Melahirkan dengan Lotus Birth

Labor & Delivery

ketupatkartini・04 Jun 2012

detail-thumb

Saya cukup surprise ketika mengetahui sahabat saya, MM Diyan Hastarini melahirkan anak pertamanya –Seth Krishna- dengan ‘metode’ yang dikenal sebagai  Lotus Birth. Sekilas pernah mengetahui melalui metode ini, namun saya mencari lebih banyak, dan dari Diyanlah saya mendapatkan referensi di bidankita.com.

Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah membiarkan tali pusat yang tidak diklem dan  lahir  secara utuh (jadi setelah bayi lahir, tali pusat tidak dilakukan pengekleman dan setelah plasenta lahir, plasenta beserta tali pusatnya dibiarkan saja terhubung dengan bayi hingga nanti saatnya “puput”). Segera setelah bayi lahir ada sebuah proses fisiologis normal dalam perubahan Wharton's jelly yang menghasilkan pengkleman internal alami pada plasenta (sisi maternal) dalam 10-20 menit pascapersalinan.

Diyan memutuskan untuk melahirkan dengan Lotus Birth, setelah membaca buku Ibu Robin Lim yang berjudul ‘Placenta the Forgotten Cakra’. Tentu ini hasil dari memperkaya diri dengan sebanyak-banyaknya informasi selama kehamilan.  Dari situ, Diyan merasa lebih sreg untuk Lotus Birth supaya transisi bayi lahir ke dunia lebih lancar, tanpa banyak intervensi dan sekaligus sebagai bentuk terima kasih pada plasenta.

Semula ia berniat melahirkan di klinik ibu Robin di Ubud Bali. Namun ternyata, ada klinik di Klaten mempunyai cara pandang yang sama, yaitu klinik Bidan Kita. Prinsipnya sama, gentle birth. Yaitu memandang kelahiran adalah proses yang alami, tanpa banyak intervensi, sehingga minim trauma untuk bayi dan ibunya.

Prosesnya persalinannya, begitu bayi lahir, hanya dilap lembut dengan handuk, langsung diletakkan di dada ibu untuk IMD. IMD merangsang keluarnya oksitosin, hormon cinta yang merangsang kontraksi untuk kelahiran sang plasenta.

Di klinik bidankita apabila tidak diperlukan, tidak ada intervensi yang dilakukan ke bayi seperti suntikan vitamin K ataupun pembersihan dengan disedot. Mukosa/lapisan putih yang ada di tubuh bayi juga tidak dibersihkan, dibiarkan hingga diserap oleh tubuhnya, karena menurut beberapa literatur itu masih diperlukan oleh si bayi. Tidak langsung dimandikan, begitu selesai IMD bayi langsung dipakaikan baju dan melanjutkan bermesraan dengan ibu dan ayah. Betul-betul momen yang khusus untuk Diyan, suami, dan bayinya. Esok paginya baru dimandikan. Lagi-lagi menurut literatur juga baik jika ada jeda 6 jam setelah dilahirkan baru bayi dimandikan.

Masih menurut Diyan, efek baiknya dari penundaan pengkleman tali pusat adalah mengurangi risiko bayi anemia. Dan logikanya itu akan berlaku juga untuk bayi lotus birth. Menurut cerita ibu sesama lotus birth biasanya bayi sangat tenang. Sampai umur 2 bulan, Seth jarang sekali bangun lama atau nangis di malam hari. Buang airnya juga terjadwal sejak bayi, selang 2 jam sekali. Pas dengan jadwal menyusui. Sangat kooperatif.

Soal dibedong, Seth juga dibedong saat tidur malam atau saat udara sedang dingin saja. Meski masih terhubung dengan plasenta bisa juga kok dibedong. Bayi-bayi lotus birth biasanya juga puput lebih cepat. Untuk Seth, 4 hari sudah puput.

Perawatan plasentanya juga tidak susah. Pertama kali dibersihkan dengan air, diganti underpad-nya tiap habis mandi dan supaya tidak bau dan cepat kering ditaburi garam laut. Momen-momen sebelum puput benar-benar membuat takjub. Terlihat di foto tali pusatnya yang kering dan kaku seperti ranting, seakan mudah patah. Tapi ternyata meski dipegang dan ditarik-tarik oleh sang bayi, bila belum waktunya putus, tali pusat itu belum akan putus.

Bagi Diyan, pemilihan metode persalinannya ini bukanlah semata keputusan untuk kualitas ibu dan bayi yang lebih baik, namun merupakan sebuah hubungan yang indah dan komunikasi yang optimal dengan Seth, sejak ia masih dalam kandungan, sampai sekarang. Sehingga proses kehamilan, persalinan sampai masa tumbuh kembangnya  merupakan pengalaman yang indah dan sarat pembelajaran.

Tertarik untuk mencoba?

*gambar dari sini