Babymoon, What to do?

Setelah share persiapan babymoon bagi para bumil, saya sekarang cerita kegiatan apa saja yang saya lakukan selama babymoon.

O, ya, sebelum berangkat, jangan lupa persiapkan surat izin terbang dari obgyn, ya. Biasanya mereka semangat memberikan surat izin terbang, asalkan memang tidak ada komplikasi dalam kehamilan kita.

Mengenai izin terbang oleh maskapainya sendiri, ini berbeda-beda. Dengan AirAsia, saya mendapat perlakuan santai. Saat check-in, petugas tidak komentar apa-apa. Ketika boarding, pramugari bertanya apakah sudah isi form kehamilan saat check-in. Saya jawab, “Belum, sih.Tadi nggak dikasih, tapi saya punya surat dokter, kok.” Sang pramugari terlihat ingin melihat surat tersebut, tetapi karena penumpang ramai, saya dibiarkan berlalu. Santai, ya?

AirAsia konon memang tidak terlalu ‘meributkan’ penumpang hamil, tetapi saya dengar Lion Air jauh lebih strict. Beda maskapai, beda kebijakan, dan perlakuan. Pelajari saja lewat situs masing-masing, atau dari pengalaman para bumil di thread ini.

Yang penting, menurut saya, jangan pernah menyembunyikan kehamilan saat mau terbang. Beberapa orang melakukan ini (misal, dengan memakai baju gombrong), mungkin karena takut mendadak dilarang berangkat. Padahal menurut saya, kalau sampai ada apa-apa di udara dan staf maskapai tidak tahu atau tidak ada persiapan, bisa gawat!

Tapi beneran, deh, duduk di kursi pesawatnya yang kaku dan tegak itu sangat tidak nyaman untuk saya. Tidur dengan posisi apa pun gagal. Lesson learned, lain kali harus bawa bantal leher, dan kalau bisa bantal pengganjal punggung.

What Did We Do?
Wah, banyak! Padahal, seyogyanya bumil tuh jangan capek-capek ya saat liburan. Tetapi ya itu, saya nggak betah kalau hanya gegoleran seharian! Kami pun jalan kaki sampai gempor (baca: window shopping), lihat pantai, sampai ke Bali Bird Park segala, hihihi. Namun dari sekian aktivitas yang kami lakukan, berikut adalah yang ingin saya share.

Yoga
I think this was my most interesting experience, sekaligus my biggest mistake, hahaha.

Sebelum menikah, saya rajin banget yoga. Setelah menikah, saya absen sekian lama, dan baru kembali ikut prenatal yoga saat hamil ini.

Tahun lalu, saya sempat ke The Yoga Barn di Ubud. Intinya, The Yoga Barn adalah studio/komunitas yoga ‘profesional’. Dalam artian, mereka sangat menggali esensi spirituil yoga yang sebenarnya. Jadi, bukan jago-jagoan menekuk diri dan mengejar bakar lemak :)

I was very impressed with their classes and professionality, dan berniat harus kembali lagi.

Kebetulan, kami menghabiskan setengah dari babymoon ini di Ubud.

Karena hamil, kali ini saya berniat mengejar kelas-kelas mudah alias Beginner saja. Alhamdulillah, karena rutin prenatal yoga, saya jadi tahu gerakan apa saja yang harus dihindari. Jadi kalau nanti ada pose bahaya (telungkup, full twist, dll), saya akan inisiatif memodifikasi sendiri.

Tapi pada suatu pagi, saya nekat ikut kelas yang ada saja—Hatha Yoga, yang notabene adalah kelas Intermediate.

Saya mulai mencium bahaya ketika melihat instruktur hari itu: perempuan India paruh baya bergaris muka keras, dan berperawakan kecil namun kekar. Dijamin akan gahar!

Betul saja. Walau sang instruktur bilang kelas ini aman untuk si bayi—KALAU saya bisa memodifikasi sendiri gerakan-gerakannya—nyatanya Hatha Yoga versi beliau ini amat menantang. Jangankan saya, yang tidak hamil pun banyak yang menyerah di tengah jalan!

Gaya mengajar sang instruktur pun agak ‘ajaib’: Ia menutup mata sepanjang kelas, tanpa mengecek apakah postur muridnya ada yang salah, atau ada yang sudah pingsan. Mungkin karena kelas ini memang bukan soal ketepatan pose, tetapi soal penghayatan spiritual (setengah dari muridnya MENANGIS di awal kelas. Kultus apa ini?!)

Namun saya senang, sang instruktur masih ingat ada saya di antara 30 yogi lainnya. “Five months pregnant mama, TAKE A REST NOW!” begitu jeritnya (sambil menutup mata), setiap ia hendak memasuki pose sulit. Ah, she still remembers she has a pregnant yogi in the class :)

Therefore, half of the time, saya cuma duduk atau beristirahat di child pose, hihihi.

