Jangan Asal Mengancam

Ayo, lhooo … kalau makannya tidak habis nanti nasinya nangis!

Kalimat di atas ini adalah “motivasi” standar yang biasa saya dengar waktu kecil dulu. Eh, sekarang juga masih suka dengar deng. Apalagi di rumah yang memang ada generasi “dulu”. Biarpun sudah dikasih penjelasan mengenai dampak pembohongan ini sepertinya masih agak sulit mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun tersebut. Saya coba share beberapa poin mengenai metode asal ancam ini, ya:

Anak belajar bahwa bohong adalah hal wajar

Tanpa disadari, bohong sudah jadi budaya kita. Mau bukti? Coba ingat-ingat, deh, saat anak minta dibelikan sesuatu yang sulit dituruti biasanya orangtua sudah siap dengan 1001 alasan untuk menolak. Kalau anak keukeuh minta dan orangtua kehabisan kata-kata, biasanya kalimat ancamanlah yang lantas keluar. Seperti labirin, siklus omongan ini akan berputar terus, anak akan ingat kemudian menyimpulkan kalau orangtuanya sudah berbohong.

Anak jadi penakut

Ini terjadi pada keponakan saya. Dia mogok belajar matematika di kelas karena perawakan gurunya persis sama dengan Pakde yang dia takuti. Jadi tiap kali pelajaran matematika, dia pasti lari keluar kelas. Anak ini takut Pakde karena ibunya selalu membahasakan si Pakde sebagai sosok yang supersangar dan kalau anak ini “nakal”, ia diancam akan diadukan ke Pakde supaya dihukum. Atau kasus anak yang jadi takut gelap karena terbiasa mendengar, “Jangan main ke situ. Gelap, ada setannya!”

Anak jadi tidak terbiasa berpikir logis

Ada banyak contoh kenapa bicara dengan anak harus jujur. A bit tricky tapi harus dilakukan. Katakan saja alasan sebenarnya anak diminta untuk tidak main di ruang yang gelap: takut terantuk atau tersandung sesuatu dari pada berkata di ruang tersebut ada hantunya. Atau kenapa ia dilarang main di luar rumah saat hari beranjak malam, bukan karena “kalong wewe” bergentayangan tapi lebih kepada keamanan dirinya.

Anak meneruskan tradisi tidak sehat

Ya, menurut saya “tradisi” asal ancam ini sangat tidak sehat. Hanya solusi sementara dengan dampak yang panjang. Pada detik ancaman dilontarkan anak (mungkin) akan menuruti apa yang kita katakan, tapi setelahnya? Ancaman tersebut tidak memberikan solusi, malah menimbulkan masalah baru padahal larangan atau himbauan kita bermaksud baik. Dari yang saya perhatikan, kalimat asal ancam biasanya terlontar kalau orangtua merasa terpojok, misalnya frustrasi karena anak ngemut makanannya atau di saat orangtua malas menangani satu kondisi, misalnya malas menemani anak main di ruang sebelah (yang kebetulan gelap) jadi langsung sebut kunciannya: di sana ada setan.

Mendidik anak memang tidak mudah, butuh strategi andal supaya maksud kita sampai ke mereka. Tapi percayalah, asal ancam bukan cara yang baik.


35 Comments - Write a Comment

Post Comment