa ditutupi dengan sebagian kaos/baju yang saya angkat tadi. Oke, kan?

Saat ini, kemben andalan saya masih disimpan dalam lemari. Sesekali masih saya pakai, tapi lebih sering, sih, saya pandangi sambil mengingat-ingat masa lalu. Siapa yang menyangka sepotong kemben bisa memiliki sejarah begitu banyak?


13 Comments - Write a Comment

Post Comment