Selesai kelas, sebenarnya saya tidak kapok untuk ikut lagi, tetapi suami saya (yang juga ikutan) mengamuk karena khawatir dengan sang bayi. Alhasil, kelas Hatha Yoga tersebut menjadi kelas yoga pertama dan terakhir saya selama babymoon ini, hihihi.

Makan-Makan
Gara-gara sebelum berangkat bayi saya divonis agak underweight, saya berniat makan rakus selama liburan. Udara Bali yang panas membuat saya malas makan daging merah, tetapi saya memperbanyak asupan karbohidrat, ikan, buah, dan … dessert!

Karena hamil, kami tidak pernah makan di warung kaki lima yang diragukan kebersihannya. Namun toh sepanjang jalanan Bali, pilihan tempat makan sangat melimpah ruah, dengan berbagai pilihan menu dan harga.

O, ya, didorong oleh semangat culinary adventure, kami selalu makan di restoran yang belum pernah kami coba sebelumnya. Semuanya pengalaman baru. Seru juga!

Swimming Time!
Nggak di laut yaaa, hehehe. Kalau ada bumil yang jago dan PD berenang (bahkan snorkelling) di laut, saya sih nggak bisa melarang. Tapi kemampuan berenang saya memang dasarnya pas-pasan, sih, dan nggak berani ketampar-tampar ombak selama hamil, hehehe.

Saya memilih berenang di kolam renang sebuah beach club di Uluwatu, karena controlled-environment kolam renang terasa lebih aman untuk bumil daripada main ombak. Alhamdulillah, masih kuat ngider beberapa putaran, tetapi kemudian cuma sanggup jalan bolak-balik di dalam air, hehehe.

I recommend preggo moms to swim a lot, termasuk saat liburan, berhubung berenang adalah salah satu olahraga hamil yang sangat dianjurkan oleh para ahli. Nggak usah ambisius ala Michael Phelps, ya. Tendang-tendang air di pinggir kolam pun jadi. Lagipula, rasanya memang nikmat sih. Berat badan ‘gajah mini’ rasanya terangkat di dalam air!

Jangan lupa tabir suryanya, ya, Ibu-ibu. Jangan lupa pula pengolesan ulang setelah luntur karena air dan keringat.

Spa
Nah, ini dia nih agenda yang paling ditunggu!

Spa pertama kami adalah Sang Spa 2 di Ubud. Letaknya di pelosok, sehingga terlindung dari bisingnya jalan raya. Suasananya alami dan amat tradisionil. Saking alaminya, tidak ada AC, sehingga agak gerah. Tetapi terbantu dengan angin sepoi-sepoi, kok. Fasilitasnya lengkap dan cukup bersih. Asyiknya, mereka menyediakan transpor antar-jemput ke penginapan, gratis asalkan di Ubud!

Kami tidak memilih full-body treatment, karena sedang malas mandi lagi (pasti bakal lengket minyak dan rempah lulur, dong). Kami memilih pijat pundak-kaki saja, dengan asumsi hanya akan duduk di kursi, tanpa buka baju dan harus mandi.

Eeh, ternyata … kami tetap harus buka baju, dan berbaring di dipan. Akibat hamil, saya hanya bisa posisi telentang dan miring samping. Saya berpesan agar telapak kaki dan telapak tangan saya tidak dipijat, karena pemijatan titik-titik refleksi di syaraf bisa bahaya untuk ibu hamil. Terapis yang baik sih harusnya sudah tahu, ya, tetapi tidak ada salahnya untuk kembali mengingatkan.

Pengalaman spa kami yang kedua adalah di Glo Day Spa, saat kami sudah pindah ke Sanur.

Glo Day Spa ini adalah salon dan spa modern, yang dimiliki oleh seorang warga Australia. Interiornya putih, bersih, minimalis, dengan AC yang berhembus kencang. Mereka juga terima servis salon lho, seperti potong rambut, cuci-blow, makeup, meni-pedi dengan beragam merek internasional seperti OPI.

Kali ini saya memilih full-body treatment, yang terdiri dari pijat dan scrub dengan garam alami. Saya suka treatment room-nya yang putih bersih dengan pencahayaan remang-remang, serta kebersihan terapisnya yang sampai memakai surgeon mask. Oooh, saya juga suka guling besarnya yang disediakan untuk ibu hamil.

Pijatannya pun lebih menyeluruh daripada pijatan di Sang Spa 2, dalam artian, kedua sisi badan saya ter-cover dengan baik. Namun, astagaaa … pijatannya lembut sekali! Bagai ditiup angin sepoi-sepoi! Ketika saya minta agar lebih keras pun, sang terapis agak kaget dan ragu. Yaaa, sudah lah.

Gimana, seru kan, pengalaman babymoon saya? Siapa bilang bumil nggak bisa honeymoon?